Minggu, 18 Januari 2026

Ekspor Batam ke Amerika Serikat Tembus USD 658 Juta, Jadi Negara Tujuan Ekspor Terbesar Kedua

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi ekspor melalui Pelabuhan Batuampar, Batam.

batampos – Amerika Serikat masih menjadi salah satu mitra dagang utama Kota Batam di awal tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, nilai ekspor nonmigas Batam ke Negeri Paman Sam mencapai USD 658,18 juta selama periode Januari hingga Februari 2025. Angka ini menempatkan Amerika Serikat sebagai negara tujuan ekspor terbesar kedua setelah Singapura.

Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan bahwa ekspor Batam ke Amerika Serikat menunjukkan tren pertumbuhan positif meski secara bulanan ekspor Batam mengalami penurunan.

“Nilai ekspor ke Amerika Serikat tumbuh 14,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusinya mencapai 20,40 persen dari total ekspor Batam selama dua bulan pertama tahun ini,” ujar Eko dalam keterangan resminya, Selasa (9/4).

Secara keseluruhan, total ekspor Kota Batam pada Februari 2025 tercatat sebesar USD 1.450,26 juta, turun 18,32 persen dibandingkan bulan Januari. Penurunan ini terjadi pada ekspor migas maupun nonmigas.

Baca Juga: Tarif Trump Ancam Industri Solar Panel Batam, 10 Ribu Pekerja Terancam PHK

Namun secara kumulatif, ekspor Batam sepanjang Januari–Februari 2025 tetap tumbuh signifikan. Total ekspor dalam dua bulan tersebut mencapai USD 3,22 miliar, meningkat 45,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Eko menjelaskan, produk ekspor unggulan yang banyak diekspor didominasi oleh komoditas mesin dan peralatan listrik, kapal laut, serta mesin-mesin dan pesawat mekanik.

“Mesin dan peralatan listrik menyumbang hampir 41 persen dari total ekspor nonmigas Batam. Produk-produk inilah yang sangat diminati pasar Amerika,” jelasnya.

Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor terbesar lainnya adalah Singapura dengan nilai ekspor USD 674 juta, disusul Arab Saudi (USD 533,92 juta), Australia (USD 178,22 juta), dan Tiongkok (USD 177,47 juta).

Pelabuhan Batuampar tercatat sebagai pelabuhan muat utama ekspor Batam, dengan kontribusi sebesar 75 persen terhadap total ekspor sepanjang Januari–Februari 2025. Nilai ekspor melalui pelabuhan ini mencapai USD 2,42 miliar.

Eko menambahkan, meski terjadi fluktuasi bulanan yang wajar dalam aktivitas ekspor, tren tahunan menunjukkan bahwa sektor industri Batam masih kuat dan mampu bersaing di pasar global.

“Kita berharap ke depan iklim ekspor Batam semakin kondusif. Diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar sektor industri kita semakin kompetitif dan bisa menembus pasar-pasar potensial lainnya, termasuk Amerika Latin dan Eropa,” katanya.

Baca Juga: Investor Wait and See Gegara Tarif Trump, Ekspansi Industri Batam Tertahan

Namun begitu, potensi ekspor ke negara Paman Sam kini dibayangi oleh kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemerintah AS menetapkan tarif bea masuk sebesar 32 persen untuk sejumlah produk asal Indonesia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, termasuk di Batam yang merupakan salah satu basis ekspor nasional.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyatakan bahwa kebijakan tersebut membuat banyak eksportir resah. “Hampir semua produk ekspor dari Indonesia berpotensi terkena dampaknya. Ini adalah tarif resiprokal karena Indonesia juga mengenakan tarif terhadap produk impor dari AS,” ujar Rafki.

Ia mengakui, hingga saat ini pemerintah pusat masih memetakan dampak dari kebijakan tersebut. Banyak pengusaha belum mendapat kejelasan produk mana saja yang dikenai tarif dan mana yang tidak. “Angka 32 persen ini tetap jadi beban berat, apalagi di tengah pelemahan ekonomi global,” katanya.

Rafki mengungkapkan bahwa industri padat karya, seperti tekstil, sepatu, dan furnitur menjadi sektor paling rentan terdampak. “Kalau tidak ada mitigasi, potensi PHK massal bisa terjadi,” tegasnya.

Sebagai respons awal, sejumlah eksportir mulai mengalihkan fokus ke pasar lain. Rafki menyebut Afrika sebagai salah satu wilayah yang mulai dijajaki. “Diversifikasi pasar ini penting agar kita tidak terlalu bergantung pada satu negara,” katanya.

Baca Juga: Amsakar Instruksikan Eksekusi 5 Kebijakan Prioritas di Triwulan Kedua

Rafki juga mendesak pemerintah segera melakukan langkah konkret untuk menekan dampak kebijakan tersebut. Salah satu usulannya adalah membuka ruang negosiasi ulang tarif antara Indonesia dan Amerika. “Kita bisa tawarkan pembebasan tarif ekspor Indonesia, dengan imbal balik penghapusan bea masuk untuk barang-barang mereka di sini,” ujar Rafki.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penguatan pasar domestik sebagai alternatif. “Dengan jumlah penduduk yang besar, pasar dalam negeri seharusnya bisa kita garap lebih serius,” tambahnya. (*)

 

 

Reporter: Rengga Yuliandra

Update