batampos – Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Batam terus berupaya menjaga kualitas infrastruktur jalan di kota ini meski dengan keterbatasan anggaran. Dengan panjang jalan mencapai lebih dari 1.200 kilometer, sebanyak 82 persen jalan di Batam dinyatakan dalam kondisi baik, sedangkan 18 persen atau sekitar 216 kilometer masih butuh perbaikan.
Kerusakan jalan yang cukup banyak ini bisa di lihat hampir di semua penjuru Kota Batam. Yang paling parah, mi-salnya di Jalan Raja M. Saleh Simpang Cikitsu dan Jalan Selasih Simpang KBC, lubang-lubang menganga di aspal menjadi momok bagi para pengendara.
“Sangat mengerikan jalannya. Apalagi kalau sudah malam hari. Bahaya. Nyawa taruhannya,” ujar Andi, warga Perumahan Botania Garden yang setiap hari harus melewati jalur itu untuk bekerja, Jumat (29/11).
Ia menceritakan bagaimana lubang-lubang besar dan dalam di jalan itu membuat perjalanan menjadi penuh kewaspadaan. “Kalau tidak hati-hati sudah pasti jatuh,” tambahnya.
Jalan mulai dari Simpang Sincom ke arah Kampung Air Batam Center pun masih banyak lobang. Bahkan di jalan protokol seperti ruas jalan R. Suprapto, Batuaji juga masih kategori banyak kerusakan.
Ruas jalan ini menjadi langganan macet, terutama saat jam sibuk pagi dan sore hari. Penyebabnya beragam, namun yang paling dominan adalah jalan rusak di beberapa titik. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memicu keluhan masya-rakat yang semakin meningkat.
Salah satu titik macet parah terjadi di turunan Bukit Daeng, tepatnya di sekitar u-turn dari arah Mukakuning menuju Batuaji. Setiap sore, terutama saat pekerja pulang, kemacetan panjang terjadi hingga malam hari. Jalan yang rusak membuat kendaraan harus melaju perlahan, menyebabkan penumpukan kendaraan dari tanjakan arah dam hingga ke bawah.
“Kerusakannya sudah sering diperbaiki, tapi hanya tambal sulam. Tidak bertahan lama, apalagi kalau hujan dan kendaraan berat lewat,” ujar Arlan, pengguna jalan. Ia menambahkan bahwa pelebaran jalan secara menyeluruh adalah solusi yang lebih efektif untuk mengatasi masalah ini.
Hal serupa terjadi di ruas jalan depan kawasan SP Plaza, Sagulung. Dua titik kerusakan di sekitar pusat perbelanjaan ini sering memicu kemacetan panjang. Aspal yang sebelumnya ditambal sulam kembali pecah, menciptakan jalan bergelombang dan berlubang. Kendaraan harus bergerak perlahan melewati area ini, menyebabkan antrean kendaraan yang me-ngular hingga ke depan Merapi Subur.

F. Cecep Mulyana/Batam Pos
Dari arah Batuaji, kondisi diperburuk oleh kendaraan angkot yang sering berhenti sembarangan di bawah jembatan penyebrangan orang (JPO) SP Plaza. Hal ini memperlambat arus lalu lintas, terutama saat sore dan malam hari.
“Butuh waktu lama untuk melewati kemacetan ini. Kalau hujan, makin parah,” keluh seorang pengemudi roda empat.
Kerusakan jalan juga menjadi pemandangan lazim di jalan menuju Pelabuhan Sagulung. Selama bertahun-tahun, jalan ini dipenuhi pecahan aspal dan lubang yang kerap mencelakakan pengendara. Meskipun masyarakat sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan melalui musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang), hingga kini belum ada langkah konkret.
Kondisi serupa terlihat di ruas Jalan Marina City dan Ahmad Dahlan yang menuju Tanjungriau. Lubang dan gelombang memenuhi jalan ini, membuat perjalanan semakin sulit dan berbahaya. Meski sering ditambal dengan semen, perbaikan sementara tersebut justru menciptakan jalan yang tidak rata dan menambah risiko bagi pengendara.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, mengakui keterbatasan anggaran untuk memperbaiki jalan secara permanen. Proyek pelebaran jalan lima lajur yang digagas Pemko Batam belum merata di wilayah Batuaji dan Sagulung, termasuk di titik-titik yang menjadi lokasi langganan macet.
“Untuk saat ini, penanganan jalan rusak masih sebatas tambal sulam yang dilakukan oleh BP Batam. Belum ada anggaran untuk melanjutkan proyek pelebaran jalan lima lajur di Batuaji dan Sagulung,” ujar Suhar saat dikonfirmasi.
Warga Batuaji dan Sagulung semakin berharap agar pemerintah segera mengalokasikan dana untuk perbaikan menyeluruh, bukan hanya tambal sulam. Mereka merasa bahwa perbaikan permanen adalah kebutuhan mendesak mengingat kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut yang terus meningkat.
Kemacetan tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi.
“Kami sering terlambat mengantar barang karena terjebak macet. Kalau begini terus, ekonomi masyarakat jadi terhambat,” kata seorang pengemudi truk logistik.
Di sisi lain, angkutan umum seperti angkot juga mendapat sorotan. Kebiasaan ngetem sembarangan tidak hanya memperburuk kemacetan, tetapi juga membahayakan keselamatan penumpang. Penegakan aturan lalu lintas di area tersebut dinilai masih kurang tegas.
Sementara itu, masyarakat Batuaji dan Sagulung hanya bisa berharap agar perbaikan segera dilakukan. “Kami i-ngin jalan yang mulus dan lancar. Tidak perlu mewah, yang penting bisa dilewati tanpa harus takut kena macet atau kecelakaan,” ungkap seorang warga dengan nada kesal.
Kepala DBMSDA Kota Batam, Suhar, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini fokus pada perbaikan jalan yang rusak dan pembenahan drainase untuk mengurangi genangan air. Menurutnya, genangan air adalah penyebab utama rusaknya jalan di Batam.
“Musuh utama jalan adalah air. Oleh karena itu, kami tidak hanya melakukan pemeliharaan jalan, tetapi juga membenahi saluran air dan draina-se di sejumlah wilayah. Dengan langkah ini, ketahanan aspal dapat lebih lama,” ujar Suhar.
Meski memiliki tanggung jawab besar, DBMSDA Batam menghadapi kendala anggaran yang terus menurun. Pada 2024, dinas ini hanya mendapat alokasi anggaran sebesar Rp140 miliar. Jumlah tersebut jauh lebih kecil diban-dingkan Rp190 miliar pada 2023 dan sekitar Rp300 miliar per tahun di masa sebelum-nya.
”Dengan panjang jalan yang setara dengan rute Jakarta ke Surabaya, anggaran yang kami dapat sangat terbatas. Ini menjadi tantangan bagi kami untuk memprioritaskan mana saja yang paling mendesak,” kata Suhar.
Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari gaji pegawai, operasional kantor, hingga pro-yek fisik seperti pemeliharaan dan pembangunan jalan. Salah satu program yang diupayakan oleh DBMSDA adalah overlay, yakni penambahan lapisan aspal untuk memperbaiki kondisi fungsional dan struktural jalan. Namun, proses ini membutuhkan biaya besar sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
“Melihat usia jalan, banyak yang sudah membutuhkan overlay. Kami usulkan anggarannya karena pekerjaan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk pengaspalan ulang pada ruas-ruas jalan yang kritis,” ungkap Suhar.
Suhar menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan jalan baru dan peningkatan kualitas jalan lama. Langkah ini diperlukan untuk memastikan seluruh ruas jalan di Batam dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
”Jalan baru terus kami tambah, tetapi kualitas jalan lama juga harus ditingkatkan. Dengan langkah ini, kami berharap kemantapan jalan bisa meningkat dari 82 persen menjadi 83 persen, atau bah-kan mencapai 100 persen secara bertahap,” jelasnya.
Untuk mendukung program pemeliharaan jalan, DBMSDA membuka pintu bagi masya-rakat untuk melaporkan kondisi jalan rusak di lingkungan mereka. Laporan tersebut dapat disampaikan langsung ke dinas atau melalui media seperti WhatsApp.
”Setiap hari kami memantau dan melakukan pemeliharaan sesuai prioritas. Jika ada laporan dari masyarakat, kami upayakan segera ditindak-lanjuti,” ujar Kepala Bidang Bina Marga, Dohar Hasibuan.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, DBMSDA Batam berharap kualitas jalan di kota ini dapat terus meningkat, mendukung aktivitas masya-rakat, dan memperkuat konektivitas antarwilayah. Meski tantangan anggaran menjadi kendala, komitmen untuk menjaga infrastruktur jalan tetap menjadi prioritas utama.
”Pembangunan jalan adalah investasi jangka panjang. Kami akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan jalan di Batam lebih baik dan tahan lama,” tutup Suhar.
Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Muhammad Rudi, mendesak Dinas Bina Marga Kota Batam untuk bisa menuntaskan proyek pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur jalan serta pemasangan lampu penerangan jalan umum (PJU) yang hingga kini belum selesai. Menurut politisi dari fraksi Gerindra penyelesaian proyek ini mesti sesuai jadwal target yang telah ditetapkan.
Pihaknya meminta agar proyek-proyek yang belum tuntas ini dapat diselesaikan tahun ini. Jika tidak, anggaran harus dikembalikan, dan proyek baru bisa dilanjutkan pada tahun 2025.
“Kami terus mendorong percepatan penyelesaian persoalan jalan rusak di Kota Batam, terutama pada triwulan ketiga. Sayangnya, masih ada yang belum selesai,” ujar Muhammad Rudi, Selasa (10/12).
Menurut Rudi, kendala uta-ma dalam penyelesaian pro-yek ini adalah faktor cuaca, sebagaimana diungkapkan oleh Dinas Bina Marga dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPRD Batam. “Meski demikian, jalan-jalan yang sudah sempat ditambal tetap menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Lebih lanjut, Muhammad Rudi menyampaikan bahwa jika proyek tidak selesai tahun ini, anggarannya akan dimasukkan kembali ke rencana kerja tahun 2025. Pada tahun tersebut, DPRD akan berkoordinasi dengan Wali Kota Batam yang baru terpilih untuk memastikan semua proyek berjalan sesuai rencana.
“Iya termasuk pencegahan pencurian aset milik pemerintah daerah dan perlu didudukkan bersama lagi,” kata dia.
Menurutnya di Kota Batam membutuhkan sarana pendukung seperti kamera CCTv untuk mengawasi aset daerah. DPRD hanya berperan dalam penganggaran dan pengawasan, sedangkan pelaksanaan menjadi tanggung jawab pemerintah kota.
“Kami ingin memastikan pengelolaan aset daerah berjalan maksimal,” ujarnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan upaya peningkatan infrastruktur jalan dan penerangan di Batam dapat segera terwujud demi kenyamanan masyarakat. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra / Azis Maulana / Yofi Yuhendri / Eusebius Sara



