
batampos – BP Batam mengangkat sekitar 200 influencer menjadi duta investasi dalam sebuah program baru yang menuai perhatian. Peluncuran program ini diumumkan pada Jumat (18/7) bersamaan dengan peresmian Dashboard Investasi Batam 2025. Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini strategi jitu atau sekadar gimik?
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut penunjukan para influencer ini sebagai bentuk ikhtiar kolektif untuk mengangkat potensi lokal. Para duta ini bukan pekerja tetap, melainkan sukarelawan yang ingin berkontribusi tanpa imbalan.
“Kalau kita memiliki potensi di dalam, mengapa kita harus mengejar di luar?” katanya.
Alasan pemilihan mereka cukup sederhana: mereka memiliki jumlah pengikut media sosial yang besar. Ia juga mengajak awak media untuk turut menjadi relawan dalam perjuangan memajukan Batam sebagai kawasan investasi unggulan nasional.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Batam Jangkau Lebih dari 36 Ribu Siswa
“Kalau dia punya followers ratusan ribu, tentu bisa bantu branding Batam,” kata Amsakar.
Menurut Deputi Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, para duta ini tidak hanya bertugas jadi media promosi, tapi juga mendampingi investor dalam berbagai tahap, dari perizinan hingga realisasi proyek. Mereka bahkan diharapkan dapat menjembatani masalah di lapangan yang berkaitan dengan lahan, air, pelabuhan, dan infrastruktur.
“Setiap direktorat diminta menyetorkan paling tidak lima nama duta. Totalnya jadi sekitar 200 orang (dari seluruh unit BP Batam, termasuk di luar daerah),” kata dia.
Para duta ini juga diminta ikut mendampingi BP Batam dalam berbagai agenda, termasuk ke luar daerah. Meski disebut relawan, para influencer ini tetap akan difasilitasi untuk aktivitas di lapangan. Namun, belum ada penjelasan gamblang soal bentuk fasilitas yang diberikan.
Yusi Fadilah, food vloger Batam yang turut di angkat menjadi duta. Ia menyebut peran mereka akan lebih banyak pada aspek promosi digital.
“Kami akan membuat video tentang Batam, agar investor tertarik. Konten-konten yang mengangkat potensi Batam, serta menekankan bahwa pungli dan premanisme sudah ditangani,” ujar dia.
Baca Juga: 24 WNA Terjaring Operasi Wira Waspada di Batam, Diduga Langgar Izin Tinggal
Yusi sendiri mengaku juga memiliki unit usaha di Batam, sehingga menurutnya ia paham kebutuhan investor. “Saya ingin menyampaikan bahwa Batam ini makin joss buat investasi,” tambahnya.
Namun apresiasi tak datang tanpa catatan. Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kepri, Lagat Parroha Patar Siadari, menyambut baik langkah ini sejauh memang dijalankan sebagai strategi komunikasi yang tertata dan bertanggung jawab.
“Kalau sudah menyangkut biaya operasional, ini harus ada dasar kerjasamanya. Harus jelas output-nya, jangan hanya informal,” katanya.
Ia mengingatkan jika program ini mengandung penggunaan anggaran, maka harus ada pertanggungjawaban hukum dan administratif. Lalu, Lagat juga menyorot risiko penyimpangan jika peran duta investasi ini tidak diatur secara ketat.
“Jangan sampai nanti mereka jadi calo. Itu yang bahaya,” katanya.
Dia turt mempertanyakan efektivitas program ini jika para influencer hanya memiliki jangkauan pengikut di dalam negeri. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah influencer dengan jejaring internasional yang bisa menarik perhatian calon investor dari luar negeri.
“Kalau followers mereka itu ada yang dari Rusia, Amerika, itu bagus. Tapi kalau followers-nya hanya dari Batam, ya apa gunanya untuk promosi investasi global?” ujar dia.
Lagat harap ada keseragaman informasi dalam promosi investasi di Batam. Ia mewanti-wanti agar para influencer tidak asal bicara tanpa rujukan data yang jelas.
“Jangan nanti jadi bias informasi. Sumbernya tetap harus dari Biro Humas BP Batam,” katanya.
Baca Juga: Modus Licik Penipuan Jual Beli Motor Online, Korbannya Penjual Asli dan Pembeli
Bahayanya, ketika dikemudian hari yang muncul adalah: sejauh mana branding lewat media sosial dapat menjawab tantangan fundamental investasi di Batam—seperti konflik lahan, birokrasi lamban, serta praktik-praktik informal yang selama ini menjadi keluhan para investor. Apalagi dalam konteks Batam yang saat ini menghadapi tantangan serius dalam sektor ketenagakerjaan, infrastruktur air bersih, hingga tumpang tindih kewenangan antara pemerintah kota dan BP Batam sendiri.
Tanpa evaluasi kinerja yang ketat dan indikator keberhasilan yang jelas, program duta investasi ini berisiko hanya menjadi kampanye pencitraan semata, bukan solusi nyata untuk mendongkrak kepercayaan dan investasi riil.
Langkah BP Batam mengandalkan pengaruh sosial dari para influencer bisa jadi menarik dari sisi komunikasi publik. Tetapi efektivitasnya tetap akan ditentukan oleh kerja-kerja struktural yang menjawab akar persoalan. Karena investasi butuh lebih dari sekadar konten viral atau fyp. (*)
Reporter: Arjuna



