Minggu, 25 Januari 2026

3 Wilayah Hinterland di Batam Dialiri SPAM Tahun Ini, Gunakan Pipa Bawah Laut

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Foto: INT

batampos – Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota (CKTR) Batam Suhar menyebutkan, pada tahun 2023 ini pihaknya menambah pemasangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di tiga wilayah hinterland. Ketiga wilayah itu ialah SPAM Sembulang, SPAM Pulau Muan serta SPAM Pulau Seraya Batu Legong.

“Tahun ini ada 3 lokasi SPAM yang kita tambah,” ujarnya, Selasa (7/2).

Menurut Suhar, sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2021-2024, sebanyak 54 persen wilayah hinterland di Batam sudah teraliri air bersih. Target ini akan diprediksi tercapai, mengingat pencapaian SPAM saat ini di hinterland Batam sudah mencapai angka 49 persen.

“Sampai 31 Desember 2022 berada di angka 49 persen untuk keseluruhan wilayah hinterland,” tambahnya.

Baca Juga: Rencana Pembangunan LRT di Batam Mulai 2024, Ini Rutenya

Suhar menambahkan, tidak semua pulau di hinterland memiliki sumber air baku yang bisa diolah untuk menjadi air bersih. Sehingga ada namanya interkoneksi antar pulau, dimana akan dipasang pipa besar di bawah laut dari pulau terdekat yang memiliki sumber air baku bersih.

“Sudah banyak yang kita pakai pipa bawah laut ini karena memang tak ada pilihan lain. Sebagai contoh yang sudah dipasang di Pulau Panjang. Kontruksinya juga lebih mahal karena kita memasang pipa di bawah laut,” sebut Suhar.

Selanjutnya kesulitan pemasangan spam ini adalah ketika di wilayah tersebut tidak memiliki air baku bersih dan juga tidak ada pulau terdekat yang bisa dipasang pipa interkoneksi. Upaya yang dilakukan kata Suhar adalah dengan mengolah air laut menjadi air bersih dan ini sudah dilakukan di sejumlah wilayah di hinterland seperti Kecamatan Belakangpadang.

Baca Juga: Lelang Mobil dan Barang Elektronik Laris Manis, Ini Harga Tertinggi

Berbeda dengan pipa interkoneksi, pengolahan air laut menjadi air bersih disebut biayanya lebih tinggi lagi. Suhar menyebutkan, satu SWRO untuk kapasitas 5 detik per kubik dikisaran Rp 18 miliar dan ini belum termasuk jaringannya.

“Itu baru bangunan dan mesin pengolahan. Kita pakai alternatif ini karena memang tidak ada pilihan lain,” ungkapnya. (*)

 

Reporter : Rengga Yuliandra

Update