
batampos – Ambruknya plafon Masjid Tanwirun Naja atau Masjid Tanjak di kawasan Bandara Hang Nadim diduga akibat kebocoran. Kebocoran ini menyebabkan gypsum plafon tersebut memiliki beban yang berat karena air.
“Ada 2 kemungkinan penyebabnya. Kemungkinan pertama, ada bocor atau air. Gypsum sejenis kapur kena air jadi berat, dan tidak kuat menahan,” ujar Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepri, Mulia Pamadi, Kamis (8/9) malam.
Kemungkinan kedua, kata Pamadi, plafon dibangun berbahan tanah merah. Tanah tersebut terkena air menjadi lunak sehingga merambat ke seluruh bagian plafon. “Seperti kapur tulis, jika kering bisa ditulis. Dan kalau basah itu menjadi patah,” katanya.
Baca Juga: Masjid Tanjak Ditutup Selama Dua Bulan
Pamadi mengaku belum bisa memastikan secara pasti penyebab plafon masjid tersebut ambruk. Ia mengaku baru melihat kejadian itu dari video yang beredar.
“Saya baru melihat videonya saja. Dari sekilas video plafonnya rontok kemudian merambat. Designer itu membuat bisa menahan, tapi saat bocor atau kena air kondisi bebannya berbeda,” ungkapnya.
Baca Juga: Plafon Masjid Tanjak Roboh, Ini Kata Kepala BP Batam
Namun, kata Pamadi, ia tetap menyayangkan kejadian ini. Ia berharap kontraktor maupun pekerja pembangunan masjid tersebut harus benar-benar berkompeten.
“Kita sebagai keinsinyuran agak disayangkan, mestinya tidak terjadi. Karena masjid ini merupakan kebanggan dan tanjak itu simbol melayu,” katanya.
Disinggung anggaran pembangunan masjid yang mencapai Rp 39,9 miliar dengan kejadian ambruknya plafon ini, Pamadi enggan berkomentar. “Untuk ini saya tidak bisa berkomentar. Karena penghitungan dan penilaiannya harus spesifik,” tutupnya. (*)
Reporter: YOFI YUHENDRI

