Sabtu, 24 Januari 2026

Catatan dari AJF 2025 di Singapura, Merawat Nostalgia, Melihat Masa Lalu Singapura dari Holland Village

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Redaktur Batam Pos, Chahaya Simanjuntak terpilih menjadi salah satu peserta Asia Journalism Fellowship 2025, beasiswa profesi yang diadakan Temasek Foundation dan Institute of Policy Studies (IPS) bekerjasama dengan Universitas Nasional Singapura (NUS). Bersama 19 peserta lainnya dari 15 negara, setelah mengikuti kuliah secara online selama satu bulan penuh, kursus singkat secara langsung pun diadakan di Singapura, yang berlangsung hingga November mendatang. Chahaya pun membagikan pengalamannya selama di Singapura, di luar jadwal kelas, dengan melihat langsung Singapura merawat tradisi dan masa lalu di kawasan Holland Village, di tengah pembangunan hunian gedung tinggi secara masif di kawasan itu.

***

Kawasan Holland Village, salah satu kawasan elit Singapura yang tetap merawat masa lalu dan komunitas lokal di kawasan itu sebagai bagian dari menjaga sejarah. F Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

DERETAN bangunan bertingkat empat itu berdiri berderet. Desain bangunannya terlihat lebih unik dibanding aneka bangunan tinggi di sekitarnya. Dindingnya, secara keseluruhan terbuat dari batu bata merah. Menuju ke sana, harus menaiki tujuh anak tangga.

Di belakang bangunan itu, beragam usaha menggeliat dengan tampilan sederhana. Ada salon, konter ponsel, warung lokal, hingga optik yang menjual kacamata, serta beragam usaha lainnya. Ada juga food Hawker yang menyatu dengan pasar tradisional. Namun kawasan itu sudah tutup di malam hari. Hanya buka setengah hari. Mulai dari pukul 06.00 hingga 12.00 di siang hari.

Sementara di sudut lainnya, di seberang jalan, ada juga food hawker lainnya yang buka sampai malam. Meski sudah malam, kawasan ini tetap hidup. Di sana, para warga mengobrol dengan teman sambil menikmati makanan dan minuman di hadapan. Ada juga yang berdiri antri memesan makanan dan minuman di beberapa stal, serta ada yang memperhatikan menu yang terpampang besar di atas stal, lengkap dengan daftar harga. Bangunan food hawker itu juga sudah terlihat tua.

Bangunan bata merah itu adalah Holland Drive 47, yang sudah ada sejak 1980-an. “Nama kawasan ini adalah Holland Village. Bangunan lama yang kalian lihat ini memang sengaja dirawat pemerintah untuk mempertahankan keaslian kawasan.

BACA JUGA: Ini 5 Pelabuhan Feri Internasional di Batam Tujuan Singapura dan Malaysia

Tidak akan dirobohkan. Merawat sejarah Singapura,” ujar Zakaria Zainal. Seorang Singapura yang akrab disapa Zak. Dia menjadi guide bagi 20 peserta Asia Journalist Fellowship (AJF) 2025, awal pekan lalu.

Holland Village merupakan salah satu kawasan di Negara Kota Singapura. Berada di antara kawasan Bukit Timah dan Queenstown. Bertetangga langsung dengan Buona Vista. Di kawasan ini, Anda bisa melihat modernitas dan masa lalu Singapura dalam waktu yang sama. Dari bangunannya. Dari cara masyarakatnya bersosialisasi, benar-benar melihat masa lalu Singapura yang terkesan terburu-buru, tapi ramah.

Mengapa namanya Holland Village? Karena kawasan ini merupakan warisan masa lalu Eropa. Termasuk Holland Drive 47 itu. Pemandangan di sana bangunan pencakar langit memeluk bangunan lama. Menjadi pagar pelindung.

Kala petang tiba, kawasan ini menjadi pusat kuliner yang paling diminati warga lokal. Suasananya berubah menjadi semakin hidup dengan dukungan aneka lampu warna-warni, lalu lalang warga, hingga kesibukan jalan raya dengan berbagai jenis kendaraan.

” When I was younger, i used to think that men would take their girlfriend to places like this,” ujar Zak terkenang. Kenangannya akan masa lalu hidup kembali dengan melihat kawasan kota lama ini di masa kini.

Dia menyebutkan, kawasan pertokoan lama di Holland Village ini tetap menjadi jantung kehidupan komunitas lokal Singapura. Meski pusat komersial modern berdiri megah di sebelahnya tapi nuansa Singapura tempo dulu tetap bisa dirasakan dengan otentik di masa kini.

Guna merawatnya, setiap malam, satu kawasan itu ditutup. Kendaraan tidak boleh masuk. Dengan begitu, warga yang berkunjung ke sana untuk menikmati aneka hidangan kuliner, atau sekedar minum bir sambil mengobrol dengan rekan, teman, atau pasangannya, tidak terganggu.

“Jika kamu ingin merasakan sesuatu yang benar-benar lokal Singapura, ini adalah tempat yang benar untuk dikunjungi,” ungkapnya.

Menurut data Mediacorp, jumlah penduduk Singapura pada pertengahan 2025 sebanyak 6,11 juta jiwa. Apakah karena jumlah kelahiran yang tinggi? Tidak. Melainkan karena semakin meningkatnya pemegang izin kerja.

Mereka merupakan bagian dari sekitar 540 ribu jiwa penduduk yang menjadi permanent resident di negara ini. Karena semakin meningkatnya jumlah penduduk Singapura dan lahan yang terbatas, kawasan Holland Village ini juga terkena dampak untuk penambahan pasokan perumahan.

Di beberapa titik, terjadi pembangunan yang sangat masif. Hunian pencakar langit. Salah satunya di kawasan Holland Village Wy, di depan bangunan apartemen mewah Quincy House. Ratusan pekerja sudah terlihat di sana menggerakkan puluhan crane, meski waktu baru menunjukkan pukul 06.00 pagi.

“Ya, kawasan ini merupakan salah satu kawasan dengan harga sewa atau harga beli apartemen tertinggi. Tapi tetap, Holland Village, merawat masa lalunya dengan baik. Dukungan dari pemerintahlah yang menjaga ini dengan baik,” ujar Zak.

Singapura. Salah satu negara kota termaju di dunia. Setiap sudut kawasannya berdiri ratusan gedung pencakar langit seperti di kawasan Marina Bay, Orchard, hingga kawasan downtown Raffles City.

Ya, negara ini mampu membentuk wajah kota yang nyata,modern, hidup, dan terus berubah. Selain itu, tetap menjaga akar komunitas demi masa depan yang inklusif dengan merawat masa lalu. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update