
batampos– Pertumbuhan ekonomi Kepri mengalami perlambatan. Terlihat dari data pertumbuhan ekonomi dari kuartal pertama hingga ketiga 2023.
Kuartal pertama, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 6,51 persen, lalu kuartal kedua 5,04 persen dan kuartal ketiga hanya 4,88 persen.
“Perlambatan cukup dalam, bahkan sampai di bawah 5 persen. Tumbuh 4,88 persen saja di kuartal ketiga. Perlu diwaspadai seluruh stakeholder yang ada di Kepri,” kata Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, Senin (13/11).
Ia mengatakan, jika pemerintah daerah tidak serius menangani ini, akan berdampak terhadap sektor perekonomian lainnya di Kepri.
“Wajib diwaspadai,” ujar Rafki.
Rafki mengatakan, ada beberapa penyebab pertumbuhan ekonomi melambat. Penyebab eksternal adalah perang Rusia dan Ukraina yang tak kunjung selesai.
Lalu, bertambah dengan peperangan Israel dengan Palestina. Sehingga, beberapa negara terdampak, menahan diri untuk berbelanja.
“Akibatnya, permintaan barang di Kepri mengalami penurunan,” tuturnya.
Hal itu dapat dilihat dari nilai net ekspor yang mengalami kontraksi. “Ekspor turun, impor meningkat. Jadi beban pertumbuhan (ekonomi) di Kepri,” tuturnya.
Sedangkan faktor internal, Rafki mengatakan, salah satunya adalah kerusuhan demo relokasi Rempang.
Selain itu, tarif kontainer yang masih dianggap tinggi oleh para pengusaha. Akibatnya, akan membuat calon investor yang akan masuk, agak berpikir atas kenaikan tarif kontainer ini.
“Paling terbaru itu, meruncingnya perang pimpinan atau kepala daerah. Kepala daerah saling lempar argumentasi, ini tidak baik bagi iklim investasi,” ujarnya.
BACA JUGA: Sektor Konstruksi dan Perdagangan Besar Topang Pertumbuhan Ekonomi
Para pengusaha berharap, perang argumentasi para pimpinan daerah ini dapat dikurangi. “Hal-hal mendasar ini dikurangi, cari jalan perundingan atau pertemuan langsung saja,” tuturnya.
Daya beli masyarakat, kata Rafki juga berkontribusi. Namun, tidak terlalu signifikan.
Penyebab-penyebab perlambatan ekonomi ini, perlulah menjadi perhatian pimpinan daerah. Agar tidak terjadi perlambatan ekonomi terus menerus.
Sebab, jika terus berlanjut perlambatan ekonomi, ada beberapa dampaknya. Rafki mengatakan, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat.
“Angka pertumbuhan angkatan kerja cukup tinggi. Jika tidak diiringi pertumbuhan ekonomi tinggi, akan terjadi lonjakan pengangguran terbuka,” ujar Rafki.
Selain itu, sektor UMKM akan merasakan dampak langsung dari pertumbuhan ekonomi melambat.
Bagaimana cara meningkatkan pertumbuhan ekonomi? Rafki mengatakan, ada beberapa cara, selain meminimalisir hal-hal yang menjadi penyebab menurunnya perekonomian Kepri.
Pertama, realisasi belanja pemerintah wajib diselesaikan di kuartal ke-4. Sehingga dapat menopang perekonomian, dan di kuartal keempat dapat pulih dan meningkat.
Rencana-rencana investasi di 2023, segera dieksekusi dan realisasikan. “Pemerintah mendorong, bagaimana terwujudnya realisasi investasi ini,” tutur Rafki.
Para pemimpin daerah, kata Rafki haruslah menciptakan suasana kondusif. “Jaga diri dan masyarakat. Harus menahan diri, demi iklim investasi kondusif,” ujarnya.
Masyarakat juga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Kepri. Ia berharap, masyarakat dapat mengurangi untuk berpelesir ke luar negeri.
Peningkatan pelesir ke luar negeri, sama saja menaikan nilai impor. Sehingga, menekan pertumbuhan ekonomi di Kepri.
“Liburan atau mau ke hotel di Batam atau Kepri saja. Itu sangat membantu pertumbuhan ekonomi Kepri,” kata Rafki.
Jika ini dilaksanakan dan diterapkan. Tentunya, ekonomi Kepri di kuartal ke-4 dapat tumbuh positif. (*)
reporter: juanda



