Senin, 12 Januari 2026

ESB Dorong Digitalisasi Industri Kuliner Sumatera, Batam Jadi Basis Pertumbuhan Baru

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pesan makanan semudah sentuhan jari. Lewat Self-Order Kiosk ESB, pelanggan bisa pilih menu favorit, atur pesanan, dan bayar sendiri tanpa antre.

batampos – Di tengah geliat kebangkitan ekonomi daerah, sektor kuliner di Sumatera terus menunjukkan perannya sebagai motor penggerak perekonomian. Dari kafe kekinian di pusat kota hingga restoran seafood di tepi pantai, para pelaku usaha kuliner terus berinovasi untuk bertahan dan berkembang.

Namun, di balik semangat tersebut, masih banyak pelaku usaha yang bergelut dengan tantangan klasik: manajemen operasional yang rumit, pencatatan manual, hingga keterbatasan akses terhadap teknologi efisien.

Menjawab kebutuhan itu, PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan teknologi penyedia software all in one berbasis cloud khusus industri F&B memperluas jangkauan transformasi digitalnya ke wilayah Sumatera.

Baca Juga: Lewat Teknologi dan Kolaborasi dengan Pengusaha TDA, ESB Dukung Pengusaha Kuliner Batam Naik Kelas

Gunawan, Co founder & CEO ESB, mengungkapkan bahwa kiprahnya di dunia F&B dimulai dari pengalaman panjang sebagai konsultan keuangan sejak 2008. Ia mendirikan ESB pada akhir 2018 dengan misi sederhana: menghadirkan solusi digital yang benar-benar fokus pada industri kuliner.

“Sejak awal saya heran, kenapa tidak ada software yang benar-benar fokus membantu F&B. Padahal sejak 2018 saja, industri ini nilainya sudah mencapai 60 miliar dolar,” ujarnya via zoom, Jumat (23/10).

Berbekal dukungan empat investor besar, ESB kini berkembang menjadi ekosistem teknologi kelas dunia yang membantu ribuan pelaku F&B meningkatkan efisiensi hingga 30 persen dan mendorong kenaikan nilai transaksi rata-rata hingga 67 persen.

“Setiap dua minggu, kami selalu melakukan sprint atau pengembangan fitur baru. Jadi produk kami terus berevolusi tanpa henti,” tambah Gunawan.

ESB menghadirkan ekosistem terintegrasi, mulai dari sistem kasir (POS), ERP, loyalty system payment gateway hingga supply chain management yang semuanya saling terhubung. Tujuannya jelas: menghilangkan pekerjaan berulang dan memberikan rekomendasi berbasis data yang bersifat preventif.

“Kami bahkan punya fitur AI bernama Olin yang secara otomatis menganalisis data tanpa perlu perintah pengguna. Olin langsung memberikan rekomendasi, misalnya untuk mencegah penurunan penjualan atau potensi kecurangan di outlet,” jelasnya.

Dengan kombinasi machine learning dan analitik canggih, ESB mampu memprediksi potensi penjualan hingga tiga bulan ke depan dengan akurasi 90–97 persen.

ESB tidak hanya menyasar pengusaha besar. Gunawan menegaskan, perusahaan justru ingin memperkuat daya saing UMKM kuliner agar bisa naik kelas.

“Banyak pengusaha kecil yang bisa belajar langsung dari praktik bisnis para pemain besar, karena sistem kami sudah menampung alur kerja terbaik dari industri itu sendiri,” katanya.

Dengan begitu, pengusaha kecil bisa beroperasi secara profesional dan berkelanjutan. ESB juga aktif mengadakan pelatihan, seminar, dan kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pertumbuhan industri kuliner.

Dalam ekspansi ke Sumatera, ESB menjalin kerja sama strategis dengan perbankan nasional dan penyedia media sosial global seperti Google, Meta (Instagram, Facebook, WhatsApp), dan TikTok.

“Kami tidak hanya menyediakan software, tapi juga membangun ekosistem. Merchant bisa mendapat akses ke jaringan perbankan, promosi digital, hingga pelatihan bisnis,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi ini, pelaku usaha mendapatkan kemudahan transaksi, promosi lintas platform, serta dukungan pemasaran digital yang lebih luas.

Gunawan menilai wilayah Sumatera, khususnya Batam dan Medan, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan industri F&B berbasis digital di luar Jawa.

“Setelah Jawa, Sumatera adalah pulau paling siap untuk transformasi digital. Pengusahanya lebih matang dan siap berkembang. Bahkan saya melihat Batam bisa tumbuh lebih cepat dari kota-kota besar Sumatera lainnya,” ujarnya optimistis.

Selain karena perputaran ekonomi yang tinggi, ketersediaan SDM berkualitas juga menjadi alasan ESB memilih Batam sebagai salah satu basis ekspansinya.

Gunawan juga menegaskan bahwa pengakuan ESB dalam daftar Forbes menjadi bukti kesehatan bisnis perusahaan teknologi ini di tengah fenomena “tech winter” yang melanda banyak startup.

“Bagi kami, ini bukan hanya soal prestise, tapi bukti bahwa model bisnis kami sehat dan dipercaya. Merchant juga jadi lebih tenang karena tahu mereka memakai layanan dari perusahaan yang stabil,” ujarnya.

Dengan pendekatan berbasis kolaborasi dan teknologi prediktif, ESB tidak hanya membantu pelaku F&B bertahan, tetapi juga tumbuh berkelanjutan.

“Kalau pengusaha kuliner berkembang, maka kami juga berkembang. Misi kami sederhana: menjadikan industri F&B Indonesia tidak hanya kuat di dalam negeri, tapi juga berdaya saing di tingkat dunia,” tutup Gunawan. (*)

Reporter: Aziz Maulana

Update