Selasa, 13 Januari 2026

57 PMI Kembali Dideportasi dari Malaysia, Beberapa Diantaranya Ingin Kembali ke Malaysia

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Sebanyak 57 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dideportasi dari Malaysia dan tiba di Pelabuhan Internasional Batam Center, Jumat (14/3).

batampos – Sebanyak 57 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dideportasi dari Malaysia dan tiba di Pelabuhan Internasional Batam Center pada Jumat (14/3) sekitar pukul 15.30 WIB. Mereka dipulangkan melalui jalur laut dari Pelabuhan Stulang Laut, Malaysia, karena menyalahi aturan administrasi keimigrasian.

Para PMI yang dideportasi terdiri atas 18 perempuan dan 39 laki-laki. Setibanya di Batam, mereka langsung dibawa ke selter Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau untuk menjalani pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Sebagian para PMI yang dideportasi hanya berpakaian celana pendek dan kaos serta sendal jepit. Hal itu karena para mereka baru keluar dari tahanan Malaysia kemudian langsung di bawa ke Pelabhhan untuk di deportasi

Petugas BP3MI Kepri, Indra, mengungkapkan bahwa para PMI ini dipulangkan langsung dari rumah detensi Malaysia tanpa melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Hal tersebut terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.

“Kalau mereka memakai kaus dan celana pendek, biasanya itu tanda bahwa mereka langsung dideportasi dari rumah detensi ke pelabuhan tanpa singgah di KBRI terlebih dahulu,” ujarnya.

BP3MI bersama KBRI memberikan pendampingan kepada para PMI selama proses pemulangan. Indra menegaskan bahwa seluruh PMI dalam kondisi sehat saat tiba di Batam.

“ Sebelum dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, mereka akan didata untuk memastikan penyebab deportasi,” sebut Indra.

Dikatakannya, mayoritas PMI yang dideportasi ini tidak memiliki izin tinggal yang sah di Malaysia. Karena itu mereka diamankan oleh otoritas setempat sebelum akhirnya dikembalikan ke Indonesia.

“Setelah ditahan di sana, mereka kemudian dideportasi ke Indonesia,” jelasnya.

Menariknya, beberapa PMI yang dideportasi mengaku tidak merasa trauma dan tetap berencana kembali ke Malaysia. Alasannya, mereka menilai penghasilan di negara tersebut jauh lebih besar dibandingkan di Indonesia.

“Rencana balik lagi, karena gaji disana besar. Di Indonesia kami tak jadi apa-apa,” imbuhnya. (*)

Reporter: Yashinta

Update