
batampos – Dapur penyedia makanan bergizi (MBG) di kawasan Seipelenggut, Sagulung, resmi ditutup sementara oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam. Penutupan dilakukan sejak Senin (29/9) menyusul kasus 17 siswa SDN 016 Seilekop yang mengalami gejala mual dan pusing usai mengonsumsi menu MBG.
Koordinator SPPG Batam, Defri Frenaldi, mengatakan penutupan ini dilakukan berdasarkan instruksi langsung dari deputi pemantauan dan pengawasan SPPG pusat.
“Ini langkah preventif. Dapur tidak boleh beroperasi sebelum semua persyaratan keamanan dan kelayakan terpenuhi,” tegas Defri, Rabu (2/10).
Baca Juga: Ini Penjelasan Medis Terkait Murid SDN 016 yang Muntah dan Mual Usai Konsumsi MBG
Untuk bisa kembali beroperasi, dapur harus memenuhi sejumlah syarat teknis. Di antaranya adalah hasil pemeriksaan makanan oleh BPOM, sertifikasi izin sanitasi, uji kualitas air, serta pemeriksaan kesehatan lingkungan dari puskesmas dan laboratorium kesehatan masyarakat.
“Semua hasil uji ini akan jadi dasar keputusan apakah dapur bisa buka kembali atau tidak,” jelas Defri.
Sementara dapur dinyatakan tidak aktif, program MBG untuk sekolah-sekolah yang sebelumnya disuplai dari Seipelenggut dihentikan sementara. Jika nantinya dapur dinyatakan tidak layak beroperasi secara permanen, distribusi makanan akan dialihkan ke dapur MBG lain yang masih aktif.
“Kami tidak ingin distribusi MBG terhenti. Kalau memang harus tutup permanen, akan kita alihkan ke dapur lain,” tambahnya.
Sebagai langkah transparansi, Defri menyebut bahwa seluruh dapur penyedia MBG nantinya diwajibkan mengunggah menu makanan harian ke akun Instagram resmi SPPG. Hal ini bertujuan memudahkan pemantauan publik sekaligus memastikan makanan yang diberikan sesuai standar.
Ia juga meminta pihak sekolah untuk aktif menyampaikan keluhan jika ada masalah pada makanan MBG.
“Kalau ada makanan bermasalah, segera lapor. Supaya bisa langsung ditarik sebelum berdampak luas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Defri menegaskan bahwa SPPG akan membedakan dengan jelas antara kelalaian teknis dan unsur kesengajaan dalam penyediaan makanan.
“Kalau ditemukan ada unsur sengaja membahayakan, tentu akan kami proses secara hukum. Tapi kalau hanya kelalaian, akan dievaluasi secara internal,” tegasnya.
Kasus di Seilekop ini menjadi perhatian serius. Meski pihak rumah sakit belum menyatakan secara pasti bahwa siswa mengalami keracunan, evaluasi menyeluruh terhadap dapur dilakukan untuk menghindari insiden serupa.
Kini, SPPG melakukan inspeksi menyeluruh terhadap seluruh dapur MBG aktif di Batam. Pemeriksaan menyasar kualitas bahan makanan, sanitasi dapur, air bersih, serta lingkungan penyimpanan.
“Tujuan awal program MBG ini mulia, untuk meningkatkan gizi anak-anak. Karena itu kami ingin pastikan benar-benar aman, bersih, dan berkualitas,” tutup Defri. (*)
Reporter: Eusebius Sara



