Di penghujung sore usai hujan lebat, Tisnawati duduk bersila di dalam rumahnya. Di pangkuannya tergerai rumbai-rumbai batang eceng gondok yang sudah dikeringkan.
Tangannya cekatan menganyam rumbai itu menjadi rapi, berpola, saling mengikat, dan simetris. Mungkin banyak yang tidak tahu, hasil kepiawaiannya ini telah melintas ke berbagai negara dan turut menyumbang devisa.

“Ini mau bikin alas kursi,” kata Tisnawati, saat dijumpai di kediamannya sekaligus workshop kerajianan eceng gondok Isna Puring, di Perumahan Bukit Ayu Lestari, Sei Beduk, Batam, Selasa (9/9).
Reporter: ARJUNA
Isna Puring adalah nama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang sudah berdiri medio 2013 lalu. Isna adalah sapaan karib Tisnawati, sementara puring ialah sebutan salah satu teknik di dunia kerajinan tangan berbahan kain atau benang.
Mulanya usaha Isna Puring menggunakan benang sebagai bahan utama kerajinan. Namun, ketersediaan benang yang rendah membuat Tisnawati mencari bahan lain.
“Benang itu kalau dipesan warna merah hati, yang datang malah merah cabe. Sudah gitu, pengiriman dari luar Batam juga gak secepat sekarang. Jadi pelanggan udah nanyain barang pesanannya, kita malah masih nunggu bahan bakunya,” ujarnya.
Hal ini yang kemudian membuat Isna beralih ke eceng gondok sebagai bahan baku utama rajutannya. Kata beralih pun disebutnya kurang tepat. Sebab, ide memilih eceng gondok sebenarnya tercetus begitu saja.
Tumbuhan gulma yang mengapung di atas air ini acap terlihat di mana-mana. Di parit, kubangan, sampai di atas permukaan waduk.
Terbesit kemudian dalam benak Isna, jika mampu membuat rajutan berbahan dasar alami dan bukan plastik, bukankah dagangannya justru punya nilai lebih dan semakin diminati pasar luar negeri?
“Jadi bahkan sejak awal, produk Isna Puring itu ditargetkan untuk pasar internasional,” ungkap Isna.
Ia mengakui, pada tahap awal memang produknya belum sepenuhnya langsung diterima pasar. Lebih lagi produk rajut eceng gondok ini boleh jadi karya pertama di Indonesia.
Menjadikannya unik dan rumit di waktu yang bersamaan. Misal, Isna hendak membuat vas bunga. Maka hal pertama yang ia lakukan ialah membuat mal atau cetakan vas bunganya lebih dulu.
Produk pertama Isna Puring ialah barang-barang yang ada di rumah seperti sandal, tas, kotak tisu, topi bundar hingga vas bunga. Barang-barang yang mulanya ia jajakan pada tetangganya dan mendapat respon positif.
Setelah rutin ikut berbagai pameran, produk-produk Isna Puring pun mulai disuplai ke beberapa hotel dan resort. Lewat pameran pula, produknya menjangkau pembeli dari Singapura dan Malaysia.
Aspek Keberlanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat
Jelang satu dekade berkarya, Isna Puring tidak hanya membawa harum nama pribadi. Namun, ia juga turut menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.
Isna sadar, dengan semakin banyaknya pesananan, maka semakin banyak pula dibutuhkan sumber daya manusia yang harus mengerjakannya. Maka beberapa perempuan di sekitarnya “direkrut” menjadi mitra yang dibagi jadi 2 kelompok.
Dalam prosesnya, Isna Puring telah membangun sistem kerja berbasis komunitas yang berisi para pengepul eceng gondok, dan mitra yang bertugas menganyam.
Seluruh mitra ini pun semacam dilindungi oleh “kontrak kerja” yang disarankan oleh BI Kepri. Sehingga terdapat standar jenis bahan yang digunakan hingga upah yang diterima para mitra.
Di lain kesempatan, Isna juga aktif memberikan pelatihan merajut di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas II Batam. Dengan harapan, para narapida memiliki keahlian dan mampu berkarya usai masa tahanannya berakhir.
“Mitra kami pun terdiri dari teman disabilitas dan mantan narapida. Karena ya perempuan kan gak gampang cari kerja, apa lagi kalau punya rekam jejak jadi penghuni lapas. Makanya sebisa mungkin kami berdayakan,” tuturnya.
Dalam sebulan, setidaknya Isna Puring menghabiskan sekitar 50 kg eceng gondok kering yang diubah menjadi karya bernilai ekonomis tinggi.
Lewat kerja kerasnya, Isna Puring tidak hanya membawa kerajinan tangan Indonesia dikenal dunia, tetapi juga ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat dan berperan penting pada lingkungan di sekitarnya.
Bank Indonesia Kepri dan Dukungannya pada UMKM
Lewat program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI), Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau (Kepri) secara serius ingin membuat UMKM “naik kelas”. Sebanyak 297 UMKM di Kepri pun masuk dalam program WUBI, dan bergerak di sektor makanan, fesyen, kriya, hingga perikanan.
Isna Puring sendiri telah menjadi UMKM binaan BI Kepri sejak 2018 lalu. Bentuk dukungan BI Kepri diakui Isna terbilang lengkap dan lebih dari sekadar pembiayaan saja.
Dukungan itu mulai dari pelatihan manajemen, pemasaran, pembukuan, sertifikasi, hingga langkah-langkah agar produk tembus pasar global.
Di luar itu, UMKM binaan BI Kepri juga terus didorong untuk tampil dalam banyak pameran, baik yang berskala lokal, nasional, hingga internasional.
Salah satu dukungan itu terlihat dalam gelaran Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 di One Batam Mall akhir Agustus lalu.
Mengusung tema Akselerasi Ekspor Menuju Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan, pameran itu menghadirkan produk unggulan UMKM, wastra (kain tradisional) Melayu, hingga business matching senilai Rp13 miliar.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menekankan posisi strategis Batam sebagai hub ekspor.
Pihaknya ingin UMKM Kepri semakin percaya diri, dan BI hadir untuk mendukung agar produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi dan tembus pasar internasional.
Berkat pembinaan dan dukungan ini pula, di tahun pertama Isna jadi binaan BI Kepri, produk Isna Puring telah sampai hingga Amerika Serikat.
Meski saat itu, proses pembeliaannya terjadi di Batam dan sang pembeli yang membawanya ke Negeri Paman Sam. Namun, paling tidak Isna Puring sudah menapaki proses impor sebagai mana mestinya.
Hal yang sebenarnya bermuara pada satu hal: pameran. Isna mengakui, pameran —meski tak melulu soal profit—tapi justru membuka jalan pada pemasaran produk-produk anyamannya.
Misal, kala ia membuka stand di sebuah gelaran musik jazz, seorang pengunjung yang merupakan pengelola kawasan wisata tertarik dengan produk Isna Puring dan seluruh prosesnya.
Oleh pengelola kawasan wisata itu, Isna Puring kemudian dikontrak untuk mengajarkan anak-anak ekspatriat mengayam eceng gondok. Tidak jarang, usai kegiatan pesananan produk Isna Puring datang dari para orang tua yang menjemput anak-anaknya mengayam.
“Jadi produk Isna Puring dikenal lewat banyak cara,” katanya.
Sejak 2018 pula, Isna menuturkan kalau produk-produk anyamannya rutin masuk ke pasar Singapura dan Malaysia. Bahkan kini Isna Puring turut menjajakan produknya melalui kanal digital guna menjangkau pasar yang lebih luas.
Di luar capaian selama ini, Isna sebenarnya hanya menyimpan mimpi sederhana. Saat nanti ia telah tiada, paling tidak Isna sudah meninggalkan sesuatu bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Lebih lagi kini rumahnya telah dianggap sebagai sentra anyaman eceng gondok di Kepri. Hal yang diharapkan terus hidup dan menghidupi banyak orang. (***)



