Sabtu, 24 Januari 2026

Banjir Batuaji–Marina Terus Berulang, Warga Minta Solusi Nyata

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Banjir di kawasan Marina. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Hujan deras yang kembali mengguyur Kota Batam pada Kamis (11/9) siang masih menyisakan persoalan banjir di sejumlah titik. Kondisi serupa dengan hari-hari sebelumnya terjadi lagi di ruas jalan utama Batuaji hingga Marina, bahkan merembet ke permukiman warga. Banjir ini membuat masyarakat kembali kerepotan, karena air tak hanya mengganggu arus lalu lintas, tetapi juga masuk ke dalam rumah.

Pantauan di lapangan, genangan banjir masih terlihat di Jalan R. Suprapto Batuaji, kawasan Simpang Aviari, hingga Jalan Marina City yang selama ini menjadi langganan banjir. Warga mengaku resah karena masalah ini terus berulang setiap kali hujan turun. Aktivitas sehari-hari pun terganggu, sementara kendaraan harus berjalan pelan agar tidak mogok diterjang air.

“Setiap kali hujan, kami selalu kerepotan. Air cepat naik dan meresahkan. Kami hanya bisa berharap pemerintah benar-benar memberikan solusi yang nyata, bukan janji,” ungkap Suhardi, warga Batuaji.

Baca Juga: Batam Fokus Tangani 105 Titik Banjir, Target Tuntas dalam 2 Tahun

Hal senada juga disampaikan Nasrul, warga lainnya. Menurutnya, banjir di Batam bukan hanya persoalan drainase yang tidak berfungsi, tetapi juga akibat pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan. Aktivitas seperti penggundulan hutan, pemotongan bukit, hingga hilangnya kawasan resapan air dinilai memperparah kondisi banjir yang kini menjadi langganan.

“Kalau hanya memperbaiki drainase saja tidak cukup. Pembangunan juga harus dikaji ulang, supaya ada perhitungan yang matang untuk keberlangsungan jangka panjang,” tegas Nasrul.

Menanggapi persoalan ini, sebelumnya Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, menegaskan bahwa banjir merupakan persoalan bersama yang membutuhkan penanganan komprehensif. Ia menyebut, semua pemangku kepentingan harus ikut berkontribusi, mulai dari menjaga kawasan hulu hingga pengendalian reklamasi di hilir.

“Di hulu mestinya untuk mengurangi limpasan air permukaan haruslah dijaga. Kawasan di atasnya tetap hijau. Di tengahnya, drainase harus ideal, menjadi tanggung jawab bina marga, SDA, serta perakimtan. Di hilir, reklamasi pesisir harus dikendalikan agar air cepat mengalir ke laut,” jelas Suhar.

Ia juga menekankan bahwa tugas utama pihaknya saat ini adalah menjaga kapasitas drainase yang sudah ada. Salah satunya melalui program normalisasi berkala dengan menyiapkan alat berat untuk membersihkan dan memperbesar daya tampung saluran air. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi risiko genangan, terutama di titik rawan banjir.

Meski demikian, Suhar mengakui penanganan jangka panjang tidak bisa hanya bergantung pada upaya teknis drainase. Menurutnya, perlindungan lingkungan dan perencanaan pembangunan berwawasan ekologis sangat penting agar banjir tidak lagi menjadi persoalan tahunan yang selalu merugikan masyarakat.

Warga pun berharap janji dan rencana ini segera diwujudkan. Sebab, setiap kali hujan deras turun, rasa cemas terus menghantui. Jika persoalan banjir tidak ditangani serius dan menyeluruh, Batam akan terus berhadapan dengan masalah yang sama: jalan tergenang, pemukiman kebanjiran, dan warga yang harus selalu siaga di tengah derasnya hujan. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update