
batampos- Krisis tenaga las kapal atau welder untuk perusahaan galangan kapal di kota Batam terjadi sejak tahun 2022 lalu. Pengusaha galangan kapal kesulitan mendapatkan welder yang sesuai dengan spesifikasi untuk galangan kapal. Krisis tenaga welder ini masih terjadi hingga saat ini.
Berbagai sumber menyebutkan krisis tenaga welder ini dipicu oleh upah yang tidak sesuai. Welder profesional untuk galangan kapal banyak yang memilih beralih profesi yang lebih menggiurkan ataupun bekerja di luar negeri karena upah di sana lebih besar.
BACA JUGA:Ini Jumlah Ideal Tenaga Welder di Tiap Galangan Kapal
Suhardi, mantan welder di salah satu perusahaan galangan kapal di Tanjunguncang yang saat ini berprofesi sebagai tukang teralis rumah mengaku, tak mau lagi menerima tawaran di galangan kapal karena upah yang dia terima tidak seimbang dengan skill dan tenaga yang dia kerjakan. Tenaga welder galangan kapal di Batam saat ini digaji sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per jam sesuai kelas klasifikasi kemampuan yang dimilikinya. Upah ini berbeda berkali lipat dengan upah tenaga welder di luar negeri yang dalam sebulan paling sedikit bisa digaji Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.
“Upah di sini terlalu kecil. Tidak sesuai dengan skill dan tenaga yang kita kerjakan. Dibandingkan dengan luar negeri bisa sepuluh kali lipat selisihnya. Makanya orang pada keluar negeri sekalipun harus melalui penyalur yang ada banyak potongannya ketimbang kerja di sini. Saya sendiri sudah nyaman dengan usaha teralis seperti ini,” ujar pria yang berdiam di wilayah Marina tersebut.
Untuk upah welder di Batam sepengetahuan dia maksimal diangka Rp 30 ribu perjam dan itu pun bagi welder yang memiliki skill diatas kelas 4 G.
“Kalau istilah welder itu sudah bisa semuanya. Kan dalam kelas welder galangan ini ada 2 G, 3 G dan 4 G. 2 G itu untuk yang bisa las normal dan vertikal, 3 G bisa las normal vertikal dan horizontal dan 4 G bisa normal, vertikal, horizontal dan over head. Jadi kalau masih 2G, 3G dan 4G paling mentok di Rp 25 ribu per jam,” terang Suhardi.
Ketua DPD FSP LEM SPSI Provinsi Kepri Saiful Badri sebelumnya juga menyampaikan hal yang sama. Krisis tenaga welder yang terjadi karena upah yang terlalu rendah. Tukang welder akhirnya memilih ke luar negeri atau beralih profesi. “Permasalahannya upah yang rendah. Kalau upah sesuai tentu mereka akan bertahan. Jauh perbedaannya dengan luar negeri,” kata Saiful.
Ketua DPP Iperindo Anita Puji Utami tidak menampik persoalan upah yang rendah itu. Dia dan anggota Iperdindo se Indonesia kini tengah merumuskan kembali tarif pembuatan kapal yang dinilai terlalu rendah selama ini sehingga bisa meningkatkan upah pekerja di lapangan. (*)
reporter: eusebius sara



