
batampos – Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyoroti persoalan banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Batam saat menghadiri sebuah acara di Kawasan KDA, Selasa (6/5).
Dalam pidatonya, Amsakar mengatakan bahwa penanganan banjir menjadi tantangan berat yang tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Selain persoalan kerusakan lingkungan, pembangunan infrastruktur seperti pelebaran jalan juga mempengaruhi sistem drainase.
“Ini kerja berat. Ada bongkar lahan, hutannya tak ada lagi, kalau hujan langsung air meluncur,” katanya.
Baca Juga: Lapor Pak, Banjir Rendam SMPN 28 Batam, Seluruh Ruangan Lantai 1 Terdampak
Menurut Amsakar, BP Batam telah bekerja keras merumuskan solusi jangka panjang, termasuk pembenahan sistem drainase di kiri dan kanan jalan. Akan tetapi, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama.
“Pitinya (biayanya) besar. APBD sesak nafas. Jadi kami kejar pihak kementerian supaya membantu,” katanya.
Ia juga mengkritik pemanfaatan lahan yang keliru di Batam, seperti penutupan DAM dan pemotongan bukit, yang memperparah kerentanan terhadap banjir. Pemberian izin lahan ke depan harus berdasarkan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang ketat.
“Kalau kita berikan lahan, harus sesuai dengan Amdal. Kita upayakan agar air tidak langsung meluncur ke jalan. Pembenahan ini bukan hal ringan dan membutuhkan kerja lintas sektor serta dukungan anggaran yang besar,” ujar dia.
Menolak menyalahkan masa lalu, dia lebih ingin fokus pada solusi masa kini dan masa depan. “Saya tidak mau meletakkan persoalan kepada cerita masa lalu. Ini risiko atas pilihan yang kita ambil, dan kita terima konsekuensinya,” tambahnya.
Dengan nada humor, ia menggambarkan beban kerja yang kini jauh lebih padat. “Dulu saya masih sempat main domino, sekarang tak ada waktu. Sampai harus bawa koper berisi surat dari Pemko dan BP ke rumah,” katanya yang disambut gelak tawa warga.
Dalam wawancara lanjutan, Amsakar menyebut banjir kali ini terjadi hampir merata di seluruh kecamatan, bahkan berdampak ke kantor-kantor pemerintahan dan sekolah. Ia telah meminta para camat dan lurah untuk segera menginventarisasi titik-titik krusial.
“Yang bisa kita lakukan sekarang adalah normalisasi. Penyelesaian permanen belum dimungkinkan karena butuh biaya besar,” katanya.
Solusi banjir tidak cukup hanya mengandalkan pompa air. Reboisasi, pembangunan drainase, dan sistem tata air terpadu harus dilakukan secara simultan. Menurutnya, solusi komprehensif harus dikejar bersama dan tidak bisa hanya bertumpu pada satu metode teknis.
“Pompa saja tak kuat. Hujan 3 jam saja, kita bisa berenang di Batam. Debit air sangat besar. Untuk pendalamannya, awak (kamu) tanya sama Suhar (Kepala DBM-SDA) aja lah, ya,” katanya. (*)
Reporter: Arjuna



