Sabtu, 28 Maret 2026

Inflasi Batam Tinggi, Mamin dan Tembakau Penyumbang Dominan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Komoditas pangan seperti beras, tomat, dan bawang, penyumbang dominan inflasi di Kota Batam. Tampak warga Batam belanja sayur di Pasar Mega Legenda, Batam Kota, Rabu (4/12).
F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

batampos – Tingkat inflasi Kota Batam pada November 2024 tercatat mencapai 2,04 persen secara year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 1,55 persen. Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2024 yang dipimpin Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian melalui pertemuan daring, Selasa (3/12).

Wali Kota Batam Muhammad Rudi diwakili Sekretaris Daerah Kota Batam, Jefridin, dalam rapat tersebut. Menu-rut data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam yang dirilis pada 3 Desember 2024, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Batam naik dari 104,84 pada November 2023 menjadi 106,98 pada November 2024.

Tingkat inflasi month to month (mtm) tercatat sebesar 0,22 persen, sementara tingkat inflasi year to date (ytd) sejajar dengan nasional, yaitu 1,55 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyum-bang utama inflasi di Kota Batam, memberikan andil sebesar 0,31 persen pada November 2024.

Komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain beras (0,11 persen), daging ayam ras (0,11 persen), tomat (0,10 persen), minyak goreng (0,07 persen), bawang merah dan bawang putih (masing-masing 0,07 persen dan 0,03 persen). Selain itu, anggur, ikan kembung, brokoli, dan telur ayam ras juga turut memberikan sumbangan kecil terhadap inflasi.

Namun, beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi, seperti cabai merah (-0,49 persen), cabai rawit (-0,15 persen), dan sayuran seperti kangkung, bayam, serta sawi hijau, yang masing-masing memberikan kontribusi deflasi kecil sebesar -0,02 persen. Untuk menekan laju inflasi, Pemerintah Kota Batam melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memonitor harga-harga komoditas di pasar setiap bulan.

“Kami rutin melakukan monitoring terhadap harga pasar dan komoditas yang mengalami kenaikan. Hasil pemantauan ini dilaporkan secara berkala ke Kementerian Dalam Negeri untuk evaluasi dan tindak lanjut,” ujar Jefridin.

Secara nasional, data BPS menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama inflasi di delapan dari sepuluh daerah yang terpantau. Kenaikan harga di kelompok ini memberikan andil sebesar 0,22 persen terhadap inflasi nasional.

Pemerintah Kota Batam berharap dengan pemantauan yang intensif dan koordinasi lintas sektor, kenaikan harga dapat dikendalikan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Langkah ini adalah bagian dari upaya kami untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global maupun domestik,” tutup Jefridin. (*)

UPDATE