Senin, 12 Januari 2026

Amsakar Bergelar Dato’ Setia Amanah-Li Claudia Dato’ Setia Bijaksana

Tabal Adat Sang Pemimpin Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, ditabalkan sebagai Dato’ Setia Amanah.

batampos – “Kalau tak tahu asal usul, umpama hilang dalam rimba. Kalau tak kenal adat pusaka, ibarat hilang jiwa bangsa.”

Dalam tiap denyut nadi masyarakat Melayu, petuah tua-tua selalu menjadi suluh. Adat bukan sekadar hiasan pesta, tetapi tiang penyangga peradaban. Maka ketika gelar adat ditabalkan kepada pemimpin, itu bukan penghormatan biasa, melainkan penegasan tanggung jawab, peringatan lembut agar kuasa tak menjauh dari rasa, agar jabatan tetap berpijak pada akar.

Dalam suasana yang khidmat dan bertatah marwah, pada Minggu (15/6) Aula LAM Batam menjelma menjadi ruang sakral. Warna kuning emas memancar dari songket dan tanjak yang dikenakan para tetua adat, menyiratkan keagungan budaya yang tak lapuk oleh zaman. Lantunan doa menggema perlahan, seolah mengundang para leluhur hadir memberi restu kepada anak-anak yang kini memegang tampuk pemerintahan.

Tirai-tirai songket megah menjuntai dari langit-langit, seperti tangan mak dan ayah yang merestui. Di atas panggung adat yang dihias megah, Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra melangkah perlahan. Keduanya tidak datang sebagai pejabat, tetapi sebagai anak yang hendak disematkan martabat. Langkah-langkah mereka seirama, menyatu dalam getar tanah dan napas angin yang membawa hikmah.

Di antara para tamu, para pemangku adat duduk bersahaja, mengenakan tanjak dan baju kurung serba hitam bersulam benang perak. Mereka adalah penjaga gerbang kehormatan diri, pengadil adat yang tak sembarangan mengangkat martabat siapa pun. Maka bila mereka menabalkan, itu bukan karena pangkat, tapi karena layak.

“Yang berkuasa jangan bersultan, yang bersultan jangan bertakhta, bila tak kenal akar budayanya.” Begitu pesan yang terpatri mengalir deras dalam pantun dan gurindam yang mengisi prosesi. Upacara pun menjadi jembatan: antara masa lalu dan masa kini, antara kekuasaan dan nilai, antara jabatan dan jiwa.

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota, Li Claudia Chandra, menerima gelar adat dan tanda kehormatan dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam pada Minggu, (16/6) di Gedung LAM Batam Center. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, ditabalkan sebagai Dato’ Setia Amanah. Sebuah gelar penuh makna—setia dalam menggenggam amanah, teguh dalam menakhodai negeri. Mahkota tanjak keemasan bertengger di kepalanya, menjadi simbol beratnya tanggung jawab yang kini bukan hanya di hadapan rakyat, melainkan di hadapan leluhur.

“Gelar ini bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk terus diingat,” kata Amsakar.

Suaranya dalam, menggetarkan ruang. Dato’ Setia Amanah bukan sembarang gelar bermastautin. Ia seperti cermin di hadapan, mengingatkan bahwa pemegang tak boleh tergelincir dari niat awal: mengabdi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota, Li Claudia Chandra, dengan anggun menerima tanda kehormatan adat bergelar Dato’ Setia Bijaksana. Sebuah penabalan bersejarah, pertama kalinya dalam adat di Batam, seorang wakil wali kota perempuan non-Melayu diberi pengakuan adat dalam satu prosesi bersama wali kota. Satu babak baru dalam lembar peradaban.

“Kita menabalkan Ibu Li Claudia bukan dengan gelar kebesaran adat, tapi tanda kehormatan adat. Karena beliau bukan dari darah Melayu, maka yang layak adalah tanda kehormatan. Tapi ingat, dalam adat, tanda pun adalah martabat,” ujar Ketua LAM Batam, Dato’ Wira Setia Utama Raja H Muhammad Amin Ibni Raja H Muhammad.

Adat, kata dia, bukan hanya warisan, melainkan benteng dari keangkuhan dan penuntun bagi kekuasaan. Maka pemimpin yang mengenakan tanjak bukan hanya berbusana, tetapi bersumpah setia untuk berlaku adil dan bijaksana bagi seluruh anak negeri, tanpa memandang asal-usulnya.

Li Claudia pun menyampaikan rasa harunya, dengan mata yang berkaca namun senyum tetap mengembang. “Saya tak menyangka akan diberi kehormatan sebesar ini. Saya merasa seperti anak di rumah Melayu. Ini adalah amanah yang harus saya junjung dengan segenap hati,” ujarnya.

Berpantunlah di bawah tanjung,
Kuntum melati putih berseri.
Bertabal gelar bukan bersanjung,
Tapi menjadi lentera negeri.

Jika memimpin sekadar nama, habis manis sepah dibuang. Tapi yang jujur menabur karma, akan harum sepanjang zaman.

Amsakar menambahkan, dalam banyak pelantikan ia hadiri, tak pernah ia merasa sekuat hari itu. Ada kekuatan batin yang tak bisa ia dijelaskan.

“Mungkin karena doa-doa dari para tetua, dari masyarakat, dan dari para orang tua adat, semua menyatu dalam satu energi yang mendorong kami untuk tak main-main dengan amanah ini,” katanya.

Suasana pun berubah menjadi haru ketika beberapa tokoh adat maju menyampaikan petuah. Janganlah menjadi pemimpin yang memayung hujan tapi tak meneduhi panas. Jangan pula menjadi batang pohon yang tegak tapi tak berbuah.

Tepuk tangan perlahan menyambut tiap petuah, bukan sebagai formalitas, tapi sebagai penanda bahwa nilai-nilai lama belum hilang. Justru kian merasuk dalam nadi pemerintahan yang hendak ditata dengan arif.

Langit Batam di siang hari itu seakan lebih cerah. Sejuk angin menyapa lembut, membisikkan restu semesta bagi para pemimpin yang kini tak hanya bertabalkan jabatan, tetapi juga adat dan marwah.

Kalau ke hulu bertanak nasi,
Kalau ke hilir bersampan perahu.
Kalau adat telah mengisi,
Maka negeri tak kan layu.

Kalau tuan berlayar malam,
Jangan lupa menyuluh sauh.
Kalau tuan memimpin dalam,
Bawa adat, budi, dan bersuluh.

Maka biarlah gelar yang ditabalkan hari ini bukan cuma tersemat di dada, tetapi terpatri dalam laku dan keputusan. Sebab adat Melayu tak pernah meminta dibalas dengan upacara, melainkan ditunaikan lewat kepemimpinan yang adil, santun, dan berpihak pada kebaikan bersama. Di tangan pemimpin yang menyatu dengan ruh budaya, kuasa bukan alat meninggi, tapi ladang mengabdi bagi rakyat yang menggantungkan harap di setiap langkahnya.

Dalam pelukan adat yang hangat dan hikmat, Amsakar dan Li Claudia kini memikul bukan hanya jabatan, tapi juga marwah. Gelar yang ditabalkan hari ini adalah suluh di kala gelap, tiang di kala goyah. Sebab dalam tamadun Melayu, pemimpin yang sejati ialah dia yang menanam budi, menyiram kasih, dan memayungi negeri dengan nurani. Tujuannya agar Batam terus berlayar sebagai Bandar Dunia Madani, berakar pada warisan, dan bertiang pada kebijaksanaan. (*)

Reporter: Arjuna

 

Update