Kamis, 15 Januari 2026

DKPP Batam Ambil Sampel Bawang di Batuampar, Masyarakat Diminta Waspada

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Penampakan ‘gunung’ bawang di Melchem yang kini sudah ditimbun. F. Eusebius Sara/Batam Pos.

batampos – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam langsung turun tangan menyusul viralnya temuan tumpukan bawang bombai dan bawang Burma yang dibuang di kawasan Kampung Malcem, RT 02/RW 05, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar.

Kepala DKPP Batam, Mardanis, memastikan pihaknya telah menurunkan tim untuk mengambil sampel guna memastikan keamanan bahan pangan tersebut.

“Saya baru baca pagi ini dan langsung instruksikan anggota turun ke lokasi. Tim sudah mengambil sampel menggunakan alat rapid test untuk pemeriksaan awal,” ujar Mardanis, Senin (27/10).

Ia menjelaskan, pihaknya juga tengah menelusuri asal muasal bawang yang dibuang dalam jumlah besar itu. Menurutnya, setiap barang impor yang masuk ke Batam seharusnya melalui proses karantina.

Baca Juga: Belum Diketahui Motif dan Siapa Pembuang Bawang di Melcem

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Bea Cukai dan Karantina. Semua barang impor mestinya dilepas melalui karantina. Makanya kami selidiki dulu jalurnya seperti apa,” katanya.

Mardanis mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan bahan pangan impor yang dibuang dan tidak jelas asal-usulnya. “Kalau bawang bombai itu mahal, kok bisa dibuang banyak. Jadi kami imbau masyarakat untuk waspada karena kita tidak tau dampaknya seperti apa,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa urusan kelayakan bahan pangan sebenarnya berada di bawah kewenangan DKPP.

“Ini domainnya Dinas Ketahanan Pangan, karena menyangkut bahan pangan. Dari sisi kesehatan, selagi bahan tersebut masih memenuhi syarat untuk dikonsumsi, tidak ada masalah,” ujar Didi.

Ia menambahkan, yang perlu diperhatikan adalah dampak bila bawang dikonsumsi secara berlebihan. Menurutnya, mengonsumsi terlalu banyak bawang terutama dalam kondisi mentah dapat memicu beberapa gangguan kesehatan.

“Kalau berlebihan, bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, gas, mulas, dan refluks asam.,” jelasnya.

Baca Juga: Cegah Curanmor, Warga Sagulung Diimbau Waspada dan Gunakan Kunci Ganda

Didi menuturkan, konsumsi berlebih juga dapat menyebabkan iritasi lambung pada orang yang memiliki maag atau gastritis, bahkan dapat memengaruhi pembekuan darah.

“Bawang bisa mengencerkan darah. Kalau dikonsumsi berlebihan, terutama bagi yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah seperti aspirin atau warfarin, bisa meningkatkan risiko perdarahan,” katanya.

Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan lokasi pembuangan sudah ditimbun dengan tanah menggunakan alat berat pada Senin pagi. Petugas keamanan kawasan berjaga ketat dan melarang warga maupun awak media mendekat.

“Sudah tidak ada bawang. Jangan ambil gambar atau masuk lagi,” ujar seorang petugas keamanan dengan nada tegas.

Namun, penimbunan itu justru memicu rasa penasaran warga. Banyak yang datang kembali untuk melihat lokasi yang sempat viral sebagai “gunung bawang”. Sebagian warga bahkan datang dari luar Batuampar, seperti dari Batuaji dan Sekupang.

“Semalam sampai macet karena ramai orang datang. Ada yang dari Batuaji dan Sekupang, katanya mau lihat gunung bawang yang viral itu,” ujar Mustaqim, warga Kampung Malcem.

Meski sudah ditimbun, bau menyengat masih tercium di sekitar permukiman warga. Warga berharap pemerintah segera menindaklanjuti kasus ini agar tidak menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan.

“Kalau memang bawang itu tidak layak, ya jangan dibuang sembarangan. Kasihan warga, baunya masih terasa,” kata seorang warga setempat.

Hingga Senin siang, belum ada keterangan resmi dari pengelola kawasan industri maupun aparat terkait mengenai siapa dan perusahaan mana yang membuang bawang tersebut. Dugaan sementara, tumpukan bawang itu berasal dari gudang di kawasan industri sekitar, dan dibuang karena masalah legalitas atau izin edar. (*)

Update