batampos – PT Makmur Elok Graha (MEG) selaku pihak yang diberikan kewenangan membangun kawasan Rempang-Galang (Relang) terus menjaring investor untuk berinvestasi di kawasan tersebut. Salah satunya yang sudah menyatakan komitmen adalah Xinyi International Investment Limited (Xinyi Group).

Sebelumnya, Xinyi International Investment Limited dan PT Makmur Elok Graha sudah menandatangi nota kerja sama (memorandum of agreement) di Chengdu, Tiongkok, 28 Juli 2023 yang disaksikan Presiden Joko Widodo dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.
Di Rempang, Xinyi Group akan membangun kawasan industri yang diberi nama Photovoltaic Solar Industrial Park (PSIP). Di kawasan industri inilah, Xinyi Group akan membangun pabrik kaca dan solar cell dengan bahan baku pasir kuarsa dan pasir silika.
Untuk melihat kesiapan lahan di kawasan industri di Rempang itu, Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, ditemani Gubernur Kepri, Ansar Ahmad; Kepala BP/Wali Kota Batam, Muhammad Rudi; Wakapolda Kepri, Brigjen Pol Asep Safrudin; Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol Hersadwi Rusdiyono; Kabinda Kepri, Brigjen TNI Bonar Panjaitan; dan sejumlah pejabat dan petinggi lainnya, meninjau lokasi tersebut, Minggu (13/8) pagi.
Kedatangan Bahlil dan rombongan langsung disambut warga dengan spanduk penolakan relokasi. Hal ini dikarenakan tempat tinggal mereka sekarang ini akan dibangun pabrik kaca asal Tiongkok tersebut.
Kepada masyarakat, Bahlil meminta masyarakat untuk bersabar karena pemerintah sedang mencari solusi yang terbaik untuk rencana pe-ngembangan pulau tersebut. ”Saya mengerti apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Tapi saya mohon, masyarakat juga mengerti apa yang menjadi tujuan negara,” ujar Bahlil di hadapan masyarakat yang hadir di halaman Kantor Kecamatan Galang.
Dari Rempang, Bahlil kemudian bergerak ke Hotel Marriott di Harbour Bay Batam. Di sana Bahlil menggelar rapat untuk mencari solusi terbaik terhadap semua persoalan yang muncul.
”Alhamdulillah, saya tadi pagi (kemarin pagi, red) ke Rempang, disambut dengan banyak spanduk (penolakan). Saya jadi tahu apa yang menjadi persoalan selama ini, karena sudah bertemu langsung dengan warga,” kata dia, usai pertemuan tertutup di Hotel Marriott, Kota Batam, Minggu (13/8) sore.
Bahlil menegaskan, proses investasi harus berjalan, maka relokasi warga dari lokasi yang akan dibangun pabrik kaca juga tetap jalan dengan tetap menghargai apa yang menjadi hak-hak masyarakat tempatan. ”Warga akan mendapat rumah tipe 45 dengan tanah total sekitar 200 hektare (tipe rumah 45 dengan luas tanah 200 meter persegi per KK, red),” ujar Bahlil.
Ia menyebutkan, berdasarkan pertemuan tersebut, ada tuntutan warga yang bisa diakomodir oleh pemerintah, namun ada juga yang tidak bisa dipenuhi. ”Karenanya, semua harus kita cari win-win solution yang baik,” ujarnya.
Terkait lokasi relokasi warga Rempang yang terdampak pembangunan perusahaan asal Tiongkok tersebut, Bahlil menyebutkan, warga akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disiapkan oleh BP Batam. ”Kebetulan saya bukan warga Batam. Nanti tanya bapak BP Batam. Tadi saya sudah ke sana melihat lokasinya. Kurang hapal saya namanya tadi. Kalau di Papua saya bisa hapal kampung apa,” terangnya.
Ia menjelaskan, relokasi terpaksa dilakukan agar investasi tetap berjalan di Kota Batam. Karena jika tidak, maka investasi ini akan lari ke negara lain.
”Investasi ini penting agar Kepri tidak dianggap provinsi nomor sekian dalam realisasi investasi. Maka harus berjiwa besar semua. Harus cari win-win semua,” jelas Bahlil.
Ia menargetkan groundbreaking pembangunan pabrik kaca nomor dua di dunia setelah Tiongkok dan nomor satu di dunia di luar Tiongkok ini ditargetkan bisa terealisasi tahun ini. ”Untuk itu, semua harus dibersihkan dan dipersiapkan untuk mendorong percepatan investasi di kawasan tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, Rudi menjelaskan, BP Batam sudah menyiapkan kaveling seluas 200 meter persegi dengan rumah tipe 45 sebanyak 3.000 unit di tempat relokasi. Selain itu, BP Batam juga akan melengkapi fasum dan fasos, serta area kantor pemerintahan.
”Seperti yang dikatakan Pak Menteri, kita akan upayakan solusi terbaik,” ujar Rudi.
Pernyataan ini juga pernah disampaikan Rudi terkait perkembangan terkini Rempang-Galang kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, dalam rapat Progres Pengem-bangan Kawasan Rempang Eco-City, pada 12 Juli lalu.
Sementara itu, sebelum menteri investasi Bahlil tiba di Rempang, sempat beredar kabar bahwa Polda Kepri melakukan upaya penjemputan terhadap Ketua Kekerabatan Masyarakat Adat Tempatan (Keramat), Rempang Cate, Galang, Gerisman Achmad, Minggu (13/8) pagi. Namun, upaya polisi gagal setelah mendapat penolakan dari Gerisman dan warga sekitar.
Informasi yang didapatkan, penjemputan terkait penolakan penggusuran yang dilakukan warga atas pembangunan mega proyek di Pulau Rempang. Polisi kemudian mendatangi rumah Gerisman di Pantai Melayu.
Sebelumnya, Gerisman juga diperiksa polisi terkait adanya laporan bahwa warga Rempang yang tinggal di sana telah merusak ekosistem, hutan, dan berada di Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Kabidhumas Polda Kepri, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, membantah adanya upaya penjemputan paksa kepada Gerisman. Menurut dia, hal tersebut merupakan informasi bohong atau hoaks.
“Kami meminta masyarakat untuk tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak terverifikasi kebenarannya dan selalu melakukan verifikasi sebelum mempercayai serta menyebarkan informasi,” katanya.
Ia juga mengimbau masya-rakat untuk selalu berhati-hati dan bijak dalam menyikapi berita yang beredar. Dengan memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayainya, diharapkan masyarakat dapat berkontribusi dalam menjaga ketertiban dan keamanan wilayah.
“Terakhir, Polda Kepri selalu berkomitmen untuk menjaga transparansi dan memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Klarifikasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami situasi yang sebenarnya serta menghindari penyebaran berita palsu atau hoaks yang dapat memicu kebingungan dan ketidakpastian serta budayakan setiap informasi yang didapat agar disaring sebelum di-sharing,” tutupnya. (*)
REPORTER: YULITAVIA / MUHAMMAD NUR / EUSEBIUS SARA /YOFI YUHENDRI

