Jumat, 16 Januari 2026

Ekonomi Kepri Triwulan II 2025 Tertinggi se-Sumatera, Inflasi Terkendali

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi ekspor melalui Pelabuhan Batuampar, Batam.

batampos – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan tren positif. Pada triwulan II 2025 ini, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 7,14 persen (year-on-year), meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat 5,16 persen.

Capaian ini tidak hanya menandai pemulihan ekonomi pasca pandemi, tapi juga menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Sumatera.

Secara kumulatif, hingga pertengahan 2025, ekonomi Kepri telah tumbuh sebesar 6,15 persen. Pertumbuhan ini memberikan kontribusi 7,18 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Sumatera.

Perwakilan Bank Indonesia Kepri, melalui siaran persnya, menyampaikan bahwa sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 6,96 persen. Sektor ini menyumbang kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri, yaitu sebesar 2,91 persen.

Baca Juga: Diskominfo Batam Segera Edarkan Aturan Pembatasan Penggunaan HP dan Game Roblox di Sekolah

Aktivitas ekspor-impor juga meningkat signifikan seiring membaiknya konektivitas, khususnya dengan Singapura. Sektor transportasi dan pergudangan bahkan melonjak tajam, tumbuh hingga 24,21 persen.

Kinerja sektor konstruksi juga menunjukkan tren kuat dengan pertumbuhan 7,75 persen, didorong oleh proyek-proyek besar seperti pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pembangunan Terminal 2 Bandara Hang Nadim, pengembangan KEK Kesehatan Internasional, serta penataan berbagai ruas jalan utama.

Di sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh naiknya investasi yang tercermin dari peningkatan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 8,70 persen. Penanaman modal asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN) tetap aktif, terutama di sektor industri pengolahan dan kawasan strategis seperti Natuna.

Sementara konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga, ditopang oleh momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan long weekend yang mendorong belanja masyarakat.

Meski pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi tetap terkendali. Pada Juli 2025, inflasi Kepri tercatat sebesar 0,19 persen secara bulanan (mtm) dan 1,97 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Tanjungpinang, Batam, dan Karimun, dengan komoditas utama penyumbang inflasi berasal dari kelompok makanan dan minuman.

Baca Juga: Ini 5 Perusahaan yang Banyak Pelamar di Fair Job Batam 2025

Kelompok harga yang naik paling menonjol antara lain rokok kretek, daging sapi, cabai, dan bawang. Sementara beberapa kelompok lain seperti pakaian dan kesehatan justru mengalami penurunan harga.

Ke depan, Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Kepri akan tetap solid. Penyelesaian proyek strategis nasional (PSN), pengembangan kawasan industri dan pariwisata, serta potensi lonjakan wisatawan asing diyakini akan memperkuat struktur ekonomi daerah. Potensi masuknya wisatawan dari negara tetangga seperti Thailand dan Kamboja juga menjadi faktor positif bagi pemulihan sektor jasa.

Namun demikian, Bank Indonesia tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko global, seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan dagang Amerika Serikat yang bisa berdampak pada kinerja ekspor.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat sinergi, melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan peran kelembagaan daerah, serta koordinasi pengendalian inflasi yang lebih responsif. (*)

 

Reporter: M Sya’ban

Update