
batampos – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut inflasi Batam pada Mei 2024 mencapai 0,39 persen, dengan inflasi tahun ke tahun sebesar 3,90 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto menyebutkan, penyumbang utama inflasi bulan Mei 2024 secara month to month (MtM) adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau, yang memberikan andil sebesar 1,69 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah bayam, cabai merah, kacang panjang, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, kangkung, serta sawi hijau. Sedangkan, komoditas yang memberikan andil deflasi adalah angkutan udara, telur ayam ras, ikan selar dan deterjen cair.
“Bayam dan cabai merah masih menjadi penyumbang inflasi di bulan Mei 2024 ini,” kata Eko, Jumat (7/6).
Dampak cuaca ekstrem yang masih berlanjut hingga kini, menjadi salah satu penyebab masih tingginya harga sejumlah komoditas. Sehingga produksi lokal seperti bayam, cabai merah dan bawang merah terganggu.
Kenaikan harga emas secara internasional juga berpengaruh terhadap Indonesia, utamanya jenis emas perhiasan.
Pada Mei 2024, tingkat inflasi tahun ke tahun (year on year) kota Batam sebesar 3,90 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,63. Inflasi tahun ke tahun terjadi, karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh sembilan indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 7,52 persen, kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 4,52 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,11 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi y(years)-on-y(years) pada April 2024, antara lain beras, cabe merah, emas perhiasan, angkutan udara, tarif parkir, bawang merah,” ujar Eko.
Terpisah, Kepala BPS Kepri Darwis Sitorus mengatakan, inflasi tertinggi terjadi di Kota Batam sebesar 3,90 persen dengan IHK sebesar 106,63, dan terendah terjadi di Kabupaten Karimun sebesar 2,55 persen dengan IHK sebesar 105,76. Sedangkan Kota Tanjungpinang inflasi sebesar 3,07 persen dengan IHK yang mencapai 105,36.
Lebih lanjut, Darwis menjelaskan Inflasi y-on-y Provinsi Kepulauan Riau terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya delapan indeks kelompok pengeluaran, dengan andil terbesar kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 7,13 persen. (*)
Reporter: Azis maulana



