Selasa, 3 Februari 2026

Batam Butuh 15 Ton Cabai per Hari, Pemko Genjot Produksi Lokal untuk Kendalikan Harga

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pedagang di Pasar Botania 2 Batamcentre mengangkat cabai merah keriting. Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang masih menjadi penyumbang utama inflasi di Kota Batam. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Batam menargetkan produksi lokal minimal 20 persen dari total kebutuhan harian agar dapat mengintervensi harga di pasaran.

“Kebutuhan cabai di Batam mencapai 15 ton per hari. Untuk bisa menstabilkan harga, kita harus produksi sendiri minimal 2 sampai 3 ton per hari,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis, Rabu (21/5).

Saat ini, produksi cabai lokal masih jauh dari angka tersebut. Lahan pertanian yang ada baru mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram per hari. Untuk menutupi kekurangan itu, Pemko menargetkan pengembangan lahan cabai merah hingga 20 hektare.

“Tahun ini sudah dikembangkan 5 hektare dari APBD murni, ditambah 7 hektare dari program prioritas ketahanan pangan, jadi total 12 hektare. Masih kurang, maka akan terus ditambah,” ujarnya.

Selain itu kebutuhan cabai rawit di Batam mencapai sekitar 7 ton per hari, sedangkan cabai setan juga cukup tinggi. Untuk itu, pengembangan lahan cabai rawit dan cabai setan masing-masing ditargetkan seluas 10 hektare.

Selain cabai, kebutuhan sayuran seperti bayam dan kangkung juga terus meningkat. Tahun ini Pemko mengembangkan lahan sayur seluas 5 hektare dan menggencarkan program pertanian rumah tangga melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Sudah terbentuk 80 KWT se-Kota Batam. Kalau setiap anggota tanam 20 polibek cabai, itu setara 4 hektare. Kita bantu benih, pupuk, dan pendampingan,” tambahnya.

Jika seluruh rencana ini berjalan baik, produksi cabai lokal bisa mencapai target 20 persen dari kebutuhan harian Batam, atau sekitar 3 ton per hari. Meski belum mencukupi kebutuhan penuh, produksi ini dinilai cukup untuk menekan harga saat pasokan luar terganggu.

Sementara untuk bawang merah, Pemko mengakui produksinya masih sulit ditingkatkan karena kendala teknis dan iklim. Petani kerap gagal panen di usia tanaman 50 hari akibat cuaca dan hama.

Sebagai tambahan strategi, Pemko juga menjalin kerja sama antar daerah dengan Kabupaten Tapanuli Utara untuk pengadaan cabai, kentang, dan telur.“Kalau MoU berjalan, kita bisa kendalikan harga dengan lebih baik, ” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update