Sabtu, 17 Januari 2026

Buaya di Area Bandara Hanga Nadim Dipastikan Buaya Liar, Ini Cara BKSDA Menandainya

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Tim Avsec Bandara Hang Nadim, Batam menangkqp seekor buaya di area rawa-rawa dekat apron kargo bandara, Selasa (17/10

batampos – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Batam memastikan bahwa buaya yang ditangkap area rawa-rawa dekat Apron Cargo Bandara Hang Nadim Batam, Selasa (17/10) lalu, adalah buaya alam dan bukan dari penangkaran.

Kepala Seksi Konservasi BKSDA Wilayah II Batam, Desty Sitompul mengatakan, setiap buaya penangkaran khususnya di Pulau Bulang diberi tanda berupa sirip yang akan dipotong. Sementara buaya betina yang ditemukan warga di Apron Cargo Bandara Hang Nadim Batam tidak memiliki tanda tersebut.

“Kami memastikan bahwa di dalam penangkaran itu ada namanya penandaan setiap lahir dan ini jadi tanggung jawab kami memastikan bahwa semua satwa di Pulau Bulang itu ada tandanya,” ujar Desty kepada Batam Pos, Selasa (6/11).

Baca Juga: Avsec Bandara Hang Nadim Tangkap Buaya Betina

Menurutnya, setiap buaya yang baru menetas akan dipotong sirip menyesuaikan tangal dan bulan lahir sesuai dengan pengkodeannya. “Artinya dia lahir tanggal sekian bulan sekian nanti sirip yang diambil beda urutannya jadi ada tiga sirip yang akan dipotong dan itu selalu dilaporkan ke kami termasuk berapa jumlah yang lahir dan berapa yang mati,” tambahnya.

Dilanjutnya, sirip yang dipotong ini tidak akan bisa tumbuh lagi dan ini yang menjadi tanda bagi BKSDA untuk memastikan buaya yang ditemukan oleh warga berasal dari penangkaran atau buaya liar dari alam.

Baca Juga: Jalan Penghubung Batuaji dan Sagulung Terendam Banjir

“Kalau yang di bandara kemarin gak ada tanda dan itulah yang jadi jaminan dari kami selaku yang bertugas mengawasi buaya penangkaran ini,” ungkap Desty.

Bagi lokasi penangkaran sendiri, lanjutnya, tidak bisa mengkomersilkan buaya yang tidak memiliki tanda pada sirip tersebut. “Makanya kalau dari Pulau Bulang saya pastikan gak ada yang lepas. Kalau ditanya kenapa buayanya bisa sebesar itu, kami pernah dapat di Sagulung yang dari alam beratnya setengah ton yang kami pindahkan. Namanya bakau tentu kemungkinan ada buaya karena habitatnya di sana,” ucapnya. (*)

 

Reporter: Rengga Yuliandra

Update