
F. Humas BP Batam untuk Batam Pos
batampos – Kapal produksi dan penyimpanan minyak bumi terapung, Marlin Natuna, yang diresmikan pelayaran perdana (sail away) pada 30 September 2024 lalu, ternyata belum bisa beroperasi dan baru meninggalkan galangan PT Pax Ocean Batam pada 1 Desember 2024.
Marlin Natuna merupakan proyek konversi kapal tanker pertama menjadi sarana produksi dan penyimpanan terapung atau Floating Production Storage and Offloading (FPSO) di Indonesia. Kapal ini memiliki kapasitas produksi 250.000 barel dan akan menampung minyak bumi dari proyek Forel di Natuna, Kepulauan Riau.
Proyek Forel sendiri adalah proyek minyak terbesar di Indonesia. Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Wahju Wibowo, dalam seremoni sail away FPSO Marlin Natuna pada 30 September 2024, menyatakan bahwa proyek Forel Natuna dijadwalkan beroperasi (onstream) pada kuartal IV 2024, dengan target produksi 10.000 barel minyak per hari.
FPSO Marlin Natuna memiliki nilai proyek sebesar USD 265 juta atau setara Rp3,5 triliun. Kapal ini didanai oleh Medco E&P Natuna Ltd. (Medco E&P) dan dikerjakan di galangan PT Pax Ocean, Tanjunguncang, Batam.
Pada akhir November 2024, Batam Pos mendapatkan informasi dari sumber terpercaya bahwa FPSO Marlin Natuna masih berada di galangan Pax Ocean dan belum pernah berlayar sejak seremoni 30 September 2024.
Baca Juga: FPSO Pertama Indonesia Dibuat di Batam
Kuasa hukum PT Pax Ocean, Imanuel Sinaga, yang dikonfirmasi pada Selasa (26/11), membenarkan bahwa FPSO Marlin Natuna masih berada di dalam galangan. Namun, menurutnya, kapal besar tersebut sudah selesai dikerjakan dan siap beroperasi. “Kalau masalah beroperasinya, itu sebaiknya konfirmasi ke pihak yang memesan kapal,” ujarnya.
Pada Minggu (1/12), Marlin Natuna akhirnya meninggalkan galangan Pax Ocean. Namun, sumber Batam Pos yang mengetahui proses pembuatan kapal tersebut mengungkapkan bahwa sejatinya kapal belum siap beroperasi. “Intinya masih belum bisa beroperasi. Tanggal 1 Desember kemarin dipaksa jalan,” ujarnya.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa masih ada proses hook-up yang akan dilakukan di Natuna. Proses ini mencakup instalasi dan penyambungan ke platform Natuna, serta pengujian lebih lanjut.
“Setelah itu ada testing lagi, uji coba. Masih ada beberapa pengerjaan yang harus diselesaikan di sana karena memang di Batam belum selesai,” jelasnya.
Menurut dia, kapal juga masih membutuhkan proses commissioning atau uji coba untuk memastikan semua sistem berfungsi dengan baik.
“Kalau ada kendala, diperbaiki lagi. Proses ini kemungkinan makan waktu cukup lama. Jadi, kemungkinan kapal beroperasi masih lama,” tambahnya.
Ia juga memastikan bahwa kapal tersebut tidak akan mulai beroperasi pada Desember 2024. Selain itu, kondisi cuaca di Natuna dengan musim monsoon atau badai tahunan menjadi faktor penghambat.
Baca Juga: Transparansi dan Kesiapan Proyek Kapal FPSO Marlin Disoroti
“First oil (produksi perdana)-nya kemungkinan masih lama, karena ada monsoon seperti badai yang terjadi setiap tahun,” ungkapnya.
Humas SKK Migas, Suhendra, belum bersedia menjawab secara detail pertanyaan dari Batam Pos. Ia hanya menyebut bahwa kapal sudah berlayar.
“Sudah berlayar 1 Desember, untuk hal lain silakan tanya ke Medco,” ujarnya pada Selasa (3/12).
Sementara itu, Lead Media Relations Medco E&P, Danof Daniel, mengaku belum mengetahui informasi terbaru karena sedang berada di Jakarta.
“Saya di Jakarta, belum tahu. Mungkin saya cek dulu infonya ke tim,” ujarnya pada Selasa (3/12). Danof juga enggan menjawab pertanyaan lebih lanjut dari Batam Pos. (*)
Reporter: YASHINTA, EUSEBIUS SARA



