Senin, 19 Januari 2026

Imlek di Batam, Dari Dingkis hingga Sayur 7 Warna

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Warga Tionghoa melaksanakan sembahyang pada hari pertama Imlek di Vihara Budhi Bhakti Tua Pek Kong Winsor, Selasa (1/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Perayaan tahun baru imlek di Batam memiliki berbagai kekhasan. Kekhasan ini juga dirasakan oleh anggota DPRD Batam, Hendra Asman. Sebagai, warga keturunan Tionghoa dari Dabo, Lingga, Hendra mengatakan masih menerapkan berbagai budaya imlek.

Namun, ia mengatakan ada perbedaan budaya diterapkan di Dabo dan Batam. “Saya kaget saat masuk ke Batam, ada beberapa budaya yang agak beda. Namun, saya pahami budaya imlek di Batam sudah mengalami akulturasi. Ada yang beda, namun secara umum hampir sama semua,” kata Hendra, Rabu (11/1).

Imlek, kata Hendra, adalah perayaan budaya, bukan agama. Sehingga, siapa saja merayakannya. Tapi, tentunya perayaan ini bisa melihat dari perspektif setiap kepercayaan yang dianut.

Hendra mengatakan imlek perayaan budaya yang sudah sangat tua dan lama. Tercatat tahun ini, imlek memasuki tahun ke 2.574. Karena saking lamanya, imlek identik menjadi hari raya masyarakat Tionghoa.

Baca Juga: Dugaan Kartel Harga Tiket Batam-Singapura, Kadin Tunggu Keputusan Dari KPPU

Meskipun masyarakat Tionghoa sudah bermigrasi ke berbagai negara. Namun, budaya imlek masih melekat. Hendra mengatakan kakeknya bermigrasi dari Provinsi Fujian atau Fukien ke Indonesia, tepatnya Dabo, Lingga.

Namun, budaya-budaya tersebut tetap dibawa dan dilestarikan. H-1 imlek sudah dimulai perayaan. “Saya menyampaikan sesuai tradisi imlek hokkian yah,” ucapnya.

H-1 imlek itu, setiap keluarga akan menggelar thuan yen fan atau makan bersama. Bagi yang belum berkeluarga, akan ikut makan bersama dengan orangtuanya.

Namun, perempuan yang sudah berkeluarga ikut makan bersama dengan suaminya. Sedangkan, laki-laki sudah berkeluarga, akan ikut makan malam bersama dengan keluarganya.

Menurut Hendra, makan malam ini untuk merekatkan hubungan sesama keluarga. Ada berbagai hidangan, paling khusus adalah ikan. Di Dabo tidak ada ikan khusus yang disantap saat makan malam bersama ini.

Baca Juga: Warga Batam! Hujan Ringan akan Berlangsung Lama Beberapa Hari Kedepan

Tapi ketika ia hijrah ke Batam, perayaan imlek mengkhususkan harus menyantap ikan dingkis. “Agak beda bentuknya. Namun, saya rasa tidak harus ikan dingkis, bisa ikan lain juga sebagai santap makan malam bersama,” ucapnya.

Kenapa di Batam menerapkan santap makan malam ikan dingkis? Menurut Hendra, hal ini disebabkan fakta unik ikan dingkis. Ia mengatakan ikan dingkis hanya mau bertelur saat jelang imlek. Sedangkan di luar perayaan imlek, ikan dingkis tidak akan bertelur.

Selain itu, ikan dingkis saat jelang perayaan imlek akan bermigrasi dari tengah laut ke tepian. Momen inilah yang dimanfaatkan oleh para nelayan menangkap ikan dingkis.

“Ada yang menyebut, ikan dingkis pindah dari tengah laut ke daerah pinggiran ini bentuk ucapan atas hari raya imlek,” tuturnya.

Selain itu, telur bisa dibilang lambang kemakmuran. Alasan inilah menurut Hendra, kenapa makan ikan dingkis menjadi budaya di Batam. Ia mengatakan selain Batam, budaya makan ikan dingkis saat imlek juga ada di Karimun, Bintan, dan Tanjungpinang.

“Di Dabo malah tidak pernah saya lihat. Keluarga di Dabo dulu, makan ikan. Tapi ikan apa saja, yah sesuai kemampuan dari keluarga itu,” ungkap Hendra.

Baca Juga: Prosedur Pembelian Gas Melon Tidak Berubah, Ini Syaratnya

Kenapa sesuai kemampuan? Hendra mengungkapkan alasannya adalah harga ikan dingkis yang terlalu mahal menjelang imlek. Sehingga, tentunya tidak semua memiliki kondisi ekonomi yang baik.

“Kalau bagi saya, makan ikan itu sesuai kemampuan saja. Tidak usah dipaksakan,” tuturnya.

Hari pertama imlek, bagi Hendra sebagai penganut Budha akan melakukan sembahyang kepada dewa-dewa. Hendra dan keluarganya melakukan sembahyang ke Dewi Kwan Im. Usai itu, akan ada sungkeman dengan orangtua.

Namun, untuk perayaan sembahyang, setiap orang dapat berbeda-beda. Hendra mengatakan sembahyang ini akan berbeda bentuk, jika warga Tionghoa menganut agama kristen atau muslim. “Tapi yang hampir sama itu yang salam-salaman dengan keluarga, atau minta maaf,” tuturnya.

Saat salam-salaman ada budaya memberikan angpau. Pemberian angpau ini dari orangtua ke anak atau cucu belum menikah. Sedangkan jika sudah menikah, maka tidak lagi mendapatkan angpau.
Karena sudah menikah, Hendra mengatakan dirinyalah yang memberikan angpau ke orang tuanya.

Budaya angpau bukan terpaku pada isi didalamnya. Namun, dari pemberian angpau ini ada doa yang diharapkan orang tua atau kakek, agar anak dan cucunya bisa sehat dan sukses selalu.

“Tidak terpaku pada isi. Angpau semacam rasa syukur dan doa,” ungkap Hendra.

Baca Juga: Mobil Listrik Kian Digemari Masyarakat Batam

Hari pertama imlek tidak hanya budaya angpau, namun juga berbagi jeruk. Budaya itu namanya ta chi tali. Berbagi chi zhe atau jeruk, kata Hendra biasanya tamu datang membawa dua jeruk. Lalu, saat pulang akan diberikan dua jeruk lagi oleh tuan rumah.

“Ini ibarat saling mendoakan, sehat dan sukses selalu. Hal ini berlaku umum ke siapa saja yang bertamu atau sebagai tuan rumah,” tutur Hendra.

Di Dabo, kata Hendra biasanya di dapur ada meletakan daun bawang yang melambangkan doa rezeki melimpah. Namun di Batam, Hendra tidak mengetahui budaya itu ada atau tidak.

“Tapi sepertinya ada, sebab biasanya saat jelang imlek banyak jual daung bawang. Lalu, penjualannya juga meningkat,” ungkap Hendra.

Selain itu, juga ada kegiatan lau ye shen (berkumpulnya keluarga). Seluruh anggota keluarga berkumpul, nanti ada disediakan sayur tujuh warna (ada wortel, kol ungu, timun dan sayuran lain). Lalu, juga ada ikan sebagai lauknya.

“Di Dabo tidak ada, tapi di Batam ada,” tuturnya.

Baca Juga: Proyek Jalan Baru Disebut Sebabkan Banjir di Dapur 12 Sagulung

Hari ke 9 imlek, akan diadakan sembahyang dewa langit. Ada juga yang bilang sembahyang tebu. Bagi Umat Buddha, sembahyang langit ini memohon kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagian sepanjang tahun.

Puncak dan penutup dari imlek adalah Cap Go Meh. Saat itu biasanya ada hiburan rakyat, panggung seni.

Perayaan Imlek, kata Hendra, membuat perputaran uang menjadi besar dan cepat. Hampir sama saat natal dan lebaran. Sehingga, imlek memberikan dampak besar terhadap perekonomian Batam.

“Imlek juga nantinya beli baju baru, pernak pernik imlek seperti lampion,” ungkap Hendra. (*)

 

 

Reporter: FISKA JUANDA

Update