
batampos – Harga sayuran di pasaran kembali merangkak naik dalam sepekan terakhir. Jika sebelumnya berkisar Rp14 ribu per kilogram, kini harga sayur-sayuran hijau sudah mencapai Rp16 ribu per kilogram. Kondisi ini dipicu turunnya hasil panen akibat cuaca yang tidak menentu.
Andi, salah seorang petani sayur di kawasan Marina, mengaku hasil panennya kali ini menurun drastis. Ia menyebut banyak tanaman yang rusak karena curah hujan tinggi disusul panas terik. “Modal sudah banyak keluar untuk pupuk, tapi kangkung malah kena jamur putih. Bayam dan sayuran lain juga banyak yang gagal panen,” keluhnya, Selasa (23/9).
Menurut Andi, harga sayur dari kebun saat ini hanya berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram. Namun karena hasil panen sedikit dan kualitas menurun, keuntungan yang didapat tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus membengkak.
Hal senada juga disampaikan Abdul, petani sayur lainnya. Ia menilai perubahan cuaca yang tidak menentu membuat petani kesulitan menjaga stabilitas hasil panen. “Kalau hujan terus, akar gampang busuk. Kalau panas terik, daunnya kering. Jadi memang banyak yang rusak,” ujarnya.
Sementara itu, di pasar tradisional harga terus bergerak naik. Ibnu, pedagang sayur di Pasar Fanindo, mengatakan kenaikan harga tak bisa dihindari karena pasokan berkurang. “Dari petani lokal saja sedikit yang bisa masuk. Pasokan dari luar daerah juga berkurang karena faktor cuaca. Jadi wajar kalau harga naik,” jelasnya.
Ia menyebut, kenaikan harga sayur ini sudah berlangsung hampir dua minggu terakhir. Para pedagang terpaksa menaikkan harga jual agar tetap mendapatkan keuntungan, meski konsumen mengeluh. “Pembeli tetap ada, cuma jumlahnya berkurang. Orang jadi lebih hemat belanja,” kata Ibnu.
Kondisi ini membuat petani di Batam kian terjepit. Di satu sisi, biaya produksi meningkat karena kebutuhan pupuk dan perawatan tanaman. Di sisi lain, hasil panen menurun sehingga tidak mampu menutup modal.
Masyarakat pun berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama dalam memberikan solusi bagi para petani yang terdampak cuaca ekstrem. Sebab, jika kondisi berlanjut, harga sayuran dikhawatirkan akan terus naik dan semakin membebani konsumen. (*)
Reporter: Eusebius Sara



