Rabu, 14 Januari 2026

Gemas Asli dan Upcycle Berbuah Rupiah di SMPN 42 Batam

Anak-anak Sampai Berebut Sampah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Siswa SMPN 42 Batam mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang.

Tak selamanya sampah menjadi barang tak berguna. Melalui Gerakan Menabung Sampah Agar Sehat Lingkungan Indah (Gemas Asli) siswa diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan, menghasilkan uang, dan membantu sesama.

YULITAVIA, Batam

Senin (21/10) pagi, siswa SMPN 42 Batam tengah sibuk dengan sampah bekas makanan yang mereka beli dari kantin sekolah. Memilah sampah milik sendiri, sudah menjadi aktivitas rutin.

Setiap botol bekas yang mereka dapat, siswa harus memisahkan antara tutup, label plastik, dan botol minuman bernilai rupiah. “Sampah adalah uang” sekarang ini sudah jadi semacam tagline bagi SMPN 42 Batam.

“Kadang-kadang siswa malah berebut sampah. Karena mereka sudah tahu kalau sampah itu uang,” kata Kepala SMPN 42 Batam, Revi Jelita Fauzi, saat dijumpai di ruangannya, Senin (21/10).

Ia menuturkan, lingkungan sekolah merupakan salah satu lokasi yang sangat akrab dengan sampah plastik. Hampir semua makanan yang ada di kantin terbuat dari plastik, paling banyak adalah minuman botol.

Baca Juga: PHRI Kepri Tolak Ancaman Pidana Pasangan Belum Nikah Check In di Hotel

Melalui Gerakan Menabung Sampah Agar Sehat Lingkungan Indah (Gemas Asli), siswa diedukasi untuk mencintai lingkungan. Gerakan peduli sampah ini berawal dari program Upcycle Berbuah Rupiah yang dimulai 2021 lalu.

Saat sistem pembelajaran terbatas di era pandemi Covid-19, tingkat kreativitas anak-anak tidak berkembang. Untuk itu, Revi membuat program Upcyle Berbuah Rupiah. Melalui program ini anak-anak diminta menciptakan kreativitas melalui barang bekas atau sampah.

“Alhamdulillah, hasil kreativitas siswa lahirlah berbagai produk kerajinan tangan dari barang bekas atau sampah,” kata dia.

Tidak saja itu, produk yang sudah jadi tersebut, diikutkan dalam bazar sekolah yang merupakan kegiatan rutin setiap tahun. Keberadaan bazar ini merupakan dukungan dan penghargaan terhadap hasil kreativitas siswa.

Aneka kerajinan tangan siswa berupa kotak tisu, tempat pulpen, bunga, vas, gantungan atau hiasan dinding. Ada juga pakaian bekas yang mereka sulap menjadi lebih bernilai dengan cara sablon ulang.

Baca Juga: Best Western Premier Panbil Ajak Belasan UMKM Batam Gerakkan Ekonomi Pasca Pandemi

Hasil kerajinan ini dipasarkan di market place masing-masing dan Instagram sekolah. Semua produk hasil kreasi dan kreativitas anak-anak dijual atau dipasarkan, lengkap dengan deskripsi produk, proses pembuatan, serta harganya.

“Hal ini mendapat dukungan dari orangtua, komite, dan pihak sekolah tentunya. Bersyukur program Upcycle Berbuah Rupiah ini menjadi agenda rutin bagi siswa di SMPN 42 Batam,” jelasnya.

Setiap siswa yang memperoleh hasil penjualan produk kerajinan tangan wajib mengikuti program sharing and care. Program ini bertujuan untuk membantu teman sekelas yang kekurangan.

Siswa diajarkan untuk berbagi atas apa yang mereka capai. Sharing and care ini sangat bermakna bagi teman mereka yang membutuhkan.

“Selama ini siswa saling bantu dalam membelikan sepatu, buku, pulpen, dan alat tulis lainnya. Ini juga menanamkan nilai berbagi kepada sesama. Melalui ini, diharapkan pendidikan karakter anak bisa terbentuk, dan tentu diharapkan bisa menjadi jati diri mereka ke depannya,” ujarnya.

Baca Juga: Ferdy Sambo Kepada Orang Tua Yosua: Minta Maaf dan Ngaku Tersulut Emosi

Revi menerangkan, hal tersebut menjadi cikal bakal adanya Gemas Asli. Sisa sampah yang mereka gunakan dalam karya, dikumpulkan di sekolah, dan menjadi bank sampah.

Untuk memaksimalkan bank sampah, atau program Gemas Asli, anak-anak diedukasi untuk memperhatikan sampah lingkungan.

Melalui program Gemas Asli anak-anak mengumpulkan sampah yang mereka hasilkan sendiri. Program ini sekaligus mengedukasi anak untuk peduli terhadap lingkungan, menghasilkan uang dari sampah, hingga berbagi.

Menabung sampah ini yang sedang digadang-gadang. Melalui sampah siswa bisa menabung dan menggunakan uangnya untuk kebutuhan sekolah.

Perempuan kelahiran Padang, 16 Januari 1985, ini menceritakan, dalam membudayakan Gemas Asli, sekolah dibantu organisasi sekolah atau OSIS.

Untuk saat ini, setiap kelas memiliki satu kantong sampah khusus untuk menampung sampah plastik yang sudah dipilah. Setiap Sabtu, petugas OSIS akan memanggil perwakilan kelas untuk membawa sampah yang sudah terkumpul ke halaman sekolah.

Baca Juga: Ibu Yosua di Persidangan: Anak Saya Dibunuh Secara Sadis oleh Ferdy Sambo!

Setelah itu, dilakukan pencatatan oleh petugas OSIS dan ditimbang, hingga nanti dikalkulasikan dengan rupiah.

“Setiap Sabtu petugas bank sampah DLH datang untuk menjemput sampah tersebut. Karena kami juga wanti-wanti jangan sampai ada penumpukan dan jadi sarang nyamuk. Jadi siswa-siswa sendiri yang menghubungi petugas untuk datang,” ujarnya

Semua sampah yang terkumpul dicatatkan dalam buku tabungan yang dikeluarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam. Nantinya uang hasil dari sampah juga akan digunakan untuk kepentingan sekolah.

“Kemarin sudah dijemput oleh petugas. Total sampah plastik yang sudah dipilih kemarin 86 kilogram. Ini yang sudah berhasil dipilah. Kalau lainnya mungkin banyak,” imbuhnya.

Perempuan yang sebelumnya mengajar mata pelajaran IPS ini menuturkan, dengan adanya bank sampah melalui program Gemas Asli ini, berhasil mengatasi sampah di lingkungan sekolah.

Dengan jumlah murid lebih dari seribu orang, jumlah sampah yang dihasilkan saban hari cukup banyak. Untuk itu, melalui program Gemas Asli ini bisa mengurangi sampah dan lebih bernilai rupiah, dengan pemanfaatan yang lebih baik.

Revi menambahkan, kegiatan ini berjalan atas edukasi dari DLH. Berkat bantuan dan edukasi dari pihak DLH, Gemas Asli bisa berjalan dengan baik. Ia berharap gerakan ini bisa membangun semangat siswa untuk memiliki karakter peduli terhadap lingkungan

Sampah plastik menjadi salah satu masalah dunia. Edukasi yang diberikan saat ini adalah bekal, sekaligus membentuk karakter anak untuk peduli terhadap lingkungan.

“Kalau dari sampah saja bisa membuat lingkungan bersih, membantu sesama temannya. Artinya peduli terhadap lingkungan ini bisa menyelamatkan dunia ke depannya,” ujarnya.

Ia berharap pengelolaan sampah plastik dari sekolah ini bisa menular hingga ke rumah siswa masing-masing. Ilmu yang sangat berharga ini bisa mengubah siswa menjadi lebih baik dan peduli terhadap lingkungan.

“Investasi jangka panjangnya agar mereka menjadi peduli terhadap lingkungan. Karena dari hal ini mereka belajar bertanggungjawab terhadap sampah yang ada di sekitar mereka,” tutupnya.(*)

Update