Minggu, 18 Januari 2026

Didominasi Telkomsel, Merdeka Sinyal di Wilayah 3T Kepri

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Infrastruktur jaringan Telkomsel wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Kepulauan Riau yang dipaparkan pada saat perluasan jaringan 5G Batam di Gedung GrhaPARI Telkomsel di Batam pada 16 Juni 2025.
Infrastruktur jaringan Telkomsel wilayah Sumatera, termasuk Provinsi Kepulauan Riau yang dipaparkan pada saat perluasan jaringan 5G Batam di Gedung GrhaPARI Telkomsel di Batam pada 16 Juni 2025. Foto.Muhammad Nur/Batam Pos

batampos – Di bibir Pantai Nongsa, sore itu, 18 Mei 2025, jemari Faris Ilham menari di atas layar ponsel. Anak berusia 15 tahun itu menatap Pulau Putri, sepotong daratan kecil di ujung utara Batam yang berdiri tegak menghadap Singapura.

Klik. Klik. Jepretan kameranya menangkap pasir putih, laut biru, dan gedung-gedung pencakar langit negeri jiran.

Kakak perempuannya, Nasya Thalita, ikut larut. Mereka berswafoto, lalu mengunggahnya ke media sosial. Senyum keduanya merekah, seakan menemukan sesuatu yang dulu mustahil: kebebasan bersinyal di perbatasan negeri.

“Dulu, kalau ke pantai ini, yang muncul justru sinyal Singapura. Kami takut buka hape, takut kena roaming. Sekarang beda. Sinyal Telkomsel sudah mendominasi,” ujar Nisyana, ibu Faris dan Nasya.

Baca Juga: Dari Batam, Telkomsel Membangun Negeri

Pulau Putri, yang sempat terancam hilang digerus abrasi, kini berdiri kokoh setelah dipasangi pemecah ombak.

Ia bukan hanya benteng alam, tapi juga mercusuar digital. Di sinilah NKRI diteguhkan, dan di sinilah sinyal Indonesia menyalakan cahaya kebebasan.

Merdeka sinyal—dua kata sederhana yang sejak lama jadi kerinduan warga Kepulauan Riau. Di provinsi yang 97 persen wilayahnya laut, di mana ribuan pulau berderet dari Natuna hingga Lingga, sinyal telekomunikasi sering datang dan pergi seperti ombak.

“Dengan kondisi geografis seperti itu, kami ingin warga di kawasan terpencil bisa mengakses informasi dan berkomunikasi dengan dunia luar,” kata Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, sehari sebelum peringatan HUT ke-80 RI.

Pulau Putri dilihat dari bibir Pantai Nongsa.
Pulau Putri dilihat dari bibir Pantai Nongsa. F. Dok Pemko Batam

Ansar tahu, sinyal bukan sekadar barisan batang kecil di pojok layar. Ia adalah nyawa. Nelayan bisa tahu harga ikan, petani mendapat kabar pasar, siswa di pulau terpencil bisa belajar daring, bidan desa berkonsultasi dengan dokter di kota. Bahkan aparat desa bisa melayani administrasi tanpa perlu menyeberangi laut.

Perjalanan menuju kemerdekaan sinyal tidak sebentar. Tahun 2021, Ansar terbang ke Jakarta, mengetuk pintu Kementerian Komunikasi dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Ia meminta percepatan pembangunan menara BTS di kawasan 3T.

Dari permintaan itu lahirlah 77 menara—menjulang di sudut-sudut pulau, menjadi jembatan tak kasatmata yang menghubungkan desa dengan dunia.

Sedikit demi sedikit, blankspot menyusut. Dari 56 titik pada 2022, kini tinggal 22 titik di medio 2025. Batam dan Tanjungpinang sudah bebas sepenuhnya.

Baca Juga: Aktifkan 112 BTS untuk Dukung Ekonomi Digital, Telkomsel Perluas Layanan 5G di Batam

Di lima kabupaten lain, 295 kawasan telah merdeka sinyal, meski masih ada 124 kawasan yang lemah dan 22 titik yang tetap sunyi.

Akhir Juli lalu, giliran Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura bersama Kadis Kominfo Hendri Kurniadi menemui Kementerian Komunikasi dan Digital. Data 22 blankspot dan 124 titik lemah sinyal di Kepri resmi masuk daftar prioritas pembangunan BTS.

Nasya (diayunan) dan Faris (dikejauhan) bercengkrama di Pantai Nongsa, 18 Mei 2025 lalu.
Nasya (diayunan) dan Faris (dikejauhan) bercengkrama di Pantai Nongsa, 18 Mei 2025 lalu. F. Muhammad Nur

“Secara umum Kepri sudah merdeka sinyal. Tinggal menuntaskan 22 titik blankspot itu,” ujar Ansar.

BTS di pulau-pulau terluar ibarat obor digital. Desa yang dulu terisolasi kini terhubung. UMKM menjajakan produk lewat e-commerce, guru mengurus kenaikan pangkat dari layar laptop, layanan kesehatan hadir lewat konsultasi daring.

“Semua lebih cepat, singkat, real time, terukur,” kata Ansar.

Telkomsel menjadi aktor utama di balik perubahan ini. “Kami berkomitmen mendukung pemerataan akses telekomunikasi di seluruh Indonesia, termasuk wilayah 3T Kepri,” ujar Agus Sugiarto, GM Network Operation & Productivity Telkomsel Sumbagteng.

Bersantai di salah satu pantai di Batam
Nasya (jilbab hitam) dan Faris bermain di Pantai Nongsa, 18 Mei 2025 lalu. F. Muhammad Nur

Indra Mardiatna, Direktur Network Telkomsel, bahkan menyebut Batam sebagai saksi sejarah. “Sejak menyalakan BTS seluler pertama Indonesia di Batam, 30 tahun lalu, kota ini jadi barometer kesiapan teknologi jaringan Telkomsel,” ujarnya. Kini, Batam tercatat memiliki 112 BTS 5G—terbanyak di Sumatera.

Di Pantai Nongsa, Faris dan Nasya masih bercengkerama. Mereka menatap layar ponsel yang penuh sinyal, sementara di kejauhan kapal-kapal asing melintas dan langit perlahan berwarna jingga.

Di sudut perbatasan negeri, sinyal itu bukan lagi sekadar baris kecil di layar gawai. Ia menjelma bendera merah putih yang berkibar di udara digital Kepulauan Riau. Berkibar tanpa tiang, tanpa kain, tapi terasa nyata: menghadirkan kemerdekaan baru bagi masyarakat pulau-pulau terluar.

Merdeka sinyal bukan hanya capaian teknologi, tapi juga pernyataan: bahwa Indonesia hadir, sampai ke titik paling jauh sekalipun. (***)

 

Laporan: Muhammad Nur

Update