
batampos – Pilkada Kepri 2024 mencatatkan angka partisipasi pemilih yang rendah, terutama di Batam. Dari total daftar pemilih tetap (DPT) Batam, lebih dari 53 persen memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.
Hal ini mencerminkan tantangan politik lokal yang kompleks. Partisipasi pemilih yang rendah di Batam menjadi sinyal kuat bagi semua pihak untuk mengevaluasi.
Kondisi ini menjadikan golongan putih (golput) sebagai “pemenang” di kota industri tersebut. Demikian disampaikan oleh Akademisi Kepri, Zamzami A Karim.
Dari sekitar 46 persen warga yang hadir di TPS, pasangan calon (paslon) Ansar Ahmad-Nyanyang Haris Pratamura unggul dengan selisih lebih dari 14.000 suara sah, atau sekitar 3,4 persen, dibandingkan Muhammad Rudi-Aunur Rafiq. Kemenangan ini disebut-sebut tidak lepas dari konsolidasi politik tingkat pusat yang digalang oleh Partai Gerindra, yang juga menggandeng Golkar sebagai mitra koalisi.
Baca Juga: Amsakar Pastikan Perombakan
Zamzami mencatat, Gerindra memaksimalkan upaya memenangkan calon yang diusungnya, termasuk melalui pengerahan lembaga survei yang bertindak sebagai konsultan politik. Sebulan sebelum hari pencoblosan, tim dari pusat melakukan penggalangan kekuatan di Batam, yang selama ini dikenal sebagai medan pertempuran politik yang sulit.
Namun, kemenangan Ansar-Nyanyang tidak terlepas dari kelemahan tim Muhammad Rudi-Aunur Rafiq dalam pengelolaan komunikasi media. Rudi, yang selama ini gencar diberitakan atas proyek pembangunan infrastruktur Batam, justru menghadapi kontra narasi dari berbagai kalangan.
Ketidakpuasan para pengusaha lama terhadap kebijakan Kepala BP Batam, seperti penggantian pengelola Pelabuhan Batam Center dan perobohan Hotel Purajaya, menjadi salah satu sorotan negatif.
“Banyak kebijakan BP Batam yang dinilai kurang berpihak kepada warga dan dunia usaha. Masalah-masalah seperti air, listrik, hingga banjir juga menjadi isu yang merugikan elektabilitas Rudi,” kata Zamzami, Selasa (10/12).
Sebagai Wali Kota Batam sekaligus Ex Officio Kepala BP Batam, posisi Rudi disebut kurang strategis dalam menghadapi sentimen publik.
“Rudi lebih banyak menonjol sebagai Kepala BP Batam ketimbang sebagai Wali Kota Batam, yang semestinya fokus membela kepentingan warga,” kata dia.
Baca Juga: DPRD Batam Dorong Penyelesaian Infrastruktur Jalan Sebelum 2025
Narasi serupa dibangun oleh Amsakar Achmad, Wakil Wali Kota Batam, yang sukses mencetak kemenangan besar di Batam pada Pilwako. Dukungan sebagian besar pendukung Amsakar disebut beralih ke Ansar-Nyanyang, memperlemah basis suara Rudi.
Hari pencoblosan yang diwarnai hujan lebat turut memengaruhi partisipasi pemilih. Beberapa TPS di Batam mengalami genangan air, yang mengingatkan warga pada hasil pelebaran jalan yang selama ini dijadikan ikon kampanye Rudi.
“Ini menjadi ironi. Infrastruktur yang diklaim sebagai keberhasilan justru terlihat buruk akibat hujan, dan ini memperkuat kesan negatif,” ujar Zamzami.
Batam sebagai kota metropolitan dengan masyarakat yang heterogen juga dinilai memiliki dinamika politik yang unik. “Karakteristik warga Batam yang metropolis dan beragam membuat tantangan politik di sini berbeda dibandingkan daerah lain di Kepri,” ujar dia. (*)
Reporter: Arjuna



