Minggu, 25 Januari 2026

Hujan Sporadis di Batam Jadi Tanda Awal Musim Penghujan

BMKG Imbau Warga Waspada, Jaga Kesehatan di Musim Peralihan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Cuaca mendung menyelimuti kawasan Batam Center dan sekitarnya, Selasa (19/8). Beberapa hari terakhir Batam di guyur hujan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Langit Batam dalam beberapa hari terakhir kerap berubah mendadak. Dari cerah menjadi gelap, lalu turun hujan deras dalam waktu singkat, disertai kilat dan petir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena ini sebagai tanda awal musim penghujan yang kini mulai melanda sebagian besar wilayah Kepulauan Riau (Kepri).

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan intensitas hujan mulai meningkat, meski masih bersifat sporadis dan belum merata di seluruh Kepri.

“Ini baru awal musim penghujan. Masih ada hari-hari panas, tetapi secara bertahap hujan akan semakin sering turun dan diperkirakan merata pada September mendatang,” jelas Ramlan, Selasa (19/8).

Selain hujan, kondisi angin di perairan Kepri juga patut diwaspadai. Saat ini, kecepatan angin berkisar 7–10 knot, berpotensi menimbulkan gelombang tinggi di sejumlah perairan.

“Ketika angin kencang, awan cenderung menebal. Tidak selalu berujung hujan karena awan bisa buyar, tapi jika hujan turun biasanya disertai petir. Ini yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Menurut Ramlan, hujan deras yang kerap terjadi di Batam umumnya terbentuk dari awan lokal, bukan dari pergerakan cuaca wilayah lain.

“Kalau cuaca cerah lalu tiba-tiba hujan deras, biasanya itu awan lokal. Sifatnya sporadis dan mendadak, sehingga tidak merata di semua wilayah,” ucapnya.

Perubahan cuaca ekstrem ini tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat menjaga stamina dan memperhatikan pola hidup sehat.

“Perubahan cuaca yang drastis dapat memengaruhi daya tahan tubuh. Penting untuk cukup istirahat, banyak minum air putih, dan mengantisipasi risiko dehidrasi,” katanya.

Ramlan juga menegaskan pentingnya memantau informasi cuaca resmi.
“Jangan abaikan peringatan dini, terutama bagi nelayan atau masyarakat yang hendak melaut maupun beraktivitas di luar ruangan,” tandasnya. (*)

Reporter: Yashinta

Update