
batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam memprediksi bulan Mei menjadi puncak musim hujan tahap pertama. Karena itu, masyarakat harus waspada terutama potensi petir dan angin kencang.
“Secara umum, wilayah Kepri mengalami dua puncak musim hujan dan dua musim kemarau dalam setahun. Hal ini karena Kepri berada di wilayah ekuatorial,” kata Kepala BMKG Hang Nadim Batam, Ramlan, Senin (5/5).
Ia menjelaskan, puncak musim hujan pertama diperkirakan terjadi sepanjang bulan Mei, yang kemungkinan besar akan berlanjut hingga awal Juni. Sementara itu, fase transisi atau pancaroba telah berlangsung sejak April lalu.
“April itu masih masa peralihan. Masuk Mei, hujan mulai lebih konsisten dan intens,” ungkapnya.
Baca Juga: Lapor Pak, Banjir Rendam SMPN 28 Batam, Seluruh Ruangan Lantai 1 Terdampak
Ramlan juga menekankan bahwa pada masa puncak hujan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung dalam durasi panjang.
“Hujannya bisa seharian. Kadang muncul tiba-tiba, lalu reda lagi. Tapi intensitas dan volumenya lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya,” ujar dia.
Dijelaskan Ramlan, wilayah Kepri memiliki pola cuaca khas karena letaknya di garis khatulistiwa. Hal ini menyebabkan pola musim berbeda dari daerah lainnya di Indonesia.
“Kepri punya dua puncak musim hujan, yang pertama di bulan Mei dan kedua biasanya di akhir tahun. Dua musim kemarau pun kita alami, yakni pada bulan Februari dan Agustus–September,” terangnya.
Namun, ia menambahkan bahwa musim kemarau di Kepri tidak berarti tanpa hujan sama sekali. “Kemarau di sini bukan berarti kering total. Masih tetap ada hujan, hanya intensitasnya yang rendah,” jelasnya.
Ramlan juga menyinggung soal potensi petir yang masih cukup tinggi pada masa musim hujan ini, meskipun sedikit menurun dibandingkan masa pancaroba bulan sebelumnya. Ia mengingatkan bahwa petir dapat muncul secara lokal, terutama di wilayah dengan pertumbuhan awan konvektif yang pekat.
“Kadang satu wilayah mendung pekat, wilayah sebelahnya terang benderang. Itu menandakan pertumbuhan awan lokal yang berpotensi menghasilkan petir,” jelas Ramlan.
Baca Juga: Cuaca Buruk, Keberangkatan Kapal Internasional dari Batam Tertunda Hingga Satu Jam
Tak hanya itu, angin kencang juga menjadi fenomena yang kerap menyertai hujan deras di Kepri. Ia menuturkan bahwa kecepatan angin bisa meningkat secara tiba-tiba, terutama ketika hujan mulai turun.
“Angin yang bertambah kencang itu akibat pertumbuhan awan hujan. Saat awal hujan biasanya disertai hembusan angin yang cukup kuat. Ini perlu diwaspadai, terutama bagi aktivitas kelautan dan penerbangan,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat Kepri, khususnya di Batam, agar lebih waspada terhadap potensi banjir lokal, genangan air, dan pohon tumbang akibat angin kencang dan hujan deras. Ramlan menekankan pentingnya memperhatikan informasi prakiraan cuaca harian yang dikeluarkan BMKG untuk mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi.
“Kami terus melakukan evaluasi dan pemantauan. Masyarakat bisa mengakses prakiraan cuaca resmi BMKG lewat aplikasi atau media sosial untuk mendapatkan informasi terkini. Tetap waspada dan utamakan keselamatan,” tutup Ramlan. (*)
Reporter: Yashinta



