Sabtu, 10 Januari 2026

Air Mata di Rumah Blok A3: “Bapak Pulang dalam Selimut, Bukan Senyuman”

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Keluarga Elis ketika berada di kamar jenazah RS Mutiara Aini. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

Kepergian Maradong Tampubolon tinggalkan luka mendalam bagi keluarga kecilnya di Batuaji, tragedi MT Federal II yang mengubah hidup, dan menuntut keadilan yang belum pasti datang.

Reporter: Eusebius Sara

batampos – Sore itu, angin bertiup pelan di Perumahan MKP, Blok A3. Langit mendung, seperti ikut berduka. Di dalam rumah nomor 06, duka menyelimuti ruang tamu yang dipenuhi isak tangis. Foto pria paruh baya berpakaian kerja dipajang di dinding, dikelilingi wajah-wajah yang kehilangan.

Ia adalah Maradong Tampubolon, satu dari tiga belas korban tewas dalam tragedi ledakan kapal MT Federal II di galangan kapal PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, Batam, Rabu (15/10).

Di ruang itu, Elis (52), sang istri, duduk memeluk dua anaknya. Wajahnya sembab. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar saat menceritakan detik-detik terakhir sebelum semuanya berubah.

Baca Juga: Penyelidikan Kebakaran MT Federal II, 22 Saksi Diperiksa, 13 Tewas, Polisi Dalami Unsur Kelalaian

“Biasanya jam enam sore bapak sudah sampai. Hari itu, sampai lewat jam sembilan, belum juga pulang,” ucapnya lirih.

Kekhawatirannya berubah jadi kenyataan saat telepon masuk, menyuruhnya datang ke RS Mutiara Aini. Di sana, tubuh Maradong sudah terbujur kaku. Wajahnya gosong. Tak perlu bertanya, Elis tahu itu suaminya.

“Saya buka selimut itu, dan anak saya langsung histeris. Itu bapaknya. Tak salah lagi.” ujarnya.

Maradong, 56 tahun, baru bekerja lima bulan di proyek kapal MT Federal II. Ia dibawa oleh subkontraktor PT Rotary, dan seperti kebanyakan pekerja galangan, ia tak punya jaminan. Tapi itu tak membuatnya gentar.

“Apa saja bapak kerjakan. Gali parit pun mau. Yang penting halal,” ujar Elis.

Kerabat dan tetangga mengenalnya sebagai pribadi yang hangat, ringan tangan, dan tidak pernah mengeluh meski lelah. Mama Gabriel, saudara dekat Elis, menggambarkan Maradong sebagai figur yang membuat orang merasa aman.

“Kalau datang ke rumahnya, disuruh makan dulu. Tapi dia sendiri nggak mau makan sebelum kita makan,” kenangnya dengan suara bergetar.

Di rumah itu, Maradong adalah tiang. Kini, tiang itu patah.

Kematian Maradong bukan sekadar duka, itu adalah kehilangan yang dalam, dan juga jeritan akan keadilan. Elis masih menunggu, berharap ada kejelasan dari pihak berwenang.

“Kalau memang ada yang lalai, harus bertanggung jawab. Jangan sampai ada keluarga lain yang kehilangan seperti kami,” katanya.

Polresta Barelang menyatakan tengah menyelidiki kasus ini, dan telah memeriksa 22 saksi serta melibatkan Tim Puslabfor dari Pekanbaru. Namun bagi keluarga korban, proses itu belum cukup menenangkan luka.

Anak-anak Maradong masih terdiam. Mereka hanya menatap foto sang ayah di dinding. Setiap kali pintu terbuka, Elis masih menoleh, seperti berharap suaminya masuk tersenyum, membawa kabar pulang dari tempat kerja.

“Dibilang sabar, ya sabar, tapi hati ini nggak sanggup. Tiap lihat anak-anak, saya ingat bapak.” katanya lirih.

Batam terus membangun. Kapal dibangun dan diperbaiki setiap hari. Tapi di balik gemuruh mesin, ada rumah-rumah sederhana seperti milik Elis, yang diam-diam menanggung luka paling dalam dari sebuah industri yang kadang lupa pada manusianya.

“Kalau bapak memang harus pergi, kami ikhlas. Tapi jangan ada lagi bapak-bapak lain yang pulang dalam selimut,” ucap Elis.

Malam tiba di Bukit Tempayan. Rumah-rumah mulai menyalakan lampu. Tapi di Blok A3 Nomor 06, terang tak sepenuhnya mengusir gelap. Di sana, duka tinggal sementara, entah sampai kapan. (*)

Update