
batampos – Setelah puluhan jam proses identifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kepri akhirnya bisa mengidentikasi 10 korban. Seluruh korban kebakaran kapal MT Federal II yang terbakar di area galangan PT ASL Marine Shipyard, Tanjung Uncang, Rabu (15/10), berhasil dikenali melalui sidik jari, ciri medis, hingga profil gigi. Di balik kerja cepat itu, keluarga korban masih menanti kepastian tanggung jawab dari pihak perusahaan.
Kabid Dokkes Polda Kepri yang juga Ketua Tim DVI, drg. Muhammad Zakir mengatakan proses identifikasi berlangsung maraton sejak siang hingga dini hari. Proses DVI mulai pukul 13.00 hingga sekitar pukul 05.00 pagi.
“Alhamdulillah seluruh korban berhasil diidentifikasi tanpa harus melalui uji DNA,” ujarnya didampingi Karumkit RS Bhayangkara Batam, Kamis (16/10).
Tim DVI menggunakan berbagai pendekatan ilmiah untuk memastikan identitas korban, mulai dari sidik jari, kecocokan gigi, data medis, hingga properti pribadi.
Baca Juga: Satu Rumah, Dua Sertifikat, Eksekusi Rumah di Rosedale Batal
“Kondisi sebagian besar jenazah relatif sulit dikenali karena mengalami luka bakar akibat ledakan di kapal. Luka bakar yang kami temukan bervariasi, dari ringan hingga berat,” jelasnya.
Dalam operasi tersebut, tim berhasil memastikan identitas sepuluh korban yang seluruhnya adalah pekerja galangan. Mereka adalah Franki Protest Pane, Anton, Chandra Edi Saputra Pasaribu, Andi Haryono, Habibullah Siregar, Krisman Simatupang, Ramadhan Rizki Nasution, Maradong Tampubolon, Dimas Saputra, dan Idris Sadri.
“Proses identifikasi bisa rampung cepat karena dukungan penuh keluarga korban yang memberikan data antemortem seperti ciri fisik dan catatan medis. Tanpa itu, kami tentu membutuhkan waktu lebih lama,” kata Kabid Dokkes.
Setelah seluruh jenazah teridentifikasi, tim melakukan pemulasaran, pengawetan, hingga pemetian jenazah di RS Bhayangkara. Dua korban dimakamkan di Batam, sementara delapan lainnya dipulangkan ke daerah asal seperti Medan, Palembang, dan Pekanbaru. Proses serah terima jenazah dilakukan secara kolektif, disaksikan pihak keluarga dan perwakilan perusahaan.
Di antara korban, terdapat nama Maradong Tampubolon, warga Batuaji. Adiknya, Mando Tampubolon, menyampaikan bahwa keluarga mendapat kabar duka langsung dari perusahaan. “Kami dikabari dari pihak keluarga, bukan dari pihak luar. Istri almarhum tidak bisa ikut menjemput karena tidak kuat,” ujarnya pelan.
Maradong disebut baru bekerja di PT ASL sekitar empat hingga lima bulan terakhir. Ia dikenal sebagai pekerja yang tekun dan bertanggung jawab. “Baru beberapa bulan kerja, tapi dia rajin. Kami tidak menyangka akan kehilangan secepat ini,” kata Mando.
Istri almarhum, Erlis boru Siahaan, kini harus menanggung beban hidup seorang diri bersama dua anak kecil. “Saya tinggal sendiri, anak dua, masih butuh masa depan. Harapan saya, perusahaan bisa membantu dan bertanggung jawab,” ucapnya terbata-bata saat ditemui di RS Bhayangkara.
Baca Juga: Duit Negara Bocor Rp2,2 M karena Asuransi Bodong di PT Persero Batam, 4 Pejabat Ditetapkan Tersangka
Bagi keluarga korban, rasa kehilangan itu kini berubah menjadi harapan agar tragedi serupa tidak terulang lagi. “Kami hanya ingin keadilan. Suami saya sudah pergi, tapi semoga perusahaan tidak menutup mata,” tutur Erlis dengan mata sembab.
Mando menambahkan, perusahaan sejauh ini telah berjanji menanggung seluruh biaya pemakaman. “Pembicaraan masih sebatas penguburan. Semua dibiayai perusahaan,” katanya. Sementara itu, prosesi adat Batak akan digelar sebelum pemakaman di kampung halaman, Tamiang, Sumatra Utara.
Hingga kini, pihak PT ASL Marine Shipyard belum memberikan keterangan resmi terkait langkah tanggung jawab lebih lanjut terhadap keluarga korban. Namun informasi yang diterima, manajemen telah berkoordinasi dengan instansi terkait dan menyatakan kesiapannya memberikan santunan.
Peristiwa kebakaran kapal Federal II di area PT ASL Marine Shipyard itu menjadi tragedi terburuk dalam beberapa tahun terakhir di kawasan industri galangan Tanjung Uncang. Insiden yang terjadi sekitar pukul 09.00 WIB itu diduga berawal dari percikan api saat pekerjaan pengelasan di area tangki bahan bakar.
Ledakan hebat disusul kobaran api besar membuat para pekerja panik. Beberapa sempat menyelamatkan diri dengan melompat ke laut, namun sepuluh orang tidak sempat keluar. Seluruh korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di lokasi kejadian.
Kini, setelah proses identifikasi selesai, fokus penyelidikan beralih pada penyebab ledakan dan dugaan kelalaian prosedur keselamatan kerja. Tim gabungan dari kepolisian, BP Batam, dan Disnaker Kota Batam telah melakukan pemeriksaan lokasi dan memeriksa sejumlah saksi.
Kapolda Kepri Irjen Asep Sagrudin sebelumnya menegaskan, penyidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan. “Kami akan pastikan tidak ada yang ditutupi. Setiap unsur yang bertanggung jawab akan dimintai keterangan,” tegasnya. (*)
Reporter: Yashinta



