
batampos – Dua pasar rakyat yang dibangun pemerintah pusat di Kota Batam sejak tahun 2019 hingga kini belum juga difungsikan. Yakni Pasar Rakyat Batuaji di Tanjunguncang dan Pasar Wan Sri Beni di Marina, Sekupang. Meski menelan anggaran miliaran rupiah, kedua pasar tersebut justru terbengkalai dan kini dalam kondisi memprihatinkan.
Pantauan Rabu (23/7), Pasar Rakyat Batuaji tampak dikelilingi semak belukar dan tidak terawat. Atap bocor, kaca pecah, hingga dinding penuh coretan jadi pemandangan yang mencolok. Bangunan dalam keadaan terkunci rapat dan tidak pernah digunakan. Warga sekitar menyayangkan kondisi tersebut, sebab pasar berada di dekat Rusunawa Pemko Batam dan pemukiman padat yang seharusnya mendukung aktivitas ekonomi.
Menurut Arman, warga setempat, pernah ada tiga pedagang mencoba berjualan di bagian luar pasar. Namun karena sepi pengunjung dan tidak adanya pengelolaan, ketiganya berhenti. “Sudah dicoba, tapi tidak ada yang datang. Pedagang pun mundur satu-satu,” ujarnya.
Kepala Bidang Pasar Disperindag Batam, Elfasi, sebelumnya mengakui kondisi ini dan menyebut pasar kaget menjadi salah satu penyebab utama pasar resmi sulit beroperasi. Disperindag berencana menertibkan pasar-pasar kaget dan mengarahkan pedagangnya untuk menempati pasar-pasar resmi seperti Pasar Batuaji dan Wan Sri Beni. Namun hingga kini, rencana tersebut belum juga berjalan.
Pasar Wan Sri Beni di Marina juga bernasib sama. Pasar dengan bangunan cukup luas dan lapak lengkap ini belum pernah digunakan. Enam tahun berlalu sejak rampung dibangun, lokasi pasar kini dikelilingi semak, jalan masuk belum tersedia, bahkan dipenuhi tumpukan sampah di akses jalan masuk sehingga terlihat semrawut.
Warga Marina menilai Pemko Batam kurang serius memanfaatkan fasilitas yang telah dibangun. Mereka menuntut agar akses jalan segera dibangun, fasilitas seperti air, listrik, dan ATM disediakan, serta kawasan pasar dibersihkan. “Kalau tidak ada perbaikan, pasar ini hanya akan jadi monumen kosong,” kata Suradi.
Sofia, warga perumahan Devin Premier dekat pasar, menyebut lokasi pasar cukup strategis karena jauh dari pasar besar lainnya. Namun, ia menekankan pentingnya kenyamanan lingkungan agar pembeli dan pedagang merasa aman dan betah. “Bukan hanya tempatnya yang harus siap, tapi suasananya juga harus mendukung,” ujarnya.
Kepala Disperindag Batam Gustian Riau menyatakan bahwa pihaknya kini mencoba menggandeng pihak swasta untuk menghidupkan Pasar Wan Sri Beni. Pemerintah juga akan mengakomodasi pedagang liar di sekitar Marina agar berpindah ke pasar resmi tersebut.
Disperindag mengakui telah belajar dari kegagalan sebelumnya, seperti Pasar TPID II di Dreamland yang tidak bertahan lama akibat minim pengunjung. Kini, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan warga dinilai sebagai jalan terbaik untuk menghidupkan kembali pasar yang mangkrak. Harapannya, jika benar-benar dikelola serius, kedua pasar ini bisa menjadi pusat ekonomi warga yang selama ini dinantikan. (*)
Reporter: Eusebius Sara



