Jumat, 24 Mei 2024
spot_img

899 Anak Masih Alami Stunting, Pemko Batam Mantapkan Program Pengentasan

Berita Terkait

spot_img
stunting
Ilustrasi stunting. Foto: JawaPos.com

batampos – Pemerintah Kota Batam terus mengoptimalkan upaya menekan angka stunting pada anak di Kota Batam.

Menurut data EPPGM dari Posyandu Prevalensi Stunting Batam Tahun 2023 adalah 1,72 persen yaitu 1.022 anak stunting. Data terbaru menyebutkan, sampai dengan bulan Februari 2024 angka stunting di Batam 1,5 persen menurun menjadi 899 anak.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Jefridin Hamid mengatakan kondisi perkembangan kasus stunting di Batam terus mendapat perhatian daerah.

Baca Juga: Debu Pabrik Berkurang, Warga Masih Khawatir dengan Serangan Penyakit Gatal-gatal

Pengentasan stunting menjadi salah satu prioritas yang dilakukan saat ini. Salah satunya dengan mempererat sinergitas mulai dari BKKBN, hingga pengusaha di Batam.

“Stunting ini masih jadi persiapan yang belum tuntas. Pentingnya edukasi dalam mempersiapkan kelahiran harus dimantapkan kembali,” kata dia, Rabu (24/4).

Jefridin menyampaikan penyebab stunting paling utama adalah pemenuhan gizi anak. Faktor lain juga bisa menjadi penyebab di antaranya sanitasi yang kurang baik, hingga ketidaksiapan ibu dari mulai hamil.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Ia mengatakan bahwa stunting menjadi perhatian Presiden karena angka stunting Indonesia masih cukup tinggi. Menurut Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), tahun 2022 angka stunting Indonesia 21,6 persen. Di Kota Batam angka stunting menurut SSSGI tahun 2022 15,2 persen.

“Melalui rembuk stunting kami berharap edukasi hingga ke calon pasangan pengantin dimatangkan dan dioptimalkan. Sehingga calon orangtua bisa mempersiapkan kelahiran dengan baik,” ungkap Jefridin.

Baca Juga: RSUD Embung Fatimah Tangani 15 Pasien DBD, Satu Pasien Meninggal Dunia

Rembuk Stunting dilaksanakan untuk musyawarah penyusunan perencanaan pencegahan penurunan stunting pada tahun 2025.

“Melalui rembuk stunting ini saya harap lakukan perencanaan dan hitung anggaran yang dibutuhkan untuk pencegahan stunting ini. Pengentasan dimulai dari menyediakan anggaran, penyusunan program. Kalau anggaran tidak cukup, kita bisa berkolaborasi dengan pengusaha yang memang sudah konsen dalam program bapak asuh khususnya stunting,” bebernya.

Jefridin menambahkan sinergi dalam pencegahan dan penanggulangan stunting sangat penting. Pemko Batam tidak bisa bekerja sendiri, sehingga Prevelensi Stunting di Kota Batam menjadi zero Stunting,” harapnya.

Selain itu, ia ingin mendorong ekonomi keluarga di Batam bisa terus membaik. Faktor ekonomi keluarga juga berpengaruh pada pemenuhan gizi anak.

“Kalau ekonomi cukup, bisa dipastikan pemenuhan gizi terpenuhi. Meskipun ada bantuan dari pemerintah, namun peningkatan ekonomi keluarga juga terus kami dorong,” ucapnya.

Jefridin menambahkan faktor penyebab stunting ini bisa juga disebabkan ketersediaan air bersih, sarana dan prasaran hidup layak dan sehat, hingga sanitasi keluarga.

“Pemko Batam melalui dinas terkait berupaya mengentaskan kawasan kumuh melalui program penataan sanitasi di kawasan tertentu. Harapannya faktor penyebab stunting ini bisa di minimalisir,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Yulitavia

spot_img

Update