Rabu, 7 Januari 2026

Dialog Kebudayaan dan Identitas, Gebrak Pemikiran Masyarakat Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
LSM Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak) menggelar dialog bertajuk Kebudayaan dan Identitas. Pada kegiatan ini menghadirkan narasumber berkualitas yakni Uba Ingan Sigalingging (kiri) dan Prof Yusmar Yusuf (tengah). Foto: Fiska Juanda/Batam Pos

batampos – LSM Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak) menggelar dialog bertajuk Kebudayaan dan Identitas, Kamis (15/6) di Bandung Resto, Batam. Acara yang dipandu oleh Pieter Purek P Pureklolong itu, menghadirkan narasumber berkualitas yakni Uba Ingan Sigalingging dan Prof Yusmar Yusuf.

Uba sebagai narasumber pertama, menyampaikan tentang teori-teori dan filsafat kebudayaan serta sejumlah narasi pengantar. Sementara itu, Prof Yusmar membuka penyampaiannya, dengan kalimat-kalimat yang menghentak. Bahkan, tak jarang kalimat tersebut menohok ke sanubari peserta dialog.

“Kita serombongan ketidaksengajaan yang tengah menyelenggarakan kesesatan seraya menepuk-nepuk dada tentang tujuan yang serba tak pasti,” kata Yusmar.

Baca Juga: Satgas TPPO Polda Kepri Ringkus Dua Penyalur PMI ke Timur Tengah

Rangkaian kalimat dari Yusmar sampaikan, juga menyerempet hingga ke politik identitas. Ia menyampaikan, tidak melarang politik identitas. Yusmar justru mendorongnya sebagai sebuah tindakan imperatif.

“Politik identitas itu bagus dan sebuah imperatif. Tapi, mempolitisasi identitas adalah pangkal masalah dan awal kiamat,” ucapnya.

Ia mengatakan, negara dalam semangat politik identitas tidak saja mengatur ruang-ruang publik. Namun, juga masuk ke ruang-ruang privat (kehadiran teknologi represif bernama CCTV) yang diikuti lembaga-lembaga kontrol bergaya polisional.

Baca Juga: Lomba Baca Puisi di Baloi Kolam, Suarakan Hak Rakyat Kecil

“Contoh politik identitas itu seperti KTP, KK dan dokumen negara untuk kepentingan warga dikaitkan dengan Anda agama apa, suku apa, minoritas dan keturunan apa,” ujarnya.

Buah pikiran Prof Yusmar mengenai kebudayaan dan identitas, cukup membuat para peserta terhentak. Usai Prof Yusmar mengakhiri pemaparannya.

Banyak peserta yang mengacungkan tangan. Mereka tergelitik dan terlecut dengan berbagai pernyataan Prof Yusmar. Sehingga, diskusi mengalir lancar, bahkan waktu yang disediakan panitia masih dirasa kurang cukup.

Baca Juga: Tekan Angka Kemiskinan Ahli Waris, Jasa Raharja Beri Pelatihan Memasak dan Membatik

Beberapa peserta diskusi mengatakan, pemikiran Prof Yusmar sangat mengusik ruang berpikirnya. Ada yang awalnya mengantuk atau berceloteh dengan teman disampingnya. Namun, begitu Prof Yusmar berorasi, semua mata pengunjung tertuju kepadanya.

Apresiasi kegiatan ini, juga datang dari Kepala Dinas Kebudayaan Kepri, Juramadi Esram. Ia mengatakan, dialog bertemakan kebudayaan, harus kembali dihidupkan di tengah masyarakat.

“Masyarakat modern meninggalkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Juramadi.

Baca Juga: Perampokan Pengusaha Money Changer di Batam Direncanakan Selama Sebulan

Sementara itu, Ketua LSM Gebrak, Agung Widjaja, berharap, dialog ini dapat memberikan pencerahan, membangun perspektif demokrasi yang sehat menjelang tahun politik 2024.

Ia mengatakan, jelang pemilu istilah politik identitas sangat familiar. Banyak yang menganggap praktik politik identitas sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya.

“Dari yang disampaikan Prof Yusmar tadi sangat jelas. Praktik politik identitas dan praktik politisasi identitas adalah dua hal yang berbeda. Semoga dengan dialog ini bisa bermanfaat buat masyarakat Batam dan Kepri pada umumnya, dalam menghadapi tahun politik,” ujar Agung.(*)

Reporter: Fiska Juanda

Update