Minggu, 4 Januari 2026

Cuaca Buruk, Keberangkatan Kapal Internasional dari Batam Tertunda Hingga Satu Jam

500 Penumpang Terdampak

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi, Kepolisian Kawasan Pelabuhan (KKP) Batam melakukan sosialisasi prakiraan cuaca mengantisipasi cuaca buruk. Polsek KKP untuk Batam Pos

batampos – Hujan deras yang menguyur Batam Senin ( 5/5) siang hingga sore menyebabkan gangguan sejumlah jadwal pelayaran kapal internasional tujuan Singapura dan Malaysia. Angin kencang disertai hujan deras membuat proses sandar dan keberangkatan kapal menjadi lebih lambat, sehingga sejumlah operasional pelabuhan mengalami keterlambatan.

Syahbandar Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Erik Mario Sihotang, mengatakan bahwa penundaan terjadi karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Hujan lebat yang disertai angin membuat kapal kesulitan bersandar, juga berdampak langsung pada keterlambatan jadwal keberangkatan kapal berikutnya.

“ Karena angin kencang, kapal jadi sulit bersandar. Dampaknya, keberangkatan kapal lain juga ikut mundur. Otomatis jadwal kapal selanjutnya ikut terdorong,” ujar Erik Senin sore.

Beberapa kapal yang mengalami keterlambatan antara lain Wavemaster 6, Majestic Unity, dan Queen Star 6 yang berlayar ke Singapura, serta Citra Legacy 5 dan MDM Express yang menuju Malaysia. Penundaan bervariasi antara 20 hingga 50 menit.

“Hampir satu jam keterlambatannya. Akibatnya , semua jadwal jadi terdampak,” kata Erik.

Secara keseluruhan, diperkirakan lebih dari 500 penumpang terdampak akibat kondisi ini. Penumpang pun diminta agar tetap bersabar dan memperhatikan informasi terbaru yang diberikan oleh operator kapal dan otoritas pelabuhan. Ia menegaskan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama.

“Kami memahami ketidaknyamanan ini. Tapi keselamatan tetap yang paling penting. Kami terus berkoordinasi agar semua jadwal bisa kembali normal secepatnya,” tutup Erik

Erik menjelaskan bahwa penundaan tidak hanya berasal dari sisi Indonesia. Kapal-kapal dari Singapura juga mengalami keterlambatan karena kondisi serupa. Jarak pandang saat melintas laut sangat terbatas, hanya sekitar 100 meter, sedangkan dalam kondisi normal bisa mencapai lebih dari 500 meter. Hal ini memaksa kapal melaju lebih pelan demi alasan keselamatan.

“Delay juga terjadi dari arah Singapura. Jarak pandang kapal saat melintas hanya sekitar 100 meter, padahal normalnya bisa mencapai 500 meter lebih,” terangnya.

Selain faktor cuaca, aktivitas reklamasi di sekitar wilayah Ocarina juga turut memengaruhi kelancaran lalu lintas pelayaran. Penyempitan jalur laut akibat proses reklamasi membuat kapal-kapal harus mengurangi kecepatan, terutama saat kondisi cuaca memburuk.

“Karena reklamasi juga, jalur pelayaran makin sempit. Saat hujan deras dan angin kencang, kapal harus lebih pelan dari biasanya. Padahal sebelumnya juga sudah melaju pelan,” jelasnya. (*)

Reporter: Yashinta

Update