Rabu, 28 Januari 2026

Gereja Katolik Bangun BLK dan Pusat Informasi Migran di Shelter St. Theresia Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Gereja Katolik melalui Yayasan Karina KWI dan Komisi KKP-PMP Keuskupan Pangkalpinang resmi memulai pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) dan Pusat Informasi Migran di Shelter St. Theresia, Batam, Minggu (18/5). Peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Badan Pengurus Yayasan Karina KWI, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ.

BLK dan pusat informasi ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap pekerja migran, khususnya mereka yang rentan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Lokasinya berada di area yang sama dengan Shelter Migran St. Theresia, yang selama ini sudah berperan aktif dalam pendampingan pekerja migran di Batam.

Mgr. Sudarso menyampaikan, pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari perhatian Gereja Katolik terhadap persoalan kemigrasian. Ia berharap keberadaan BLK dan pusat informasi ini bisa menjadi “rumah” yang ramah dan aman bagi para pekerja migran.

“Seperti pesan Paus Fransiskus, siapa saja yang berjumpa dengan para migran, sama halnya berjumpa dengan Yesus,” ujar Mgr. Sudarso dalam sambutannya.

Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, Pr menjelaskan, fasilitas ini akan menjadi pusat informasi dan pelatihan kerja bagi calon pekerja migran. Ia menyoroti masih minimnya keterampilan dan informasi yang dimiliki oleh para calon pekerja migran Indonesia.

“Di sini, mereka akan mendapatkan pelatihan, edukasi, serta akses jaringan kerja sama untuk meningkatkan kesiapan sebelum berangkat ke luar negeri,” ujarnya.

BLK dan pusat informasi ini juga akan bersinergi dengan berbagai mitra kemanusiaan dan instansi pemerintah guna menjamin pelayanan yang holistik bagi pekerja migran.

Sementara itu, Ketua Komisi KKP-PMP Keuskupan Pangkalpinang, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, menambahkan bahwa shelter dan pusat pelatihan ini terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. Ia menggarisbawahi banyaknya kasus TPPO yang terjadi akibat kurangnya informasi dan kompetensi pekerja migran.

“Sering kali tawaran kerja yang diberikan tidak sesuai kenyataan di lapangan. Di sinilah pelayanan ini menjadi penting, untuk memastikan para pekerja siap secara mental, informasi, dan keterampilan,” kata Romo Paschal.

Pembangunan ini memperkuat komitmen Gereja dalam pelayanan terhadap migran, yang dilandasi penghargaan terhadap martabat manusia dan penciptaan perdamaian. Apalagi, Batam merupakan wilayah transit utama bagi pekerja migran, termasuk yang diberangkatkan secara ilegal ke Malaysia.

Menurut laporan Kompas, sejak Mei 2022 sedikitnya 200 pekerja migran ilegal diberangkatkan setiap hari dari Batam Centre ke Tanjung Pengelih, Malaysia, menggunakan dua kapal feri. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya para pekerja migran terhadap praktik perdagangan manusia.

Peletakan batu pertama pembangunan BLK dan Pusat Informasi Migran ini turut dihadiri oleh Wakapolda Kepri Brigjen Pol. Dr. Anom Wibowo, Kabinda Kepri Bonar Panjaitan, perwakilan Bank Indonesia, sejumlah suster dari berbagai kongregasi, tokoh gereja, dan elemen jaringan Safe Migran Batam. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update