
batampos – Harga sayuran di pasaran terus mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir. Setelah sebelumnya naik dari Rp15 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram, kini harga sayur kembali melonjak hingga Rp24 ribu per kilogram.
Menurut para pedagang, lonjakan harga ini disebabkan oleh musim hujan yang mengakibatkan banyak petani gagal panen. “Iya naik lagi. Stok kurang katanya. Petani gagal panen karena hujan terus,” ujar Imran, salah seorang pedagang sayur di Pasar Victoria Marina, Jumat (6/12).
Sayuran lokal seperti bayam, kangkung, dan daun singkong kini dijual seharga Rp20 ribu per kilogram, sementara sawi, kol, dan jenis sayuran impor sudah mencapai Rp24 ribu per kilogram. Ketersediaan stok yang terbatas menjadi alasan utama lonjakan harga ini.
Kondisi ini menjadi perhatian utama para konsumen. Santi, seorang ibu rumah tangga di Batuaji, mengungkapkan kekhawatirannya. “Sampai Natal dan tahun baru nanti pasti naik terus. Sembako lain pun naik harga kalau ini tidak dikontrol,” keluhnya.
Menurut Santi, harga kebutuhan pokok yang terus meroket akan semakin membebani masyarakat menjelang perayaan akhir tahun.
Lonjakan harga ini tak lepas dari faktor cuaca. Tingginya curah hujan di wilayah sentra produksi menyebabkan banyak petani mengalami kerugian besar karena tanaman mereka rusak atau gagal dipanen. Hal ini berimbas langsung pada pasokan sayuran di pasar yang semakin terbatas.
Namun, fenomena kenaikan harga bahan pangan seperti sayuran bukanlah hal baru. Setiap menjelang hari raya, khususnya di bulan Desember, harga kebutuhan pokok cenderung naik. Momentum Natal dan Tahun Baru yang identik dengan peningkatan permintaan sering kali menjadi pemicu utama.
Para pedagang berharap kondisi cuaca membaik sehingga pasokan sayuran bisa kembali stabil. Di sisi lain, masyarakat juga mendesak pemerintah untuk turun tangan. “Harus ada pengawasan dari pemerintah supaya harga nggak terus naik. Kasihan masyarakat kecil,” ujar Imran.
Diharapkan, pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan. Dengan demikian, masyarakat dapat melewati akhir tahun tanpa dibebani oleh lonjakan harga yang signifikan. (*)
Reporter: Eusebius Sara



