
Tiga dekade lalu, sebuah ponsel merah menyala menjadi saksi lahirnya teknologi telekomunikasi digital pertama di Indonesia. Dari kota kecil bernama Batam, suara Prof. B.J. Habibie mengalir lewat jaringan seluler generasi kedua (2G), menembus jarak ribuan kilometer ke Jakarta dan London. Sebuah sambungan yang sederhana kala itu, tapi menandai lahirnya Telkomsel dan babak baru dalam sejarah digital bangsa.
Saat ini, dari kota yang sama, jaringan itu telah menjelma menjadi kekuatan besar bernama Hyper 5G—memampukan pabrik berpikir, mesin bergerak sendiri, bahkan dokter mengoperasi pasien dari ribuan kilometer jauhnya. Bila saat itu adalah permulaan, maka kini adalah akselerasi.
Reporter: MUHAMMAD NUR
Peristiwa bersejarah itu lahir tanggal 30 Agustus 2024. Namun, boleh jadi belum masuk kalender nasional, tapi di dunia medis dan teknologi komunikasi, hari itu tercatat sebagai penanda peradaban baru.
Di hari itu, untuk pertama kalinya di Indonesia bahkan Asia Tenggara, sebuah operasi telerobotik berhasil dilakukan tanpa keterlibatan langsung antara tangan dokter dan tubuh pasien. Tim urologi dari RS Ngoerah, Bali, yang terpaut 1.200 kilometer, mengendalikan robot bedah di RSCM Jakarta untuk mengangkat kista ginjal pasien berusia 71 tahun.
Tak ada delay. Tak ada jeda. Gerakan tangan dokter di Denpasar diikuti sempurna oleh robot di Jakarta. Semua itu dimungkinkan oleh kestabilan jaringan 5G Telkomsel dengan latensi ultra-rendah, di bawah 25 milidetik.
Keberhasilan ini adalah prestasi dan menandai lebih dari sekadar capaian teknologi. Ia membuktikan konektivitas bukan lagi sekadar penghubung antarmanusia, tapi telah menjadi jembatan untuk menyelamatkan nyawa.
Namun 5G bukan hanya untuk dunia medis. Teknologi ini juga menggeliat di jantung industri manufaktur Indonesia, terutama di tempat ia dilahirkan: Kota Batam.
Pada 24 April 2025, PT Pegaunihan Technology Indonesia—anak perusahaan raksasa global Pegatron—mengaktifkan Smart Factory pertama di Batamindo Industrial Park, didukung penuh jaringan 5G Private Network Standalone (SA) dari Telkomsel.
Di dalam pabrik itu, 1.200 kartu SIM 5G tertanam dan terhubung ribuan sensor dan perangkat otomatisasi (IoT). Setiap gerak mesin, suhu, tekanan, hingga performa produksi dimonitor dan dikendalikan secara real-time.
Otomatisasi bukan lagi mimpi. Ia bekerja siang dan malam tanpa lelah, menghapus inefisiensi, meminimalisir kesalahan, dan meningkatkan kualitas produk.
“Kolaborasi dengan Telkomsel sebagai pionir 5G di Indonesia menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Smart Factory yang adaptif dan efisien. Ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga soal masa depan,” ujar Direktur PT Pegaunihan, Andy Hsieh.

Masa depan itu kini menjadi arus deras yang semakin tak terbendung. Kementerian Perindustrian mencatat, sepanjang 2024, sektor manufaktur menyerap investasi hingga Rp721,3 triliun—hampir setengah dari total investasi nasional. Lebih dari 2,4 juta tenaga kerja menggantungkan hidup di dalamnya.
“Langkah konkret Telkomsel dan Pegatron ini mempercepat transformasi digital industri manufaktur,” ujar Dirjen ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, ketika hadir di peresmian smart factory PT Pegaunihan.
“Kami dari Kemenperin terus mendorong agar kemitraan seperti ini tumbuh di sektor lain, agar manfaat teknologi menyentuh semua lapisan industri,” lanjutnya.
Wong Soon Nam, selaku Direktur Planning & Transformation Telkomsel, di sela-sela peresmian pengoperasian smart factory tersebut mengungkapkan, Telkomsel melakukan langkah cepat dalam mendukung akselerasi transformasi digital sektor manufaktur di Indonesia.
“Dengan solusi 5G Private Network yang kami rancang secara khusus, PT Pegaunihan Technology Indonesia dapat meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, dan daya saing untuk Smart Manufacturing di era Industri 4.0. Kami berharap, inisiatif ini turut memperkuat ekosistem manufaktur nasional dan mendorong kemajuan teknologi di Indonesia,” ujarnya.
Di Batam sendiri, industri tumbuh pesat. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat, ada lebih dari 30 kawasan industri di Batam dengan lebih dari 1.500 tenant, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Mayoritas berorientasi ekspor.
Telkomsel sendiri mengakui bahwa investasi di Batam bukan tanpa alasan. Kota ini menjadi titik strategis bagi ekspansi Hyper 5G. Saat ini, 112 BTS 5G telah berdiri, menjadikannya wilayah dengan jaringan 5G terluas dan paling stabil di Indonesia.
Telkomsel mencatat 23 persen dari perangkat seluler di wilayah ini sudah 5G-ready, dengan konsumsi data per pengguna mencapai 24 GB per bulan.
Kecepatan unduh bisa mencapai 610 Mbps, unggah lebih dari 100 Mbps, dan latensi menyentuh angka luar biasa—hanya 10 milidetik.
“Kami sudah mengecek mulai dari kawasan Harbour Bay, Nagoya, dan sekitarnya; Batam Center dan Engkuputri; hingga area Nongsa dan Bandar Udara Internasional Hang Nadim, jaringan 5G stabil,” ujar Indra Mardiatna, Direktur Network Telkomsel, dalam perbincangan santai di gedung GrhaPARI Telkomsel Batam, 16 Juni lalu.

Lebih dari sekadar infrastruktur, Telkomsel juga menyematkan kecerdasan buatan (AI) dalam setiap simpul jaringan. Dari pemeliharaan prediktif di pabrik hingga customer care berbasis AI seperti Veronika dan TED, semua terintegrasi dalam sistem otonom yang bekerja nyaris tanpa campur tangan manusia.
Tak heran bila Telkomsel memborong tujuh penghargaan internasional dari Ookla Speedtest Awards 2024, termasuk predikat Best 5G Gaming Experience dan Fastest Mobile Network.
“Ini bukan akhir. Ini baru permulaan. Kami akan terus menambah BTS, memperluas jangkauan, dan memastikan semua sektor—dari manufaktur, kesehatan, hingga pendidikan—terhubung dengan 5G,” ujar Indra.
Pemerintah Kota Batam menyambut ini dengan antusias. “Investor makin mudah kami yakinkan karena teknologi 5G sudah tersedia,” kata Amsakar Achmad, Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam.
“Teknologi ini adalah magnet baru Batam,” lanjutnya, 16 Juni lalu.
Senada, Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid menilai, sistem otomasi akan jadi keharusan di masa depan. “Industri akan bergantung pada teknologi. Dan pekerja pun harus ikut menyesuaikan, karena tenaga kerja ke depan adalah mereka yang menguasai mesin, bukan digantikan mesin,” tuturnya.
Andai Habibie masih hidup hari ini, ia mungkin akan tersenyum puas.
Dari ponsel batu bata merah yang ia genggam saat melakukan panggilan GSM pertama 30 tahun lalu, hingga ribuan sensor 5G yang kini menyatu dalam tubuh industri digital, mimpinya telah hidup dan menyala terang.
Ia pasti bangga melihat kota kelahiran Telkomsel itu tumbuh menjadi barometer teknologi nasional. Bangga bahwa Telkomsel bukan hanya membangun jaringan, tapi juga masa depan.
Dan mungkin, sambil menatap layar ponsel cerdas masa kini, ia akan berkata, seperti pesan terakhirnya untuk Telkomsel:
“Teruslah memberi yang terbaik untuk bangsa. Karena kalian adalah anak dan cucu ideologis-intelektual saya.” (***)



