Kamis, 29 Januari 2026

Awal Tahun, 5.585 Pencari Kerja di Batam Serbu Disnaker dan Kantor Kecamatan Urus Kartu Kuning

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pencari kerja di Batam sedang mengurus kartu kuning di Disnaker Batam. Foto: Dalil Harahap/ Batam Pos

batampos – Awal tahun 2025, ribuan pencari kerja di Batam memadati setiap kantor kecamatan dan Kantor Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) untuk mengurus kartu kuning atau Kartu AK1. Tercatat, Hingga 21 Maret 2025, tercatat sebanyak 5.585 orang telah mengurus dokumen ini. Lonjakan pemohon yang didominasi oleh lulusan SMA dan perguruan tinggi ini mengindikasikan besarnya angka pencari kerja di Batam,

Dari pantauan di lokasi, Senin (17/3), beberapa pencari kerja terlihat sibuk mengisi formulir, sementara lainnya berdiskusi dengan petugas terkait persyaratan yang diperlukan. Kondisi ini hampir selalu terjadi setiap awal pekan, terutama pada hari Senin.
Kepala Disnaker Batam, Rudi Sakyakirti, membenarkan bahwa tren ini berulang setiap awal tahun. Banyak pencari kerja baru yang datang, baik lulusan baru maupun mereka yang ingin berpindah pekerjaan. “Hari Senin biasanya lebih ramai karena banyak yang baru melengkapi dokumen mereka,” katanya.
Menurut data Disnaker, sepanjang Januari hingga Maret 2025, jumlah pencari kerja yang mengurus kartu kuning terus meningkat. Pada Januari tercatat 1.787 pemohon, Februari melonjak menjadi 2.774, dan per 21 Maret telah mencapai 1.024 pemohon.
Salah satu pencari kerja, Yogi, mengaku datang sejak pagi agar tidak terlalu lama mengantre. “Saya sedang mencari pekerjaan di perusahaan elektronik. Kartu kuning ini wajib, jadi saya urus lebih dulu biar bisa langsung apply kerja,” katanya.
Namun, tidak semua pencari kerja datang dengan persiapan matang. Seorang wanita bernama Rina tampak kebingungan saat mengetahui ada dokumen yang belum dibawanya. “Saya kira hanya butuh KTP dan ijazah. Ternyata harus ada pas foto juga. Jadi harus cari dulu,” ungkapnya.
Di sisi lain, ada pula pencari kerja yang harus kembali karena kesalahan dalam pengisian formulir. Seorang pemuda bernama Ardi mengaku kurang memahami prosedur yang ada. “Tadi salah isi, jadi harus ulang lagi. Harusnya informasi lebih jelas di awal biar nggak bolak-balik,” ujarnya.
Meningkatnya jumlah pemohon kartu kuning menandakan bahwa semakin banyak masyarakat yang membutuhkan pekerjaan. Namun, apakah jumlah lowongan yang tersedia sebanding dengan banyaknya pencari kerja. Beberapa pencari kerja mengungkapkan bahwa mereka kesulitan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka.
 “Saya sudah beberapa kali melamar, tapi belum ada panggilan. Persaingan sangat ketat,” ujar Iwan, seorang lulusan perguruan tinggi yang mengincar posisi di perusahaan manufaktur.
Dengan tingginya angka pencari kerja, pemerintah diharapkan dapat memperluas peluang kerja melalui investasi dan pelatihan keterampilan yang lebih masif. Disnaker Batam sendiri telah mengadakan berbagai program pelatihan, tetapi belum cukup menjangkau seluruh pencari kerja yang ada.
Yogi, yang masih mencari pekerjaan, berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan sesuai harapannya. “Saya ingin kerja secepatnya. Harapannya ada lebih banyak lowongan yang dibuka,” harapnya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra

Update