
batampos – Pemerintah resmi menaikan harga BBM sejak Sabtu (3/9) lalu. Gelombang protes terus berdatangan dari berbagai elemen masyarakat. Tak terkecuali pekerja di kota Batam. Pekerja keberatan karena menambah beban masyarakat di tengah situasi ekonomi yang masih kacau balau akibat terpaan wabah covid-19.
Pekerja yang gajinya dipotong akibat dampak dari pandemi Covid-19 merasa kebijakan ini tidak adil. Penghasilan yang sudah dikurangi harusnya dibantu pemerintah dengan kebijakan yang tidak memberatkan masyarakat bukan malah sebaliknya.
“Kita sudah maklumi kebijakan perusahaan yang memotong gaji. Oke karena dampak Covid-19. Kita maklumi tapi tolonglah harga BBM dan kebutuhkan pokok juga dikendalikan biar tak terlalu memberatkan. Kalau begini kebijakannya ya ibaratnya mencekik masyarakat khususnya pekerja yang gajinya sudah dipotong seperti kami ini,” ujar Surya, pekerja perusahaan textile di Tanjunguncang.
Melihat kebijakan pemerintah yang kurang pro dengan masyarakat kecil, pekerja akhirnya angkat suara. Mereka berharap perusahaan juga ikut membantu dengan menyesuaikan kembali gaji mereka yang dipotong tadi. Bahkan banyak karyawan yang berharap agar UMK juga dinaikan agar sesuai dengan kebijakan kenaikan BBM.
“Karena kalau BBM naik tentu harga barang pun ikut naik. Kalau gajinya tetap seperti ini akan semakin sudah kami pekerja ini. Selama ini sudah susah dengan dampak pandemi Covid-19, kini dibuat susah lagi dengan kenaikan BBM. Semoga ini dipertimbangkan lagi,” ujar Melinda, pekerja lainnya.
Kekuatiran pekerja ini tidak hanya isapan jempol saja. Terbukti saat ini harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Sayuran, bumbu dapur dan kebutuhan pokok lain mulai meninggi di pasaran. Sayuran, daging dan telur ayam mulai naik kisaran Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu perkilogram ataupun per papan. (*)
Reporter : Eusebius Sara



