Kamis, 22 Januari 2026

Harga Daging Beku Naik Tajam, Pemko Batam Jadwalkan Rapat Darurat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Penjual daging sapi di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji, menyiapkan dagangannya, beberapa waktu lalu. F. Dok Batam Pos

batampos – Harga daging beku di Kota Batam melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp120 ribu per kilogram. Kenaikan ini memicu keprihatinan masyarakat, terutama menjelang momen-momen konsumsi tinggi. Pemerintah setempat bersama para distributor akan menggelar rapat koordinasi pada 15 Juli untuk membahas persoalan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau. Rapat akan melibatkan unsur pemerintah dan pelaku distribusi bahan pokok untuk mencari akar persoalan dan menentukan langkah penanganan.

“Besok kami rapatkan bersama unsur pemerintah dan distributor mengenai stok sembako dan harga. Kami belum tahu kendalanya apa saja. Nanti kalau sudah rapat baru bisa saya sampaikan lebih detail,” katanya, Senin (14/7).

Baca Juga: Tahun Ajaran Baru Dimulai, Pelajar Nekat Bawa Motor ke Sekolah Tanpa Helm dan SIM, Warga Batam Resah

Sementara itu, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Batam, Ariyanto, menyebut belum dapat menyimpulkan penyebab pasti lonjakan harga. Meski begitu, dari sisi distributor memang telah terjadi kenaikan.

“Besok pagi kami ada rapat bersama pemerintah mengenai harga daging beku itu. Saya masih sedang melacak (penyebabnya), termasuk perkembangannya. Dari kami memang ada kenaikan harga. Tapi besok baru bisa kami sampaikan seusai rapat,” kata dia.

Ia mengatakan, harga daging beku sebelumnya berkisar antara Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Kenaikan menjadi Rp120 ribu dinilai terlalu tinggi dan di luar kebiasaan.

Baca Juga: Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Batam, Amsakar Dorong Diversifikasi Pasar

Pasokan daging beku di Batam selama ini berasal dari Australia dan Selandia Baru. Jalur distribusinya melalui Singapura sebagai negara transit sebelum masuk ke Batam. Kondisi di negara asal maupun kebijakan dari Singapura sangat memengaruhi harga akhir di pasar lokal.

“Sebenarnya kalau ada kenaikan harga, potensi turun itu pasti ada. Tapi tergantung dari pabrik. Kalau pabriknya naik, ya kita ikut naik. Kalau turun, ya kita ikut juga. Jadi fluktuasinya memang mengikuti harga dari sumber,” ujarnya. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update