
batampos – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam Rahmad Iswanto mengatakan, rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar akan berdampak kepada inflasi akibat naiknya harga bahan pokok.
“Seandainya jadi kenaikan BMM, mempunyai efek domino yang cukup luas, sehingga tentu saja akan sngat berdampak pada kenaikan sebagian besar komoditi barang dan terutama kenaikan barang pokok butuhan masyarakat,” ujarnya, Jumat (2/9/2022).
BBM merupakan komponen inflasi yang harganya diatur pemerintah. Tentunya. jika terjadi penaikan harga BBM, memiliki dampak besar pada sejumlah sektor.
Kondisi ini tentunya menjadi sangat penting, mengingat kenaikan BBM ini memberikan multiplier effect dalam ekonomi yang cukup besar. .
“Dampaknya cukup besar ke sejumlah sektor, khususnya kenaikan bahan pokok,” tambah Rahmad.
Ia menambahkan, di Kota Batam pada bulan Agustus 2022, IHK Kota Batam menunjukan deflasi sebesar 0,50 persen.
Deflasi terjadi karena adanya penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,96 pada Juli 2022 menjadi 111,40 pada Agustus 2022. Inflasi tahun kalender 2022 yakni 3,89 persen.
Dijelaskan Rahmad, deflasi Kota Batam di bulan Agustus 2022 terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya tiga indeks kelompok pengeluaran.
Yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau turun sebesar 2 persen, kelompok pakaian dan alas kaki turun 0,49 persen dan kelompok transportasi turun 0,39 persen.
Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan yaitu kelompok pendidikan naik sebesar 1,3 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 0,53 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,26 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,18 persen.
Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 0,18 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 0,13 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik sebesar 0,10 persen, serta kelompok kesehatan naik sebesar 0,07 persen.
Adapun untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau, komoditas yang dominan memberikan andil deflasi, yaitu minyak goreng sebesar 0,2336 persen, cabai merah sebesar 0,2226 persen, cabai rawit sebesar 0,0850 persen, beras sebesar 0,0318 persen, dan bawang merah sebesar 0,0265 persen.
Rahmad menambahkan, dari 24 kota IHK di Sumatera, tercatat semua kota mengalami deflasi pada bulan Agustus.
Deflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,65 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Sibolga sebesar 0,02 persen.
Kota Tanjungpinang dan Kota Batam menduduki peringkat ke-15 dan ke-17 dari 24 kota yang mengalami deflasi di Sumatera.
Selanjutnya bila dilihat dari 90 kota IHK, tercatat 11 kota mengalami inflasi dan 79 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 0,82 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Bekasi sebesar 0,12 persen. S
edangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,65 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Depok dan Kota Kediri sebesar 0,01 persen.
“Kota Tanjungpinang dan Kota Batam menduduki peringkat ke-38 dan ke-43 dari 90 kota yang mengalami deflasi se-Indonesia,” pungkasnya.(*)
Reporter: Rengga Yuliandra



