Rabu, 28 Januari 2026

Efisiensi Industri dan Pembatasan Kegiatan ASN Picu Ancaman Pengangguran di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Rafki Rasyid

batampos – Meskipun tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengalami penurunan menjadi 6,89 persen per Februari 2025, kondisi di Kota Batam justru dinilai berpotensi memburuk. Sejumlah faktor, mulai dari efisiensi industri hingga kebijakan pembatasan kegiatan aparatur sipil negara (ASN), dikhawatirkan mendorong peningkatan angka pengangguran di kota industri tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengungkapkan bahwa data spesifik mengenai pengangguran di Batam baru akan dikumpulkan melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 mendatang. Meski demikian, sejumlah indikator awal mengarah pada kemungkinan memburuknya situasi ketenagakerjaan.

“Saat ini, banyak perusahaan industri di Batam menerapkan sikap wait and see, terutama terkait kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan penundaan produksi dan perekrutan tenaga kerja baru,” jelas Eko, Senin (19/5).

Selain sektor industri, penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam juga memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata dan perdagangan.

“Sektor-sektor seperti perhotelan, restoran, dan transportasi yang sangat bergantung pada pergerakan wisatawan kini mulai melemah,” tambahnya.

Eko juga menyebut dampak dari kebijakan pembatasan kegiatan ASN di hotel-hotel yang mulai diberlakukan beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan efek domino terhadap ekonomi lokal, khususnya terhadap pelaku usaha jasa dan pekerja informal.

“Terkait pengurangan kegiatan ASN di hotel tentunya berdampak pada perekonomian dan berpotensi demikian (penganguran-red),” ungkapnya.

Sementara itu, secara umum TPT di Provinsi Kepri tercatat menurun sebesar 0,05 persen poin dibandingkan Februari 2024. Namun secara absolut, jumlah pengangguran justru mengalami kenaikan tipis sekitar 440 orang, menjadi 75.210 orang dari total angkatan kerja sebanyak 1.091.750 orang.

Kepala BPS Kepri, Margaretha Ari Anggorowati, menuturkan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi lapangan kerja terbesar di Kepri, diikuti oleh sektor pemerintahan, pendidikan dan kesehatan, serta perdagangan. Namun ia mengingatkan bahwa dinamika ketenagakerjaan sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi global maupun kebijakan domestik.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid sebelumnya mengatakan, efisiensi anggaran dan pembatasan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai berdampak besar terhadap sektor perhotelan. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) yang sebelumnya sudah dijadwalkan, kini mulai ditunda.

“Ini sangat berpengaruh karena selama ini yang banyak memesan kegiatan seperti pameran, pertemuan, workshop, dan sosialisasi adalah pemerintah. Dengan adanya pengurangan ini, kita harus bersiap karena beberapa hotel berpotensi melakukan PHK,” ujar Rafki.

Meskipun di Batam belum ada laporan resmi mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan, Rafki menyebutkan bahwa di beberapa daerah lain sudah terjadi pengurangan karyawan akibat penurunan kegiatan pemerintah hingga 30 persen.

“Penurunan 30 persen itu cukup besar. Kalau ini terus berlanjut, mau tidak mau akan ada pengurangan karyawan. Sebab, untuk bertahan, hotel-hotel harus melakukan efisiensi agar tidak sampai gulung tikar,” jelasnya.

Rafki menambahkan bahwa beberapa daerah di Jawa sudah mulai mengalami dampak dari kebijakan efisiensi ini. Namun, di Batam sendiri, situasi masih dalam tahap pemantauan.

Sebagai langkah mitigasi, Rafki menyarankan agar Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan BP Batam mengadakan event berskala internasional guna menutup kekosongan dari sektor MICE pemerintah. Menurutnya, even internasional tidak memerlukan anggaran besar karena dapat ditopang melalui tiket masuk dan sponsorship.

“Yang bisa dilakukan adalah menggelar event-event internasional melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Ini bisa jadi solusi agar hotel-hotel tetap hidup,” katanya.

Selain itu, Rafki juga mengungkapkan bahwa saat ini wisata golf di Batam sedang mengalami peningkatan kunjungan, terutama dari wisatawan Korea. Banyak wisatawan yang tinggal selama satu bulan di Batam untuk belajar golf, khususnya di Palm Spring.

“Setiap minggu selalu ada wisatawan asing datang ke Batam untuk bermain golf. Ini bisa menjadi peluang bagi hotel-hotel untuk tetap bertahan,” tambahnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update