Jumat, 16 Januari 2026

Dapur Bergizi di Batam Raup Ratusan Juta, UMKM Lokal Jadi Andalan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Murid SD di Batam menikmati makanan program MBG yang dibagikan di sekolah.

batampos – Di balik semangat sosial untuk memenuhi kebutuhan gizi warga, program Sentra Pangan dan Pemberdayaan Gizi (SPPG) Kota Batam menyimpan potensi ekonomi yang besar. Dari dapur-dapur yang menyuplai ribuan porsi makanan setiap hari, perputaran uang hingga ratusan juta rupiah per bulan ikut menggerakkan ekonomi lokal bahkan menjadi ladang investasi yang menjanjikan.

Program dapur sosial ini terus berkembang sejak diluncurkan. Hingga awal Oktober 2025, total 74 dapur SPPG telah terdaftar, tersebar di seluruh kecamatan di Batam. Namun, baru 59 dapur yang sudah aktif beroperasi, sementara sisanya masih dalam tahap administrasi dan verifikasi.

“Dari 20 September kemarin, tercatat 74 dapur. Yang sudah berjalan 59. Sisanya sedang mendata penerima manfaat dan menyelesaikan administrasi. Sekitar 40 dapur juga tengah menjalani evaluasi,” ungkap Defri Renaldi, Koordinator SPPG Batam, saat dihubungi Batam Pos, Senin (6/10).

Baca Juga: Lauk Basi, Anak Sakit, Program MBG Disorot, Pemerintah Perketat Pengawasan

Program ini menyasar kelompok rentan seperti siswa sekolah, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Tercatat sebanyak 188.742 penerima manfaat tersebar di hampir seluruh kecamatan, kecuali Bulang dan Galang.

“Untuk wilayah dapur, hampir semua kecamatan sudah ada. Yang belum hanya Bulang dan Galang,” tambah Defri.

Setiap dapur memiliki kapasitas produksi berbeda. Namun rata-rata mampu menyiapkan 3.000 hingga 4.000 porsi makanan per hari.

“Kalau maksimal, satu dapur bisa produksi 4.000 porsi per hari. Itu dikalikan 20 hari kerja, berarti bisa sampai 80.000 porsi per bulan,” jelasnya.

Program ini juga membuka peluang bisnis bagi investor lokal. Untuk menjadi mitra dapur SPPG, modal yang dibutuhkan tak kecil sekitar Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar, tergantung fasilitas, bangunan, dan lokasi.

Modal tersebut mencakup pembangunan dapur, pembelian peralatan masak, hingga kendaraan operasional. Sebagai mitra, investor diwajibkan memproduksi minimal 3.000 porsi per hari.

Setiap porsi makanan yang diproduksi dihargai dengan margin Rp2.000 per porsi. Artinya, jika satu dapur memproduksi 4.000 porsi selama 20 hari kerja, keuntungan kotor mencapai Rp160 juta per bulan.

“Keuntungan itu murni untuk pengembalian investasi dan biaya operasional. Bukan untuk dikantongi,” tegas Defri.

Tak hanya menguntungkan investor, program ini juga menjadi penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal. Semua kebutuhan bahan baku dapur—seperti sayuran, daging, hingga bumbu hanya boleh disuplai oleh UMKM lokal yang terdaftar di Batam.

“Pemasok kita wajib dari UMKM lokal, baik itu CV, UD, atau koperasi. Kita ingin perputaran uangnya tetap di Batam,” kata Defri.

Kebijakan ini, kata dia, memastikan program SPPG tidak hanya menyehatkan warga, tetapi juga memperkuat ekonomi daerah dari hulu ke hilir.

Meski dikemas dalam semangat sosial, tak bisa dimungkiri bahwa SPPG kini menjadi ruang baru bagi investasi berbasis kebutuhan dasar. Dengan jumlah penerima manfaat yang besar, dapur yang tersebar luas, dan sistem kerja yang profesional, program ini menjadi contoh bagaimana inisiatif sosial bisa berjalan berdampingan dengan roda bisnis yang sehat.

“Ini bukan sekadar bagi makanan, tapi membangun ekosistem: dari dapur, tenaga kerja, hingga UMKM. Semua bergerak bersama,” tutup Defri. (*)

Reporter: M. Sya’ban

Update