Jumat, 9 Januari 2026

Amsakar Akui Tantangan Pengangguran Batam: Usia Produktif Tinggi, Investasi Padat Modal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad.

batampos – Meski tren Tigkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Batam menurun selama empat tahun terakhir, kota industri ini tetap mencatat angka tertinggi di Provinsi Kepri. Berdasarkan data per Februari 2024, TPT Batam berada di angka 7,68 persen, lebih tinggi dari rata-rata provinsi yang mencapai 6,89 persen, menempatkan Kepri di urutan kedua tertinggi nasional setelah Papua.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengakui kondisi tersebut sekaligus menjelaskan sejumlah faktor yang membuat penurunan angka pengangguran di Batam berjalan lambat dibanding daerah lain di Kepri.

Menurut Amsakar, salah satu penyebab utama tingginya angka pengangguran di Batam adalah arus migrasi yang tinggi. Kota ini masih menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia karena reputasinya sebagai kawasan industri dan investasi.

“Populasi penduduk Batam yang menggelembung pada usia produktif belum cukup kuat untuk langsung diterima di bursa kerja. Arus migrasi tinggi, sementara kemampuan tenaga kerja lokal belum semua sesuai kebutuhan industri,” katanya, Minggu (12/10).

Baca Juga: Pemerhati Lingkungan: Daur Ulang Limbah Elektronik di Batam Aman Jika Dikelola Sesuai Standar Lingkungan

Ia menjelaskan, sekitar 67-68 persen penduduk Batam saat ini berada pada kelompok usia produktif. Akan tetapi, banyak di antaranya merupakan lulusan SMA yang dinilai belum cukup kompetitif untuk bersaing di pasar kerja yang semakin spesifik dan berbasis keahlian.

“Struktur kependudukan Batam itu dominan usia produktif, tapi banyak di antara mereka yang belum memiliki keterampilan yang link dengan kebutuhan pasar kerja,” kata dia.

Lalu, ada kesenjangan dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang menjadi persoalan utama. Serapan tenaga kerja untuk posisi operator dan pekerja kasar relatif tidak mengalami kendala, namun untuk posisi yang membutuhkan keterampilan khusus, tingkat penyerapan masih rendah.

Untuk menjembatani persoalan tersebut, Pemko dan BP Batam berencana memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi dan dunia industri. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

“Program kami di 2026 nanti ada sekitar 20 orang yang akan kami berikan beasiswa kuliah di ITS. Alumni ITS ini punya prospek bagus, terutama di bidang galangan dan industri teknik,” ujar Amsakar.

Selain kerja sama pendidikan, ia juga mengaku telah bertemu dengan para HRD perusahaan di Batam untuk mendorong pemberian kesempatan lebih besar bagi warga lokal. “Kami minta agar ada prioritas 10-155 persen untuk anak-anak negeri,” tambahnya.

Namun, Amsakar menilai bahwa masalah pengangguran di Batam juga berkaitan dengan pergeseran tren investasi. Banyak investasi baru yang masuk bersifat padat modal dan minim tenaga kerja, seperti industri Artificial Intelligence (AI), Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), serta energi terbarukan.

“Tren investasi sekarang bukan lagi padat karya, tapi padat modal. Jadi serapan tenaga kerjanya memang tidak sebanyak dulu,” katanya.

Baca Juga: Dua Kelompok Driver Online Bentrok di Lubukbaja

Kondisi itu membuat pemerintah daerah perlu mencari keseimbangan antara peningkatan nilai investasi dan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat kokal.

Pihaknya tengah menyusun strategi untuk mengurai kompleksitas pengangguran di Batam melalui tiga pendekatan: peningkatan kompetensi tenaga kerja, penyesuaian arah investasi, dan sinergi dengan dunia pendidikan.

“Prinsipnya, dua langkah sudah kami ambil: memberikan beasiswa untuk link and match pendidikan dengan kebutuhan industri, dan mengundang HRD perusahaan agar memberikan ruang lebih besar bagi tenaga kerja lokal,” ujar dia. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update