Jumat, 16 Januari 2026

Harga Cabai Masih Tinggi di Batam, Pedagang Makanan Mengeluh

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi: Warga saat membeli cabai merah di Pasar Summerland, Batubesar. Foto: Yashinta/ Batam Pos

batampos – Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Batam masih terpantau tinggi meski momen lebaran telah usai. Kondisi ini menjadi keluhan banyak pihak, khususnya para pedagang makanan yang mengandalkan cabai sebagai bumbu utama dalam sajian mereka.

Pantauan di Pasar Botania, Batam Center, Sabtu (13/4), harga cabai rawit jenis lombok, yang dikenal juga sebagai cabai setan karena rasa pedasnya yang menyengat, masih bertengger di kisaran Rp 80.000 hingga Rp 90.000 per kilogram.

Padahal, menjelang Ramadan dan Idulfitri lalu, harga cabai jenis ini sempat diperkirakan akan turun setelah masa puncak konsumsi. Namun kenyataannya, harga tetap tinggi hingga kini.

“Untuk cabai rawit lombok memang masih tinggi, belum ada tanda-tanda turun,” ujar Dika, salah satu pedagang sayuran di Pasar Botania.

Baca Juga: Penyidikan Dugaan Korupsi Dermaga Batuampar Kian Mendalam, 80 Saksi Diperiksa

Ia menjelaskan bahwa harga cabai merah keriting pun turut mengalami kenaikan belakangan ini. Setelah sempat turun menjadi Rp 60.000 per kilogram usai lebaran, kini harganya kembali naik ke kisaran Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per kilogram.

“Cabai keriting sekarang naik lagi. Kemarin sempat Rp 60 ribu, sekarang sudah balik naik. Sementara cabai rawit biasa masih di angka Rp 60 ribu per kilogram,” tambahnya.

Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner, terutama yang menjual makanan berbasis sambal seperti ayam penyet, ikan bakar, dan nasi sambal. Risa, seorang pedagang ayam penyet di kawasan Nongsa, mengaku beban modal usaha semakin berat akibat mahalnya harga cabai.

“Cabai ini kan bahan utama. Kalau harganya naik terus, otomatis modal juga naik. Mau naikin harga menu, kasihan pelanggan, tapi kalau nggak dinaikin, untung kami makin tipis,” keluh Risa saat ditemui di lapaknya.

Ia menambahkan bahwa sebelum harga cabai melonjak, ia hanya perlu mengeluarkan Rp 200 ribu untuk stok cabai selama tiga hari. Namun kini, untuk jumlah yang sama, ia harus merogoh kocek hingga Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu.

Baca Juga: 142 Calon Jamaah Haji Sekupang dan Belakang Padang Ikuti Manasik Perdana

“Biasanya beli 3 kilo bisa cukup tiga hari, tapi sekarang dengan harga segitu, kami harus pikir-pikir lagi. Kadang juga terpaksa kurangi sambal, supaya nggak tekor,” ungkapnya.

Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga, baik melalui distribusi stok dari daerah sentra produksi maupun dengan intervensi pasar melalui operasi pasar murah.

“Kami berharap dalam waktu dekat ada penurunan harga. Kalau begini terus, yang jual sambal bisa ‘kepedasan’ beneran, bukan cuma karena rasa cabainya,” kata Risa sambil tersenyum pahit.

Sementara, Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis belum bisa dikonfirmasi terkait masih tingginya cabai. (*)

 

 

Reporter: Yashinta

Update