
batampos – Batam menjadi titik awal mimpi besar Indonesia menembus pasar dunia. Panen perdana lobster di Pulau Setokok, Rabu (10/9), memperlihatkan kesiapan negeri ini menyaingi negara-negara penghasil lobster.
Acara panen ini semakin istimewa karena dihadiri langsung Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Kehadiran Wapres disebut menjadi semangat baru dalam mewujudkan program ekonomi biru pemerintah. Tak hanya Gibran, istrinya Selvi turut hadir. Begitu juga Ketua Komisi IV Titiek Soeharto dan Menteri KKP, serta para pejabat lainnya.
Panen perdana ini dilakukan di kawasan Modeling Budi Daya Lobster seluas tiga hektare yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Fasilitasnya modern, terdiri atas 144 lubang Karamba Jaring Apung (KJA), satu unit pendederan atau nursery, hingga cold room di daratan.
Dengan kapasitas produksi mencapai 6 ton per siklus per tahun, kawasan ini diharapkan menjadi model percontohan bagi pengembangan budidaya lobster modern di seluruh Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyebut panen ini sebagai tonggak sejarah. Menurutnya, Indonesia tidak lagi sekadar negara pemasok benih lobster, melainkan siap menjadi produsen utama lobster konsumsi.
“Komoditas lobster memiliki potensi besar di pasar global. Produksi nasional tahun 2023 mencapai 1.144 ton dengan nilai ekspor USD 23,9 juta. Angka itu melonjak pada 2024 menjadi 2.120 ton dengan nilai ekspor USD 67,8 juta,” kata Trenggono.
Ia menambahkan, keberhasilan budidaya di Setokok merupakan hasil riset dan uji coba selama 2–3 tahun terakhir.
“Baby lobster kita jumlahnya miliaran di laut Indonesia, dan selama ini banyak yang terbuang atau diselundupkan. Kini kita bisa memeliharanya hingga siap panen,” ujarnya.
Ia menyebut keberhasilan ini juga sejalan dengan prioritas Presiden untuk memperkuat ketahanan pangan. Lobster menjadi bagian penting dari blue food untuk swasembada pangan
“Karbohidrat kita kuat, lemak kita sangat kuat dengan sawit, dan sekarang protein dari ikan kita juga kuat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa budidaya lobster ke depan sepenuhnya berbasis lokal. Tidak ada lagi benih lobster yang keluar dari wilayah Indonesia.
“Semuanya kita budidayakan di Indonesia untuk menambah nilai tambah dan membuka lapangan kerja,” katanya.
Wapres Gibran Rakabuming Raka yang usai meninjau kawasan budidaya optimisme harapan tersebut tercapai. Ia menilai tingkat keberhasilan hidup (survival rate) lobster di Batam yang mencapai 80 persen merupakan capaian luar biasa.
“Survival rate lobster di sini mencapai 80 persen, ini sangat baik sekali. Saya dorong agar program ini direplikasi ke lokasi-lokasi lain di Indonesia,” kata Gibran.
Menurutnya, keberhasilan budidaya lobster bukan hanya soal bisnis ekspor, tetapi juga upaya menjaga kekayaan laut Indonesia. Karena itu, ia berbarap penyelundupan lobster harus dihentikan.
“Penyelundupan benih lobster harus segera dihentikan. Karena potensi laut kita luar biasa, dan itu untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Terkait pencegahaan penyelundupan lobster, disambut positif oleh Gibran. Menurutnya, jika konsisten, dalam tiga hingga empat tahun mendatang Indonesia bisa menjadi kekuatan baru di bidang pangan biru.
“Kami ingin Indonesia jadi pemain utama, bukan hanya penonton,” ucapnya.
Selain lobster, kawasan percontohan Setokok juga membudidayakan komoditas bernilai tinggi lainnya, seperti ikan bawal bintang, kakap, napoleon, kerapu, hingga Jade Perch. Semua dikembangkan dengan teknologi terkini, termasuk sistem resirkulasi aquaculture.
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, yang turut hadir, menegaskan dukungan parlemen agar pemerintah segera mempercepat penerbitan Perpres terkait pemberantasan penyelundupan benih lobster (BBL).
“Kami mendorong regulasi ini dipercepat, agar tidak ada lagi benih lobster keluar negeri secara ilegal,” ujarnya.
Menurutnya, dengan adanya Perpres tersebut, kebijakan bisa lebih terintegrasi dan memberikan kepastian hukum bagi pembudidaya. “Makin cepat makin baik, ini kepentingan nasional,” tambahnya.
Panen perdana ini juga disaksikan Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wali Kota Batam Amsakar Achmad, serta sekitar 50 pembudidaya ikan yang diundang. Rangkaian acara meliputi penebaran benih lobster, panen lobster dan bawal bintang, peninjauan pembesaran Jade Perch, hingga penyerahan bantuan benih ikan.
KKP menargetkan produktivitas lobster di Setokok dapat mencapai 40–50 kilogram per lubang KJA berukuran 3×3 meter. Jika berhasil, model ini bisa direplikasi di daerah lain, terutama di kawasan pesisir yang memiliki potensi lobster melimpah.
Bagi masyarakat pesisir Batam, panen perdana ini menjadi angin segar. Selain membuka peluang kerja, keberadaan kawasan budidaya modern juga menjadi sarana belajar bagi pembudidaya lokal.
Seorang pembudidaya yang hadir, Andi, mengaku optimistis. “Kalau model ini bisa direplikasi di banyak tempat, masyarakat pesisir bisa lebih sejahtera. Tidak lagi tergantung pada hasil tangkapan saja,” tuturnya.
Dengan panen perdana lobster di Batam, Indonesia menegaskan langkah barunya: bukan lagi sekadar pemasok benih, melainkan produsen lobster dunia. Sebuah langkah maju yang lahir dari laut Nusantara. (*)
Reporter: Yashinta



