
batampos – Meningkatnya kasus dugaan bunuh diri di wilayah Batam dalam beberapa waktu terakhir memantik keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, termasuk fasilitas layanan kesehatan primer. Puskesmas Botania menyatakan, kejadian ini menjadi pengingat serius bahwa kesehatan jiwa harus menjadi perhatian bersama.
Dokter Koordinator Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Botania, dr. Veni Devitasari, mengatakan bahwa fenomena bunuh diri umumnya dipicu oleh tekanan psikologis berat yang tidak ditangani dengan baik. Sayangnya, banyak masyarakat masih enggan atau belum menyadari pentingnya mencari pertolongan.
“Kasus bunuh diri yang terjadi seharusnya menjadi alarm bagi kita semua. Kesehatan jiwa tidak kalah penting dari kesehatan fisik. Puskesmas sebagai lini terdepan dalam pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan masalah kesehatan jiwa,” ujar dr. Veni saat ditemui di Puskesmas Botania, belum lama ini.
Sebagai bentuk komitmen, Puskesmas Botania telah menjalankan sejumlah program yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Kegiatan edukasi dan penyuluhan aktif dilakukan, baik melalui Posyandu, sekolah, perguruan tinggi, hingga kanal media sosial resmi Puskesmas Botania. Tujuannya adalah mengenalkan kesehatan jiwa, menghilangkan stigma, dan mendorong masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan.
“Kami turun langsung ke masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan dan kegiatan Posyandu, agar pemahaman soal kesehatan jiwa ini bisa menjangkau semua kalangan. Kami ingin membangun kesadaran bahwa mencari pertolongan adalah langkah berani dan bijak,” jelasnya.
Puskesmas Botania juga rutin melakukan skrining kesehatan jiwa untuk mendeteksi gejala dini pada berbagai kelompok usia. Beberapa instrumen yang digunakan antara lain Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) untuk anak usia 4-18 tahun, PHQ-2 dan GAD-2 untuk usia dewasa, serta Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) untuk ibu hamil dan ibu nifas.
Jika ditemukan indikasi adanya gangguan, masyarakat dapat langsung memanfaatkan layanan konsultasi yang tersedia. Puskesmas Botania menyediakan sesi konseling psikologis bagi pasien yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Apabila diperlukan, pengobatan dengan obat akan diberikan berdasarkan evaluasi medis yang ketat, dan pasien dengan kondisi lebih berat akan dirujuk ke spesialis kedokteran jiwa (Sp.KJ).
“Pemberian obat hanya kami lakukan bila ada indikasi medis yang jelas. Kami juga melakukan kunjungan rumah untuk pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat, agar pengobatannya tetap terpantau,” ujarnya.
dr. Veni menambahkan, sebelum seseorang melakukan tindakan bunuh diri, biasanya ada tanda-tanda awal yang dapat dikenali. Gejala tersebut antara lain munculnya rasa putus asa, kecemasan yang berlebihan, kehilangan minat, merasa tidak punya tujuan hidup, menarik diri dari lingkungan, sulit tidur, atau mulai sering berbicara tentang kematian.
“Gejala ini sering luput dari perhatian karena kurangnya pemahaman. Padahal, jika dikenali sejak awal, kita bisa melakukan intervensi yang dapat menyelamatkan nyawa,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat agar lebih peduli dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika mengalami tekanan psikologis berat atau melihat tanda-tanda tersebut pada orang di sekitar.
“Segera kunjungi Puskesmas Botania atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika merasakan gejala-gejala gangguan jiwa. Jangan tunggu sampai terlambat. Kesehatan jiwa adalah hak dan bagian dari kualitas hidup kita,” tegas dr. Veni. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra



