Selasa, 13 Januari 2026

Inflasi Kepri Lampaui Nasional, Emas dan Cabai Jadi Pemicu

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pedagang di Pasar Botania 2 Batamcentre mengangkat cabai merah keriting. Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebesar 0,64 persen pada September 2025. Angka ini mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 0,18 persen.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi Kepri mencapai 2,70 persen, sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional yang berada di angka 2,65 persen.

Kenaikan harga terjadi di tiga wilayah pemantauan BPS, yakni: Karimun: 0,99 persen, Batam: 0,62 persen dan Tanjungpinang: 0,54 persen.

Dengan capaian tersebut, Kepri menempati posisi ke-7 inflasi bulanan tertinggi di kawasan Sumatera.

Kepala BPS Kepri menjelaskan bahwa inflasi September ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dan cabai merah.

Kenaikan harga emas dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global, sementara harga cabai merah melonjak akibat serangan hama di sejumlah daerah sentra produksi.

Komoditas lain yang turut menyumbang inflasi di antaranya sayur mayur seperti kangkung dan bayam, yang harganya naik akibat curah hujan tinggi yang mengganggu produksi.

Di sisi lain, kelompok pengeluaran transportasi mengalami deflasi sebesar 0,96 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh rendahnya mobilitas masyarakat akibat minimnya hari libur dan ketiadaan kegiatan besar pada bulan tersebut.

Bank Indonesia (BI) Kepri menyebut inflasi yang masih dalam batas aman tidak lepas dari sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama pemerintah daerah.

Langkah-langkah pengendalian yang dilakukan antara lain: Rapat koordinasi daerah, edukasi dan sosialisasi inflasi, pelatihan hilirisasi cabai bagi UMKM, Kerja sama antar daerah untuk suplai beras, bawang merah, dan cabai.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, mengatakan pihaknya terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga pangan di daerah.

“Kami terus mendorong peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, serta perluasan kerja sama antar daerah agar inflasi tetap dalam sasaran 2,5 ±1 persen,” ujar Ardhienus, Rabu (1/10).

Memasuki Oktober, BI Kepri memperkirakan tekanan harga masih mungkin berlanjut, terutama dari: Kenaikan harga emas global, terbatasnya pasokan hortikultura karena curah hujan tinggi.

Namun demikian, ada sejumlah faktor yang diperkirakan mampu menahan laju inflasi, antara lain: Penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dan tren penurunan harga minyak dunia.

BI dan TPID Kepri memastikan akan terus memantau perkembangan harga dan mengambil langkah antisipatif agar tekanan inflasi tidak mengganggu daya beli masyarakat. (*)

Reporter: M. Sya’ban

Update